Buku Pustaka Tebuireng

Judul Buku       : Ijtihad Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari tenteng NKRI dan Khilafah

Penulis             : Drs. KH. Afifuddin Muhajir, M.A., Prof. Dr. H. Syafi’i Ma’arif, Prof. Dr. M. Mahfud MD., S.H., Prof. Dr. Masykuri Abdillah, M.A.

Editor              : Ahmad Faozan

Penerbit          : Pustaka Tebuireng dan Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari Tebuireng

Cetakan           : I, Maret 2018

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

ISBN                 : 978-602-8805-60-5

Peresensi         : Ikmaluddin Fikri*

Memahami NKRI sebagai rumah tempat kita tinggal, bernaung, tidur, makan, dan tumbuh sehingga menjadi manusia yang sebenarnya merupakan suatu keharusan. Begitu pula sebagai manusia yang beragama, Islam khususnya, tentu tak bisa menjadikan kita tak acuh dengan ajaran dan nilai yang dibawanya. Seorang Muslim tentu harus patuh pada ajaran agama Islam, begitu pula dengan agama yang lain, tergantung pribadi yang menganutnya. Muslim yang patuh akan beribadah sesuai tuntunan Islam, tentunya. Sehingga kelayakan hidup yang dia jalani yang menuntunnya untuk terus beribadah merupakan sesuatu yang harus dia cari.

Menjadi persoalan ketika tempat kita hidup tak bisa memenuhi keinginan kita untuk beragama. Beribadah, satu poin penting dalam agama menjadikan suatu agama tercirikan dan menjadi kebutuhan hidup bagi pemeluknya. Seorang Muslim yang tak bisa beribadah akan merasa gelisah dalam hidupnya, apalagi jika dia seorang yang taat. Itulah yang dirasakan para pejuang kita dalam mendirikan Republik ini, sehingga lahirlah ulama pejuang yang menginginkan kebebasan beribadah dalam hidupnya, terlebih hampir seluruh aktifitas umat Islam merupakan ibadah.

Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari merasakan kehidupan itu, hidup pada masa abad ke-19 sampai akhir abad ke-20, di mana umat Islam hidup dengan tali laso yang mengikat tubuhnya. Tali itu menghinakan mereka seraya menghancurkannya sedikit demi sedikit. Penjajah sebagai pemegang tali tertawa dengan senangnya sambil mencuri manfaat dari mereka. Sehingga tiba waktunya ketika umat Islam bersatu dan melepaskan tali itu, Hadratussyaikh hadir pada waktu itu dengan gebrakan-gebrakannya. Fatwa-fatwanya berikut resolusi jihadnya yang fenomenal menyatukan umat Islam dibawah komandonya dengan diktum membela tanah air melawan penjajah adalah fardhu ‘ain bagi umat Islam.

Negara sebagai penjamin kehidupan beragama ketika penguasa penjajah membelenggu kebebasan itu harus ditegakkan. Berikut sistem yang tertata secara islami juga harus disertakan dalam pondasinya. Yah, setidaknya sampai ketika sila pertama harus diganti demi keutuhan dan persatuan dalam negara yang beragam ini. Sistem yang ijtihadi sudah dirasa cukup dalam negara kesatuan ini.

Perjalanan kehidupan bernegara terus berlalu, kekecewaan terungkapkan, dan pergesekan mulai terjadi dan terus terjadi. Akhir-akhir ini pergesekan itu menguat dengan hasil dilarangnya organisasi pengusung sistem itu, ya khilafah yang diidamkan itu. Pergesekan yang terjadi merupakan kekecewaan atas sila pertama itu, sistem yang harus mereka tegakkan sampai benar-benar kaffah.

Buku ini merupakan hasil seminar yang diadakan oleh Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari Tebuireng dari beberapa pembicara yang terdiri dari Drs. KH. Afifuddin Muhajir, M.A., Prof. Dr. H. Syafi’I Ma’arif, Prof. Dr. M. Mhafud MD., S.H., dan Prof. Dr. Masykuri Abdillah, M.A. Paparan para pembicara mengenai khilafah dan NKRI menurut Hadratussyaikh menjadi sangat menarik terlebih para pembicara adalah para ahli dalam bidangnya.

Buku ini memiliki banyak kelebihan terlebih karena ditulis oleh para pakar yang mumpuni, juga karena ditulis dengan bahasa yang dapat dimengerti dan data-data sejarah yang cukup singkat tapi dapat ditangkap dengan mudah. Data-data yang dipaparkan bisa ditangkap pembaca karena tidak bertele-tele tapi padat akan informasi yang deskriptif. Kekurangan dari buku ini sendiri merupakan sifatnya yang simple, tidak bisa menggambarkan secara keseluruhan karena adanya luasnya pemikiran yang harus dideskripsikan. Sehingga dibutuhkan kematangan dalam menangkap informasi bagi pembaca.

Buku ini cocok dibaca oleh santri, pelajar, ataupun mahasiswa perguruan tinggi yang memang cocok dengan kehidupan intelektual mereka. Sehinnga tidak salah kaprah dalam bersikap tentang adanya sistem negara ini, terlebih pemikiran Hadratussyaikh dan Nahdhatul Ulama.


*Peresensi adalah Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

SebelumnyaTatkala Kiai Hasyim Menegur Seorang Ahli Ibadah
BerikutnyaPerempuan Kesayangan Nabi Muhammad