Sumber gambar: http://blog.santridrajat.com

Muhammad Dimyathi bin Syaikh Muhmmad Amin, yang biasa dipanggil masyarakat dengan sebutan Abuya Dimyati atau mbah Dim. Ia lahir dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah, ia memiliki kecerdasan dan kesalihan sejak ia masih kecil. Ia belajar dari satu peseantren dan pesantren lain, diantaranya pesantren Cadasari Kadupaseng Pendaglang, kemudian pesantren di Plamunan hingga Pleret Cirebon.

Abuya berguru pada banyak ulama sepuh di tanah Jawa, di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul  Chamid, Mama Ahmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dahar Watu Congol, Mbah Nawawi Jejejran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidawi Lasem, dan masih banyak guru lainnya. Dari semua guru-guru beliau bermuara pada Syekh Nawawi Al Bantani, baginya para kiai sepuh memiliki kriteria khalifah dan mursyid yang sempurna.

Abuya Dimyati dikenal sebagai sosok yang kharismatik, tekun, bersahaja, dan sederhana. Kesohoran Abuya Dimyati dalam bidang ilmu dan tasawuf menjadikan Banten tak pernah sepi dengan pencari ilmu maupun tamu, semasa hidupnya ia menjadi gurunya para guru dan kiainya para kiai. Sejak mondok di Watucongol, Buya sudah diminta mengajar teman-teman santrinya oleh mbah Dalhar, begitupun saat ia berpindah di pesantren-pesantren yang lain.

Abuya Dimyati seringkali berpesan kepada muridnya, “jangan meninggalkan ngaji karena kesibukan urusan maupun umurmu.” baginya menuntut ilmu adalah hal yang sangat penting, ia menyerukan “thariqah aing mah ngaji” (jalan saya adalah mengaji). Sebab tinggi rendahnya derajat ulama  dilihat dari bagaimana ia mehargai ilmu.

Baginya hidup adalah ibadah, saat di Kaliwinggu ia mengajar dari pagi sampai dengan menjelang Dhuhur kembali mengajar setelah Dhuhur sampai Ashar dan berlanjut dari Ashar hingga Maghrib, saat waktu Maghrib sampai Isya ia habiskan untuk wirid dan kembali mengajar hingga larut malam dan dilanjutkan dengan ibadah malam qiyamul lail sampai bertemu watu Subuh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketika Abuya Dimyati menginginkan berguru pada KH. Baidlawi Lasem, ia diminta untuk pulang namun ia menolak dengan menjawab, “saya tidak memiliki ilmu.” Pada suatu ketika ia bertemu dengan KH. Baidlawi Lasem memohon warisan thariqah naumun  KH. Baidlawi menjawab, “mbah Dim, zikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitupula dengan shalawat silakan memuat sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa. Tarekat adalah sebuah wadfizah yang terdiri dari zikir dan salawat,” untuk kesekian kalinya lalu KH. Baidlawi menyuruh Buya untuk shalat istikharah dan kembali memnemui KH. Baidlawi, kemudian diijazahi thariqah Asy-Syadiliyah.

Abuya Dimyati wafat pada malam Jumat Pahing 3 Oktober 2003 M / 7 Sya’ban 1424, sekitar pukul 3.00 WIB meninggal pada usia 78 tahun.

Wallahua’lambisoab.


Ditulis oleh Nazhatus Zamani, Mahasiswi Unhasy Tebuireng Jombang. Tulisan ini disadur dari beberapa sumber.

SebelumnyaMusyawarah Guru Takhasus untuk Samakan Persepsi
BerikutnyaManifesto Pesantren untuk Masa Mendatang