sumber gambar: kompasiana.com

Oleh: Dian Bagus*

Paling enak rebahan di kasur, nonton youtube sambil makan kuaci. Mungkin itu salah satu contoh tindakan yang biasa dilakukan oleh pemalas. Berbagai studi menunjukkan jika otak manusia selalu memilih opsi yang mengeluarkan energi paling sedikit, otak kita berevolusi seiring waktu untuk menjadi semakin lebih efisien.

Lalu apa yang salah dengan malas? Bill Gates pernah berkata, “saya akan selalu mencari orang malas untuk pekerjaan yang sulit, sebab ia akan mencari cara paling mudah untuk menyelesaikannya.” Sebab sesungguhnya, orang malas lah yang menemukan sepeda karena malas berjalan, eskalator karena malas naik tangga, speaker karena malas teriak-teriak, remote karena malas bolak-balik, dan seterusnya.

Malas ternyata tidak sejelek itu, dan bagaimana memanfaatkan rasa malas sekaligus mengakalinya agar tetap produktif? Disini akan menunjukkan bahwa malas bukanlah musuh utama kita, sebab musuh utama kita adalah ketidak-efisienan dan keribetan yang sering kali kita ciptakan sendiri serta beberapa paradoks dari malas yang harus kita ketahui.

Sesungguhnya relasi antara rajin dan malas adalah sebuah paradoks. Malas mencetuskan rajin sebab malas adalah biang inovasi dan rasa malas mendorong orang untuk rajin mencari terobosan baru. Tapi tentu saja ada rasa malas dan kemalasan dari jenis yang sangat buruk.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hilang motivasi, tak sudi bergerak, tukang makan, tukang tidur, ahlinya menunda adalah contoh-contoh dari yang buruk itu. Itulah yang perlu kita atasi, untuk melakukannya langkah yang paling pertama diantaranya:

Mempermudah dan membuat efisien segala sesuatu yang penting.

Sebagai contoh jika kamu berencana lari pagi setiap hari, maka letakkan sepatu di tempat yang paling mudah dijangkau. Jika perlu, letakkan di samping kamar tidurmu atau pakai sekalian sambil tidur.

Ini dilakukan supaya saat kamu ingin berlari sesaat setelah bangun tidur tidak terlalu banyak proses yang harus kamu lalui yang mana kerap jadi alasan untuk menunda. Semakin pendek proses yang harus dilalui saat ingin melakukan sesuatu, semakin mudah dilakukan maka semakin baik. Lakukan yang sama untuk berbagai hal lainnya, juga untuk mengubah kebiasaanmu.

Menggunakan ilmu yang sama untuk mengurangi hal-hal yang mencetuskan malas, mengalihkan fokus, membuat tidak produktif serta menghalau kebiasaan-kebiasaan buruk.

Sebagai contoh: jika smartphone kerap mengganggumu dan jadi sumber distraksi letakkan di area yang sulit dijangkau, uninstall app yang tidak produktif, sembunyikan aplikasi sosial media berikan password pada foldernya, matikan notifikasi.

Jika perlu gunakan handphone jadul yang lemot supaya kamu stress sehingga malas untuk memainkannya sepanjang waktu. Intinya permudah hal-hal yang penting sehingga rasa malasmu dapat dikalahkan oleh efisiennya dan persulit semua gangguan sehingga keinginan burukmu akan dihalau dengan rasa malasmu.

“Buat kebiasaan buruk jadi lebih sulit dilakukan, Buat kebiasaan baik jadi lebih mudah dilakukan.”

Cara terbaik untuk jadi pemalas

Jawaban untuk menjadi seorang pemalas yang sukses (lagi-lagi) adalah sebuah paradoks. Bangun lebih pagi, cara terbaik untuk jadi pemalas adalah bangun lebih pagi. Jika kamu bangun sebelum jam 6 pagi, silahkan atur waktu bangun 1 jam lebih cepat.

Misalnya: sekarang kamu bangun jam 5, maka bangunlah jam 4. Bila kamu bangun jam sesudah jam 6 pagi maka bangunlah 2 jam lebih awal. Misalnya: kamu bangun jam 8, maka bangunlah jam 6.

Biasakan diri terlebih dahulu, goalmu berikutnya adalah bangun sebelum matahari terbit. Rumus yang digunakan untuk menjelaskan ini cukup sederhana, jika kamu bangun siang maka waktumu akan lebih sedikit. Dengan waktu yang terbatas, kamu bekerja terburu-buru, kamu akan sibuk agar tak terlambat, kamu akan stress dikejar-kejar, dan saat jumlah pekerjaan lebih banyak dari waktu yang ada kamu akan mengalami hari yang buruk.

Sebaliknya, dengan bangun lebih pagi kamu punya waktu yang lebih banyak. Dengan waktu yang lebih banyak kamu dapat bekerja dengan lebih santai tak hanya saat pagi tapi sepanjang hari.

Studi menunjukan bahwa orang yang bangun pagi akan merasa lebih berenergi dan menghabiskan waktu yang lebih sedikit untuk menyelesaikan lebih banyak pekerjaan. Cocok banget untuk orang yang malas bukan?

Berikut beberapa catatan terkait dengan bangun pagi yang dapat kamu jadikan referensi:

Bangun lebih pagi baik untuk spiritual, kamu bisa sembahyang atau ibadah lebih khusyuk, kamu bisa mengucap syukur atau melakukan refleksi. Bangun lebih pagi baik untuk mood dan kebahagiaan, kamu bisa melakukan hal-hal yang kamu suka seperti membaca buku, berita mendengarkan musik, bermain dengan hewan peliharaan, menyirami tanaman atau bahkan joged-joged sendiri.

Bangun lebih pagi baik untuk kesehatan, bangun pagi adalah sesuatu yang baik bagi tubuh. Saat telah jadi kebiasaan, maka kamu pun akan secara otomatis tidur lebih awal dimana pada jam tersebut kualitas tidur merupakan yang paling oke.

Saat bangun lebih pagi, kamu juga punya waktu luang untuk bergerak atau berolahraga, gerakan merapikan tempat tidur ditambah beberapa push up atau lari keliling komplek sudah lebih dari cukup untuk membuatmu bugar dan senantiasa fit.

Jangan kuatir dengan kurang tidur sebab kamu selalu bisa mengambil waktu di siang hari untuk tidur sejenak cukup 15-45 menit untuk re-charge. Ini juga bagus buat kebiasaanmu. Bangun lebih pagi baik untuk pekerjaan, sebanyak-banyaknya dan sepol-polnya yang kamu kerjakan sambil bergadang semua itu akan lebih cepat beres saat kamu kerjakan di pagi hari.

Pagi adalah waktu terbaik bagimu untuk membuat perencanaan, melakukan review, dan mencatat apa saja yang akan kamu selesaikan hari ini. Bangun lebih pagi baik untuk sepanjang hari dengan waktu yang lebih banyak, perencanaan yang lebih matang dengan mood yang positif dan energi yang lebih besar.

Maka, kamu dapat menghabiskan waktu seharian dengan lebih santai. Tim Ferris berkata: “jika kamu memenangkan pagi, maka kamu akan memenangkan hari tersebut. Jadi, jika malas adalah jalan ninjamu dan jalan ninjaku mungkin sekali-sekali kita tak perlu mengatasinya.

Tapi , kita hanya perlu untuk mengakalinya. Mari kita jadi pemalas yang sukses!

*Mahasiswa Unhasy Jombang.

SebelumnyaBulan Kemerdekaan, IKAPETE Gresik Kibarkan Bendera Merah Putih dan NU
BerikutnyaHukum dan Niat Mandi Wiladah