Tebuireng.online— Dalam acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad, KH. Junaidi Hidayat menyampaikan pesan kepada para santri Tebuireng untuk senantiasa berbahagia karena menjadi santri. Menurutnya menjadi santri adalah kehendak Allah untuk orang-orang terpilih.

“Berbahagialah kalian menjadi santri, karena menjadi santri adalah barang yang mewah, yang tidak semua orang bisa menjadi santri,” ungkapnya di masjid Tebuireng yang juga disiarkan melalui channel youtube Tebuireng Official, Kamis (11/3/21).

Menjadi santri bukan soal uang, akan tetapi karena kehendak Allah. Orang yang menjadi santri adalah orang yang dikehendaki oleh Allah menjadi orang baik.

“Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Fathul Qorib, ada hadis Rasulullah SAW, yang ditulis yang menjadi motto di dalam kitab Fathul Qorib, مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama.” Jelasnya mengutip sebuah hadis.

Menurut Kiai Junaidi, hanya di pesantren yang mampu memberikan pengertian agama secara benar, dan secara mendalam.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kalau di perguruan tinggi orang belajar ilmu agama hanya sekadar untuk kajian. Ilmu agama hanya sebagai kajian keilmuan yang bersifat ilmiah dan belum tentu masuk sebagai amaliyah dalam kehidupan sehari-hari, belum tentu masuk juga di dalam hati,” tuturnya.

Sedangkan kalau dipondok, lanjutnya tidak begitu, santri di pondok terkadang pintarnya belum tapi amaliyahnya sudah baik, seperti rajin jamaah shalat, rajin ngaji.

“Rajin jamaah shalat merupakan perintah Rasulullah. Beliau menegaskan bahwa الصلاة عماد الدين Shalat adalah tiang agama, saya menerjemahkannya sebagai الصَلاَةُ عِماَدُ التَعْلِيْم  shalat tiang pendidikan (pengajaran),” imbuhnya.

Kiai Junaidi menegaskan apabila santri ingin belajarnya sungguh-sungguh, maka tegakkanlah shalat terlebih dahulu, kalau ingin gampang menghafal, belajarnya gampang, maka kata kuncinya ada di shalat.

Beliau menceritakan bahwa dulu Kiai Hasyim tidak pernah meninggalkan mengimami jamaah shalat Subuh. Kiai Hasyim punya tongkat yang setiap pagi digunakan untuk membangunkan santrinya.

“Perintah shalat sangat spesial, langsung diberikan kepada Rasulullah, dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Perintah tersebut melalui sebuah proses, dan dibalik proses ada perjalanan yang panjang,” terangnya.

Orang yang ingin melihat orang baik atau tidak, lihatlah dari shalatnya. Jika kamu ingin mencari istri lihatlah shalatnya, jika setiap hari ia pakai mukenah, dan pakai tasbih yakinlah dia perempuan yang harus kamu kejar sampai dapat. Menurutnya, perempuan yang demikian itu berarti perempuan yang luar biasa.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah Jombang itu, juga memaparkan bahwa shalat adalah tiang untuk membentuk karakter. Allah membangun sebuah sistem syariat dan membangun semua sistem kehidupan manusia agar menjadi manusia yang baik itu terdapat dalam shalat.

“Shalat menjadikan kita orang yang tawaduk, kepala yang begitu kita hargai harus kita tundukkan untuk menghambakan diri kita kepada Allah,” ungkapnya.

Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang keluar dari kebiasaan, antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha itu kalau perjalanan normal dengan memakai kendaraan onta pada saat itu membutuhkan waktu 3 bulan tapi oleh nabi dilakukan tidak lebih dari dua sepertiga malam, itupun sudah sampai perjalanan mi’rajnya.

Abu Bakar mendapatkan gelar As-Shidiq karena beliau adalah orang yang pertama kali mengimani terhadap cerita Rasulullah, tentang Isra’ dan Mi’raj,” ungkap guru di Madrasah Aliyah Tebuireng itu.

Baginya yang mengawal agama adalah ilmu, kemudian diperkuat dengan ekonomi. Karena segala sesuatu diturunkan oleh Allah dengan tugas belajar dan berilmu.

Orang yang punya harta tapi tidak punya ilmu tidak bisa mengawal agama. Pokok punya ilmu harus manfaat, manfaat tidak harus menjadi orang besar, sukses jangan diukur dari jabatan. Ukuran sukses adalah manfaat bukan jabatan tinggi.

“Besok kalau pulang pokok harus mengajar, meskipun yang diulang hanya lima orang, yang diulang hanya anaknya sendiri. Jadi pedagang silakan, jadi pengusaha silakan, tapi jangan meninggalkan mengajar, karena mengajar adalah yang menjadi jariyah kamu, yang menjadi barakah kamu.” Pungkasnya.

Pewarta: Almara Sukma Prasintia

SebelumnyaMemahami Peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad
BerikutnyaKisah Imam Bushiri dan Bait-bait Isra’ Mi’raj