sumber ilustrasi: nu.or.id

Oleh: Ust. Ainur Rofiq

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.   (QS. Ibrahim: 37)

Hadirin Jamaah Jumat Rahimakumullah

Dalam kesempatan khutbah kali ini, mari kita senantiasa mari kita meningkatkan takwa kepada Allah Swt. Umat Islam di bulan ini telah berkumpul di Makkah dalam rangka menunaikan ibadah haji, termasuk umat Islam Indonesia. Semoga seluruh umat Islam sedunia –wa bil khusus umat Islam Indonesia- diberikan kelancaran dalam menunaikan ibadahnya.

Bila kita sudah memasuki Idul Adha, maka kita tidak bisa melupakan kisah yang cukup memilukan. Yang diperankan Nabi Ibrahim dan Ismail. Sebelum pada puncaknya menyembelih Nabi Ismail, Nabi Ibrahim telah diuji oleh Allah agar beliau pergi dari Palestina untuk menuju ke Makkah. Perjalanan itu dilakukan oleh Nabi Ibrahim bersama istrinya Siti Hajar, dan anaknya yang masih bayi Ismail. Kurang lebih jarak Palestina ke Makkah yaitu 1000 KM.

Dikisahkan kondisi Makkah pada waktu itu merupakan tanah yang sangat tandus, tidak ada satu orang pun di sana. Air tidak ada, tanaman, bahkan jin pun tidak ada. Sesampai di Makkah Nabi Ibrahim meninggalkan mereka berdua. Tentu siti Hajar amat gelisah dan sedih karena ditinggalkan begitu saja. Sehingga Siti Hajar mengejar Ibrahim, “Hendak ke mana wahai Ibrahim?”. Tapi Nabi Ibrahim tidak bergeming sedikitpun. Tapi Siti Hajar membawa nama Allah supaya Ibrahim berhenti, “Wahai Ibrahim, apakah ini perintah dari Allah?”. Ketika itu Ibrahim menengok dengan jawaban satu kata, “Iya.” Lalu Siti Hajar dengan penuh keimanan dan kemantapan, “Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Lalu kemudian Siti Hajar hidup berdua dengan putra yang masih bayi, juga beberapa kurma seadanya yang cukup dimakan beberapa hari saja. Setelah bekal mereka habis, rasa haus dan lapar mulai menyerang. Ketika itulah Siti Hajar panik, ia lari-lari mencari air dari bukit Safa dan Marwah sampai 7 kali.

Tapi usaha itu sia-sia. Namun ternyata di bawah kaki Ismail telah memancar sumber mata air yang cukup deras. Mulai waktu itu banyak burung-burung yang beterbangan di atas mata air tersebut (zam-zam).  Dan ketepatan ada satu rombongan dari Yaman yang melintas di Makkah. Lalu rombongan tersebut meminta izin kepada Siti Hajar untuk minum. Sebagai imbalannya Siti Hajar diberikan buah-buahan dan harta yang cukup. Sejak saat itu Ismail dan Siti Hajar tidak lagi kekurangan penghidupan. Itulah jawaban dari doa Nabi Ibrahim di atas.

Puncaknya setelah Ismail mendekati usia besar, Ibrahim mendapat ujian besar. Yaitu menyembelih Ismail. Apa pun kecintaan Ibrahim kepada anaknya hal itu harus dilakukan. Perintah itu tetap dijalankan Ibrahim dengan ikhlas. Tapi Ismail diganti dengan seekor domba.

Dari kisah-kisah kehidupan Ibrahim setidaknya ada dua hal yang dapat diambil hikmahnya:

  1. Ketundukan dan kepatuhan seorang hamba dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Meskipun kita harus mengorbankan apa yang kita sukai dan cintai. Contohnya, menonton televisi. Kadang pada saat asyik menonton kita didengarkan dengan kumandang azan. Kita akan dihadapkan pilihan, apakah kita memilih berangkat salat atau tetap pada hal yang kita sukai?
  2. Allah memuliakan hambanya. Karena itu Nabi Ismail tidak dibiarkan disembelih begitu saja oleh Ibrahim. Siapa pun yang tunduk dan patuh kepada Allah pasti diberikan kebahagiaan yang terbaik.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ

وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 Pentranskip: Yuniar Indra

SebelumnyaSampai ke Tanah Lombok, Tebuireng Perluas Syiar Agama
BerikutnyaFalsafah Jawa yang Sesuai dengan Ilmu Tasawuf #2