Peran seorang ibu. (Foto: www.google.com)

Oleh: Umdatul Fadhilah*

Manusia diciptakan saling berpasangan. Antara Ayah dan Ibu keduanya memiliki peran masing-masing. Namun kultur membuat pengertian bahwa perempuan dikenal sebatas peran di ranah dapur, sumur, dan kasur. Sebatas itu perempuan jaman dahulu dalam berperan. Munculnya pemahaman tersebut akibat kuatnya patriarkhi, dimana laki-laki lebih dominan dalam menguasai sesuatu. Hal tersebut menjadikan seorang perempuan memiliki batas dalam bergerak.

Seiring berjalannya waktu, istilah tersebut perlahan pudar. Perempuan mulai memiliki posisi-posisi yang dahulu dinilai bukan tempatnya berpijak. Gerakan emansipasi perempuan diteriakkan dari berbagai kalangan. Sehingga perempuan dapat memperoleh haknya seadil mungkin. Perempuan juga bisa menjadi pemimpin. Perempuan juga bisa menjadi jurnalis. Perempuan bisa menjadi tokoh yang memberi banyak inspirasi.

Perempuan dikenal dengan keuletannya, kelembutannya, kerajinannya dalam urusan rumah tangga. Hampir sebagian besar perempuan memiliki peran besar dalam urusan rumah tangga terutama rumah dan anak. Seorang istri menjadi pundak bersandar saat suami lelah bekerja, mencari nafkah untuk dirinya dan sang anak. Namun, majunya emansipasi serta tuntutan yang kian besar dalam perekonomian rumah tangga. Membuat seorang perempuan ikut andil dalam mencari kebutuhan finansial. Tak jarang, seorang perempuan memiliki penghasilan yang lebih besar dari sang suami. Meski begitu, perannya sebagai istri dan ibu tetap ia jalani sebagaimana mestinya.

Tuntutan sebagai ibu rumah tangga dan perempuan bekerja tak jarang menimbulkan sejumlah konflik yang terkadang membuat stres. Namun sejauh ini, peran ganda yang dipikul seorang ibu dapat menangani permasalahan tersebut sehingga tak jarang rumah tangga dan karir dapat berjalan secara harmonis. Tentu tak lepas dari pengorbanan, air mata serta perjuangan seorang ibu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hari ibu yang tercetus tanggal 22 Desember selayaknya menjadi hari spesial. Beribu ucapan serta kejutan diberikan untuk ibu. Namun, sekeren dan semewah apapun, peran ibu tidak bisa kita balas secara sempurna. Maka, cara terbaiknya adalah dengan menghormatinya, memberikannya perhatian serta kasih sayang sebagai seorang anak dan ayah semampu kita.

Apresiasi tersebut juga telah tercantum dalam hadist dari Abu Hurairah ra. beliau berkata, seseorang datang kepada Rasulallah dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali? Nabi menjawab, Ibumu dan orang tersebut kembali bertanya, kemudian siapa lagi? Nabi menjawab, Ibumu! Orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi? beliau menjawab, Ibumu. Orang tersebut bertanya kembali, kemudian siapa lagi, Nabi  menjawab, kemudian ayahmu.” (HR. Bukhari no.5971 dan Muslim no.2548).

Seorang ulama menjelaskan bahwa hadist tersebut menunjukkan dimana kecintaan dan kasih sayang terhadap ibu harus tiga kali lipat lebih besar dibandingkan seorang ayah. Nabi menyebutnya kata ibu sebanyak tiga kali sedangkan ayah hanya sekali. Pengertian tersebut dapat kita pahami dengan argumen kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan dalam melahirkan dan pada saat menyusui hanya dialami oleh seorang ibu, sedangkan ayah tidak demikian. Serta seiring berjalannya waktu peran ibu kian melebar seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahwa tuntutan ekonomi terkadang mau tidak mau, bisa tidak bisa seorang ibu atau perempuan yang sudah berumah tangga ikut andil dalam pencarian finansial. Demi terpenuhinya kebutuhan rumah tangga serta anak yang kian membumbung.

Sudah sepantasnya seorang ibu mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak atas perjuangannya yang disadari atau tidak, diketahui atau tidak, bisa membawa kita sejauh ini, sebagai seorang anak maupun suami berdiri tegak mencapai mimpi-mimpi tak lain tak bukan atas perjuangan beliau dari mengandung, melahirkan, serta merawat. Keberhasilan seorang suami tak jarang juga tergantung bagaimana seorang istri dalam memperlakukan sang suami. Meski begitu, baik ibu maupun ayah, keduanya selalu berjuang dengan perannya masing-masing. Selalu ingat bahwa rida Allah tergantung pada rida kedua orangtua, ialah ayah dan ibu. Membawa putra-putrinya hingga bisa berpijak sejauh ini. Semoga untuk langkah-langkah selanjutnya, segala mimpi dan cita-citamu dapat kita gapai sebagai seorang anak. Terimakasih banyak, untuk seluruh ibu diseluruh dunia.

*Santri Pondok Pesantren Putri Walisongo Jombang.

SebelumnyaPembina Kudaireng Motivasi Dai Mahasantri
BerikutnyaJQH Mojowarno Gelar Jambore Anak Saleh