Oleh: Wildan Faqih*

خَيرُكُم من تعلَّمَ القرآنَ وعلَّمَهُ
Artinya: Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengamalkanya.

Hadis ini mukhotobnya adalah orang-orang mukmin, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa sebaik-baiknya kalian (orang mukmin) adalah orang yang belajar al-Quran dan mengamalkanya. Apakah kita hanya belajar al-Quran?

Maksudnya kita mempelajari semua atau salah satu ilmu yang ada di dalam al-Quran dengan betul-betul memahami dan bisa mengamalkanya dengan baik, tapi sebelum kita mengkaji sebuah ilmu terlebih dahulu kita harus mahir dalam membaca Al-Quran sehingga kita istikamah pada pribadi kita masing-masing untuk membaca Al-Quran setiap hari. Meskipun hanya satu surah atau satu halaman saja. Baru setelah itu, mulai mengkaji sebuah ilmu yang menurut kita mampu di bidang keilmuan tersebut. Sehingga kita bisa menjadi ahlu dzikri di bidang kita masing-masing dan juga bisa mengamalkanya.

Hadis  di atas ini lingkupnya masih sebatas untuk orang mukmin atau orang islam saja, maka terdapat hadis Rasullullah yang lain yakni:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

Bagaimana cara kita untuk bisa bermanfaat kepada semua? Tidak hanya orang beriman saja tetapi juga kepada non muslim, bahkan nantinya non muslim itu masuk Islam karena tingkah laku, teladan, maupun keilmuan yang kita miliki. Yang memberikan hidayah itu hanya Allah, tetapi kita sebagai orang Islam harus menunjukkan nilai-nilai ajaran agama kita dengan perilaku kita.

Agar kita bisa bermanfaat untuk seluruh manusia, kita harus memperbanyak keilmuan kita, khususnya menekuni fan ilmu yang menurut kita di situlah bidang dan keunggulan kita masing-masing sehingga kemanfaatannya akan dirasakan oleh banyak pihak, tidak hanya dirasakan manusia saja tetapi juga bisa dirasakan oleh makhluk-mahluk Allah yang lain.

Satu-satunya kitab suci yang berani menantang dunia adalah al-Quran. Dahulu penduduk Arab jahiliyah ragu dan mengatakan bahwa Al-Quran adalah buatan Rasulullah. Maka turunlah ayat:

فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ

(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya (Q.S. Surat Hud Ayat 13). tetapi mereka tidak mampu. Turunlah kembali ayat:

 فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

Buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S. al-Baqarah ayat 23)

Lalu mereka membuat dengan pembesar-pembesarnya, tetapi apa yang mereka buat itu sudah terjadi dan hal tersebut malah menjadi lelucon. Seperti yang dibuat oleh Musailamah Al-kadzab yang membuat surah yang redaksinya mirip dengan Surat Al-Qoriah tetapi isinya itu sangatlah lucu “Al-fiilu, maa al-fiil, wa maa adraaka ma al-fiil; al-fiilu lahu dzanabun wa tsiilun wa khurthuumun thawiil.”

 

Artinya: “Gajah, apakah itu gajah, tahukah kamu apa itu gajah; gajah mempunyai ekor yang kecil dan belalai yang panjang.”

Bukankah hal ini sangat tidak patut. Berbeda dengan al-Quran yang isinya cerita-cerita terdahulu, cerita-cerita yang akan datang, hukum, tasawuf, fikih dan lain sebagainya. Oleh karena itu, jika seseorang ingin hidupnya bahagia baik di dunia maupun di akhirat maka ia harus mempunyai pegangan dan petunjuk hidup. Seperti orang yang buta ketika berjalan membutuhkan petunjuk agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Maka pegangan hidup bagi seluruh umat adalah al-Quran, karena di dalamnya mempunyai isi yang sangat lengkap.

Al-Quran itu selamanya 30 juz dan tidak akan pernah berubah karena janji Allah di dalam al-Quran:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur`an, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya” (QS. Al-Hijr: 9).

Di dalam ayat tersebut terdapat dua taukid (penguat kata) yakni lam taukid dan nun taukid, dalam ilmu balaghoh jika ada dua taukid maka itu menunjukkan bahwa mukhotob sangatlah ragu, oleh karena itu dalam ayat ini ada dua taukid.

Lalu bagaimana Allah menjaga keautentikan al-Quran? Yakni dengan al-Quran yang dibukukan manusia sehingga menjadi sebuah mushaf al-Quran, dan yang kedua adalah dengan banyak para huffad atau penghafal al-Quran.

Dari sini pula kita mengetahui bahwa kecerdasan seseorang yang sempurna itu adalah:

الضَبِطُ فِي الصُّدُوْرِ وَفِي السُّطُوْرِ

Kecerdasan di dalam hati atau ingatan dan kecerdasan di dalam tulisan.

Jika seseorang hanya memiliki satu saja, maka kecerdasanya belumlah sempurna. Oleh karena itu kita sebagai manusia ketika kita belajar maka dua hal yang jangan sampai ditinggalkan yakni ingatan, dan tulisan. Meskipun kita belum memahami sebuah ilmu yang disampaikan, tetaplah menuliskannya, karena adakalanya futuh pemahaman itu ketika sedang belajar dan adakalanya futuh itu terjadi ketika kita mengajar atau sudah terjun di masyarakat.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaCinta Itu Memerdekakan, Bukan?
BerikutnyaKeistimewaan dan Amalan Hari Asyura