Berhati-hati kepada Dunia

4905

Oleh : KH. Fahmi Amrullah Hadzik

اَلْحَمْدُ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّابَعْدُهُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَي اللهِ، اِتَّقُوْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah. Haqqo tuqotihi, dengan sebenar-benar takwa. Menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Dan janganlah sekali-kali kita meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan Islam dan khusnul khatimah.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Dikisahkan suatu ketika Fath bin Said al-Mausili, seorang ulama yang zuhud di zamannya, menyaksikan dua anak laki-laki. Kedua anak ini., masing-masing membawa roti. Yang satu, membawa roti beroleskan madu. Sementara yang satu lagi, rotinya tawar tanpa rasa apa pun. Melihat temannya yang membawa roti beroleskan madu, maka dia berbicara pada teman tersebut.

“Beri aku makan dengan rotimu yang beroleskan madu.”

“Aku akan memberikan rotiku, asal kau mau menjadi anjingku.”

Karena sangat berkeinginan memakan roti beroleskan madu, maka si anak pembawa roti yang tawar itu menjawab,

“Baiklah, aku mau menjadi seekor anjing”.

Maka kemudian, anak ini langsung berlaku bagai seekor anjing. Menjulur-julurkan lidahnya. Sementara teman pembawa roti beroles madu, mencuil roti itu dan diikat pada sebuah tali. Lalu secuil roti beroles madu itu diarahkan ke mulut anak yang berpura-pura menjadi seekor anjing sambil ditarik-tarik.

Melihat adegan ini, al-Mausili pun bergumam, “Seandainya engkau ridho dengan roti yang kau miliki, niscaya engkau tidak akan menjadi seekor anjing. Tetapi, itulah gambaran dunia”.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Andaikan yang diperankan dua anak tadi itu menggambarkan dunia. Bagaimana seseorang ini bisa mendapatkan dunia, dia rela, menjadi apa pun. Asalkan dunia dia dapatkan. Mengapa demikian. Karena selama ini kita mengukur kesuksesan seseorang itu memang dari sisi duniawi. Seseorang kita anggap sukses, ketika memiliki harta yang banyak. Seseorang kita anggap berhasil, ketika dia mendapat pangkat yang tinggi. Dan ukuran-ukuran materi yang lain.

Maka tidak salah. Ketika setiap orang pun berlomba-lomba, entah dengan cara bagaimana, asal dia mendapatkan dunia. Tanpa mempertimbangkan ukuran-ukuran kesantunan, syari’at, dan lainnya. Bagi mereka itu tidak penting, asalkan dia mendapatkan dunia yang diinginkannya.

Padahal, ketika mereka berlomba-lomba mengumpulkan harta dunia, kemudian mereka tumpuk-tumpuk,  dan bermegah-megahan. Maka Allah pun menyindir kita,

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُر ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ…..

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kau masuk ke liang kubur….”

Allah telah menyindir kita, bahwa manusia akan selalu bermegah-megahan dengan dunianya. Begitu, baru akan berhenti adalah ketika mereka sudah masuk ke liang kubur. Alias sudah mati.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Maka kemudian, seseorang akan mau menjadi apa pun. Bahkan, harus menantang bahaya sekali pun. Betapa tidak, memang dunia ini menggiurkan. Semisal, untuk menjadi seorang kurir narkoba, yang beberapa waktu lalu digrebek dengan barang bukti satu ton sabu-sabu. Sebagai kurir narkoba saja, itu dibayar sebesar 400 juta. Mungkin, kalau uang 400 juta ditawarkan kepada jamaah semuanya, pasti tidak ada yang menolak, termasuk saya.

  Risalah Tauhid Menuju kepada-Nya

Tetapi ketika melihat resiko yang dihadapi, tentu kita akan berpikir ribuan kali. Untuk menerima tawaran itu. Tapi ternyata, ada juga orang yang menerimanya. Kenapa? Karena dunia. Dan tentu, juga banyak pemimpin yang secara materi mereka sudah mencukupi. Seorang bupati misalnya, pastilah harta sudah berkecukupan. Tetapi kemudian, banyak juga pemimpin setingkat bupati, gubernur, dan seterusnya, yang masih suka main suap-menyuap. Dan yang disuap pun bukan orang sembarangan. Seorang penegak hukum. Seperti kepala kejaksaan, kepala pengadilan, dan seterusnya. Apa yang mereka cari. Harta sudah banyak. Lagi-lagi itu karena urusan dunia.

Kita tidak pernah mengukur keberhasilan seseorang itu dari kesalehannya. Shalatnya tidak pernah kita anggap sukses walaupun salat dia luar biasa. Tetapi, apa yang tampak dari luar adalah ukuran kita menilai seseorang.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sungguh Kami telah menciptakan manusia itu dalam bentuk sebaik-baiknya.”

Diberi akal. Diberi hati. Bertujuan agar berbeda dengan makhluk-makhluk Allah yang lain. Tetapi setelah Allah memuji mengenai penciptaan manusia, kemudian Allah berfirman:

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

“Kemudian Kami kembalikan manusia itu ke tempat serendah-rendahnya.”

Kenapa? Tidak lain karena kerusakan, kemaksiatan yang mereka lakukan. Maka kemudian Allah menyindir kita. Kalau sudah demikian,

 …….أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ۞

Mereka itu seperti binatang ternak. Bahkan lebih sesat daripada binatang. Siapakah mereka? Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Maka hendaknya kita mengingat, secukup apa pun nikmat dan rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Kita harus mempertanggungjawabkan dihadapan Allah.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

Sungguh Kami akan tanyakan kepada mereka, atas nikmat yang mereka megah-megahkan itu”.

Maka tentu, seperti perkataan Sayyidina Ali karramallahu wajhah, “Letakkan dunia itu di tanganmu saja, tapi dalam genggaman saja. Jangan masukkan dunia ke dalam hati. Ketika dunia sudah kita masukkan ke dalam hati, maka bisa saja kita akan menjadi budak dunia”. Ketika kita menjadi budak dunia, seseorang itu akan mentaati tuannya yaitu dunia. Rela melakukan apa saja demi dunia. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Semoga kita dihindarkan dari yang seperti ini. Semoga bermanfaat, khususnya bagi diri saya sendiri dan umumnya bagi jamaah semua.

إِنَّ أَحْسَنَ الْكَلَامِ،  كَلَامُ اللهِ الْمَلِكِ الْمَنَّانِ، وَبِالْقَوْلِ يَهْتَدُ الْمُرْتَضُوْنَ. مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ، وَمَنْ أَسآءَ فَعَلَيْهَا، وَمَارَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيْدِ. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ مِنَ اْلآيَةِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَاسْتَغْفِرُوْا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


*Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng