Belajar Puasa Bersama Anakku

sumber ilustrasi: www.google.com

Oleh: Firsta Ayu Wardhani*

Ramadan sudah semakin dekat. Alhamdulillah bulan Ramadan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu karena banyaknya pahala dari Allah yang diberikan lebih dari bulan-bulan  yang lain. Itulah kenapa saya juga berusaha memperkenalkan keindahan Ramadan kepada anak-anak saya, terutama si sulung Adara yang sudah mulai mengerti tentang puasa.

Alhamdulillah sejak tahun lalu, setiap kali melihat saya atau suami berpuasa sunnah, Adara selalu bertanya-tanya tentang puasa. Kami berusaha menjelaskan tentang makna puasa dan manfaatnya bagi kesehatan, dalam bahasa yang mudah dipahami. Dimulai dari puasa Senin-Kamis, Adara mulai minta dibangunkan saat sahur. Dari sejak malam sebelum berpuasa dia dan adiknya, Fahim mulai rebut minta dibangunkan sahur.

Dengan penuh semangat sampai mereka tidak bisa tidur. Hahaha.. saat itu Adara berusia lima tahun, sedangkan Fahim berusia tiga tahun. Saat sahur tiba, kami membangunkan mereka seperti yang mereka minta. Tapi, betapa sulitnya bagi mereka untuk bahkan sekadar membuka mata. Hanya menggulingkan badan saja dan menjawab dengan singkat, “ngantuk,..

Tapi dengan kondisi seperti itu, mereka tetap bersemangat untuk minta dibangunkan sahur. Kami sebagai orang tua tuatetap berusaha untuk membangunkan mereka, dengan hasil yang masih sama demi mempersiapkan mereka untuk berpuasa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Semakin mendekati Ramadan, masih belum terlihat tanda-tanda anak-anak akan mulai ingin ikut berpuasa. Tapi kami terus memperkenalkan tentang puasa sekaligus mengingatkan akan datangnya bulan Ramadan. Kami sampaikan bahwa di bulan Ramadan yang istimewa segala kebaikan akan dihitung berlipat dibandingkan bulan biasa.

Memasuki bulan Ramadan, anak-anak belum juga menunjukkan minat untuk bangun sahur dan berpuasa. Tapi di pertengahan bulan Ramadan, Adara mulai menunjukkan minat kembali untuk ikut sahur dan berpuasa. Bahkan saat bangun kesiangan dan terlewat bangun sahur, dia ingin tetap berpuasa. Tapi saya sebagai ibunya yang agak khawatir kalau dia tidak sahur akan kelaparan bahkan untuk puasa setengah hari sekalipun.

Saya menjelaskan ke Adara, “kalau mau belajar puasa sebaiknya bangun sebelum Subuh dulu untuk makan sahur. Nanti saat adzan Dhuhur silahkan berbuka, kemudian diteruskan lagi berpuasa sampai Maghrib.”

Itu rupanya kesalahan saya, dimana seharusnya saya percaya saja pada anak karena mereka pasti sudah tahu kemampuan tubuh mereka. Dan, alhamdulillah guru di sekolahpun mendukung anak-anak untuk belajar berpuasa di sekolah saat tiba waktu makan camilan, anak-anak yang belajar tidak diajak makan bekal seperti biasanya tapi diajak terus bermain untuk melupakan rasa lapar dan haus mereka. Jadi seharusnya dengan kondisi yang baik, anak sudah mau dan sekolah pun mendukung, saya membiarkan saja anak belajar berpuasa walaupun tanpa bangun sahur.

Maka suatu hari di bulan Ramadan itu, saat untuk kesekian kalinya Adara minta berpuasa tanpa terbangun sahur, saya dan suami pun mengabulkan keinginannya. Walaupun saat sahur saya sudah berusaha membangunkan, tapi anak-anak tetap tertidur. Tapi saat bangun tidur, Adara berkata, “Bunda, aku mau puasa. Aku mau sahur sekarang.” Jam menunjukkan jam 06.00 hehe.. tapi karena sudah berniat membiarkan anak belajar puasa, apapun caranya asalkan baik, sayapun tetap mengabulkan keinginannya. Saya beri dia sarapan yang diterima sebagai makan sahur baginya. Makan sahur yang sangat kesiangan.

🤔  Mengenang dalam Diam

Setelah sarpaan itu, saya beri pengertian ke dia bahwa mulai sekarang sampai nanti adzan Dhuhur, Adara tidak makan minum dan marah-marah, “iya, Bunda. Aku ngerti,” katanya. Alhamdulillah. Langkah awal berjalan baik.

Lalu saat akan pergi sekolah, di mana dia biasanya menyiapkan bekal, saya tidak menyediakan bekal dengan penjelasan bahwa dia sedang berpuasa. Adara hanya mengangguk tanda mengerti Alhamdulillah so far so good.

Saat mengantar Adara sekolah, saya jelaskan ke gurunya bahwa Adara sedang belajar berpuasa. Karena itu saya tidak menyiapkan bekal untuknya. Gurunya pun mengerti dan menyampaikan bahwa nanti saat makan cemilan, Adara akan tetap diajak bermain seperti biasa.

Waktu berlalu, saatnya saya menjemput Adara dari sekolah. Saat saya jemput, dia sudah terlihat tidak bersemangat. Tapi saya berusaha biasa saja dan hanya menanyakan kabarnya dengan penuh semangat. Dia hanya menjawab sekadarnya saja. Saya pun lalu berpikir untuk mengajaknya berjalan-jalan sebentar untuk membunuh waktu mendekati adzan Dhuhur.

Tapi baru saja saya mengajaknya ke toserba dekat rumah, dia sudah berkata, “aku laper, Bun.” “Sabar ya sayang. Sebentar lagi sudah bisa buka puasa kok. Kita jalan-jalan aja yuk,” hibur saya. Tapi dia mulai menangis dan merengek. “Aku udah laper banget, udah nahan laper dari tadi Bundaaa..”

Tapi saya tetap berusaha untuk membangkitkan semangatnya dengan berbagai kata-kata yang menghibur. Mulai dari, “kalau kita puasa akan semakin disayang Allah loh…”

“Yuk sambil temenin Bunda jalan-jalan, nanti ilang deh lapernya,”

“Kalau bisa puasa hari ini, nanti kita beli sesuatu ya..”

Ini sudah kalimat pamungkas banget karena saya sebenarnya sebisa mungkin menghindari memberikan iming-iming untuk balasan ibadah anak. Saat di toko serbapun dia semakin merengek dan menunjukkan bahwa dia memang benar-benar lapar. Saya tetap tidak langsung menyetujui untuk berbuka agar tidak membiasakan ada rengekan sedikit maka berarti akan dikabulkan keinginannya. Sepanjang perjalanan pulang, dia mulai diam saja, entah sebagai tanda protes atau memang benar-benar lapar.

Saya rasa sih alasan yang kedua yaitu lapar. Karena memang dia sama sekali belum terbiasa tidak makan camilan atau minum di sela-sela waktu sarapan dan makan-makan camilan atau minum di sela-sela waktu sarapan dan makan siang. Ketika akhirnya sampai kembali ke rumah, dia tetap diam saja. Lalu pelan sekali dia berkata, “bunda, aku bener-bener laper. Boleh nggak aku makan sekarang? Maaf ya Bunda aku nggak jadi puasa,”

Luluhlah saya mendengar kata-katanya. Saya lihat dia sudah berusaha keras. Saya melihat jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, sebenarnya masih ada jeda 2 jam sebelum waktunya berbuka puasa setengah hari. Tapi demi melihat kesungguhan anak saya berusaha, maka saya akhirnya ijinkan dia berbuka. Makanlah dia dengan lahap. Tetap saya jelaskan mengenai puasa dan juga hikmahnya, dengan penuh semangat.

Saya berkata bahwa saya bangga dengan usahanya untuk belajar berpuasa. Dengan penuh semangat juga Adara berkata bahwa dia akan terus mencoba berpuasa. Mudah-mudahan di Ramadan tahun ini kita semua diberi kemudahan. Karena proses belajar berpuasa ini sesungguhnya juga merupakan proses belajar bagi kami, tentang bagaimana membimbing anak-anak kami menyambut Ramadan.

Sumber: Cerita dan Inspirasi Ramadan