sumber gambar: darunnajah.com

Oleh: Dimas Setyawan*

Manusia sebagaimana fitrahnya, adalah mahluk yang lemah. Meskipun diberikan sebuah kelebihan berupa akal yang mampu menungkap sedikit kekuasaan Allah dan bentuk laku kehidupan selama di dunia. Nyatanya manusia harus mengakui bahwa ia tak luput dari sebuah kesalahan dan khilaf.

Mau tak mau, manusia adalah satu dari sekian banyak yang diciptakan oleh Allah SWT dengan segala kekurangan diantara para mahluk lainnya.

Kita mengetahui bersama bahwa malaikat sebagai salah satu makhluk Allah, diciptakan oleh dzat nur (cahaya) sehingga tidak ada dalam diri malaikat sifat pembangkang dan sifat ingkar terhadap Allah, sehingga malaikat mendapat sebuah predikat sebagai mahluk yang sangat taat atas segala perintah dan larangan yang telah digariskan oleh Allah.

Bertolak belakang dari sifat cahaya seorang malaikat, Iblis diciptakan oleh Allah dengan dzat api. Dzat yang mampu membakar apapun di hadapannya tanpa memandang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Lain halnya dengan manusia. Mahluk lemah ini hanya diciptakan oleh Allah dengan unsur tanah, sehingga ia sangat mudah untuk terbakar oleh gejolak api iblis, dan sangat mudah untuk mendapat sebuah cahaya petunjuk sebagaimana sifat malaikat.

Dikarenakan kedua sifat cahaya dan api dapat merasuk di dalam diri seorang manusia, nyatanya manusia dapat berhasil menjadi sosok yang melebihi ketaatannya dari seorang malaikat tatkala beribadah pada Allah, dan bisa sangat lebih kufur dari setan yang ingkar kepada Allah SWT.

Dikatakan fitrah manusia yang lemah, akan segala bentuk godaan dan lainnya. Maka manusia sangat memperlukan sebuah syafaat (pertolongan) ketika kelak menghadap sang maha kuasa, Allah SWT.

Pertanyaannya yang sangat sering kali kita temukan ialah, adakah syafaat yang akan diperoleh manusia kelak di hari kiamat? Benarkah ada syafaat ketika menghadapi hari hisab (hari perhitungan amal)?

Maka dari itu penulis akan sedikit memaparkan beberapa dalil penguat yang bersangkutan dengan syafaat atau pertolongan. Syafaat adalah pemberian manfaat oleh siapa yang mendapat izin dan rida Allah kepada orang yang diridainya.

Adapaun dasar dalil syafaat ialah sebagaimana firman Allah dalam surat An-Najm ayat 26 yang berbunyi:

وكم من ملك في السماوات لا تعني شفا عتهم شيأ إلا من بعد أن يأذن الله لمن يشاء ويرضى.

“Dan banyak sekali malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah SWT mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridainya,” (QS. An-Najm:26)

Dikuatkan dengan ayat lainnya yang berbunyi:

يو مؤذ لاتنغع الشفاعة إلا من أذن له الرحمن ورضي له قولا

“Pada hari itu tidak bermanfaat syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah maha pemurah telah memberi izin kepadanya, dan dia telah meridai perkataanya.” (QS. Taha: 109)

Dua dalil di atas diperkuat lagi oleh hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh imam Muslim dalam kitab Shahih muslim nya yang berbunyi; “Aku adalah pemimpin keturunan Nabi Adam dihari kiamat, orang pertama yang kuburannya terbuka, orang yang pertama memberi syafaat, dan orang pertama yang syafaatnya diterima.” (HR. Shahih Muslim)

Adapaun untuk menggapai syafaat terdapat beberapa syarat yakni:

Pertama, Allah mengizinkan pemberi syafaat. Kedua, Allah meridai pemberi syafaat, dan ketiga Allah meridai orang yang diberi syafaat. Syafaat terbagi menjadi dua yakni;

1. Syafaat Umum

Syafaat yang Allah izinkan kepada salah satu hambanya yang saleh untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang dikehendaki. Syafaat ini diberikan kepada Rasulullah, para nabi yang lain, dan juga orang-orang saleh.

2. Syafaat Khusus 

Syafaat yang khusus diberikan kepada Nabi Muhammad dan merupakan syafaat terbesar yang terjadi pada hari kiamat tatkala umat manusia dirundung kesedihan dan bencana yang sangat dahsyat. Mereka tidak kuat menghadapi, lalu meminta syafaat kepada para nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Rasulullah.

Tidak ada satu pun nabi yang bisa memberi syafaat melainkan hanya Nabi Muhammad. Beruntungnya kita menjadi umat Nabi Muhammad yang kelak akan mendapatkan syafaat beliau dihari kiamat. Semoga kita semua ditempatkan pada Surga bersama Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Aaamiin…

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang.

SebelumnyaAncaman Bagi Orang yang Tidak Bersyukur
BerikutnyaKH. Hasyim Asy’ari dan Elegansi dalam Berdakwah