Oleh: Nuris Salasatin Ni’mah*

Sekilas suara dari seberang kerumunan itu membuat jantungku semakin memburu, ingin segera aku beranjak dari tempatku dan melihat kejadian dalam kerumunan itu.

***

Kepalan tanganku masih berada di tempatnya, ingin segera ku ulurkan ludahku pada mereka yang telah mengumpat kami, mereka pikir siapa mereka? Seeneknya saja menertawakan kami yang kelaparan, kami yang terabaikan Negara, kami yang tersisih oleh tikus-tikus kantor, kami yang setiap harinya mendengarkan protes-protes perut agar segera diisi, kami yang kesekian kalinya berpindah-pindah tempat tidur. Dari trotoar satu ke trotoar lain layaknya rumah bagi kami, kami yang hanya punya dua helai baju yang melekat pada kami, yang kini malah semakin tercibir oleh mulut-mulut berserakan para orang-orang berdasi. Mereka tak akan pernah tahu kehidupan kami, dan mungkin bisa di katakan mereka tak akan mau tahu. Roda kehidupan akan terus berputar begini, orang miskin tersisih! Orang kaya semena-mena! Adakah roda kehidupan yang lain, yang harus kami telusuri untuk memutar kisah kami sendiri? Hayalan itu mungkin akan berkoar-koar memutari isi otak kami.

Mungkin ini nasib yang telah di gariskan Tuhan untuk kami, sebesar apapun nyali kami untuk merubah nasib kami, masih tidak bisa menandingi rasa putus asa yang sudah kesekian kali mendarah daging bagi kami. Cerita kami dengan trotoar akan selalu menjadi bukti nyata, bahwa kami adalah penyandang nama “manusia trotoar”. Sudah berapa kali kami terusir oleh tongkat hitam milik orang-orang berseragam hitam. Tapi, lagi-lagi mereka hanya menempatkan kebencian pada kami! Kami di usir! Kami di bentak! Hingga kami terinjak! Jika kami melawan? Hanya lolongan tongkat hitam mengarah pada kami! Bukan memberikan kecerahan pada kami, malah akan menimbulkan gejolak api dalam hati semakin membara.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Apa pedulinya merah putih bagi kami, saat kami sudah tak dimanusiakan oleh manusia. Adakah uluran tangan untuk kami? Tidak! Jika ada, mungkin itu hanya uluran cibiran saja.

Aku yang sudah tak tahan dengan semua ini, ingin protes pada semua orang yang pernah menggunjingku. Ku teriakkan seluruh suaraku yang sepuluh tahun terpendam oleh sandangan “manusia trotoar”.

“Kami bukan manusia trotoar!”

“Kami bukan manusia trotoar!”

“Kami bukan manusia trotoar!”

Mungkin semua orang akan bertambah mencibir kami, tapi tak ada lagi yang bisa kami tunjukkan untuk membela diri kami, aku lah yang akan merubah nasib teman-temanku, aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa kami bukanlah manusia trotoar yang mereka maksud. Mungkin juga, aku akan di anggap gila oleh semua orang! Tapi, biarlah yang terpenting disini adalah, aku bisa meluapkan seluruh amarahku selama sepuluh tahun lamanya. Aku meraung-raung layaknya singa yang tak pernah bertemu secuil daging.

Sekilas cahaya putih muncul di depan mataku, aku terdiam sejenak kemudian ku dekatkan diriku pada bibir jalan dengan teriakan yang masih sama bahwa “kami bukanlah manusia trotoar!” Aku tak akan pernah berhenti bersua sampai orang sudah menyadari bahwa kami juga manusia seperti mereka. Semakin ku lantangkan suaraku! Genggaman tanganku semakin kuat, sepintas mataku remang-remang menyadari mobil-mobil berlalu begitu saja. Mungkin itu karena protesan tubuhku yang ingin segera diisi energi.

Tiba-tiba semua gelap, semua sunyi, semua suara bising mobil sudah berhenti. Kenapa semua diam? Kenapa sudah tak ada protes-protes para tikus kantor kepadaku ? Mungkinkah mereka semua sudah menyadari bahwa kami juga manusia yang harus dimanusiakan? Mungkinkah mereka menyadari bahwa kami juga hidup? Mungkinkah mereka menyadari bahwa kami manusia yang juga membutuhkan nasi seperti mereka ?

Senyumku melebar, senyumku sudah mekar, tapi satu hal yang sangat ganjal ku rasa, mengapa ada kerumunan orang-orang berdasi di tempatku berkoar-koar tadi? Sebenarnya, aku sekarang dimana? Ku dekati mereka, tapi mereka tak menyadari kedatanganku, aku layaknya bayangan, aku semakin merasakan ini hanyalah mimpiku tadi malam. Semakin ku dekati, semakin ku dekati, semakin ku kenal tubuh lunglai yang tergeletak di jalan dengan di kelilingi orang berdasi yang hendak mengulurkan tangan mereka kepada tubuh mungil itu. Setelah tubuh mungil itu terangkat, rasanya aku kenal dengan perawakan itu. Lagi-lagi aku ingin mendekati lagi, ternyata sangat ku kenal jelas wajah itu….

Itu adalah Aku! Aku ada disini! Lantas siapa tubuh lunglai yang berada di antara tangan-tangan orang berdasi? sangat berat ku terima kenyataan ini, aku sudah meninggalkan dunia ini! lantas? Siapa yang akan mengurus mayatku? Siapa yang nantinya mengirimkan doanya kepadaku ? Manusia trotoar lain kah ?]

Ternyata, perkiraanku salah. Mereka para orang berdasi mengemasi tubuh mungilku, merekalah penolong jenazahku, merekalah yang sempat membawaku ke Rumah Sakit, meski akhirnya aku tidak bisa mengucapkan terima kasih kepada mereka secara langsung. Andai semua ini ku ketahui dari dulu, aku tak akan pernah protes pada dunia, bahwa akulah Si Manusia Trotoar. Maka, panggillah aku Manusia Trotoar!

*Mahasiswa Universitas Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang dan Cerpenis Muda Kota Santri

SebelumnyaGus Sholah, Prof. Zahro, dan Arman Maulana Berikan Motivasi Kepada Para Santri Hanifida
BerikutnyaGaleri Toko BPS di lorong pintu masuk makam Gus Dur