Oleh: Aboe wal Kamalia*

 

Dalam setiap hembusan-hembusan kalbu (hati) ada kelembutan menyertainya diselimuti perkara yang ghaib. Lebih lembut dan lebih jernih dibandingkan hembusan yang melalui perkara akal. Demikian uraian umum mengenai nafas dikalangan sufi, sehingga nyaring terdengar sebuah ungkapan diantara para sufi “sebaik-baik ibadah kepada Allah SWT adalah menghitung nafas bersama-Nya.”

 

Dalam pemaknaan ungkapan diatas, adalah sebaik-baik ibadah (perbuatan) yang kita lakukan adalah sebab Allah SWT. Bukan karena mengharap pahala atau surga, bukan sebab takut siksa, dan pula bukan karena mengharap kebaikan yang lain. Lebih jauh lagi nafas yang tidak muncul (berhembus) dari bukti-bukti isyarat tauhid dalam menghadapi kerumitan (urusan), adalah mayat. Hal ini berarti manusia yang bernafas tanpa mengingat Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta dan segala isinya, tak lebih dari zombie atau mayat yang berjalan diatas bumi.

 

Nafas juga berarti ruh, tanpa nafas manusia tak mampu berjalan diatas bumi. Pun demikian para dokter kesehatan memaknai nafas dan tak memungkiri didalam raga manusia bila nafas sudah tak lagi ada, maka itu menjadikan manusia tersebut adalah mayat.

 

Syeikh Abu Ali ad-Dauqqaq berkata, “Bagi orang yang arif (adil, bijaksana, amanah,jujur, dsb), nafas tidak berserah kepada-Nya, karena tidak ada toleransi yang mengalir menyertainya. Sedangkan bagi sang pecinta kepada Allah swt, nafas adalah keharusan. Tanpa nafas, pastilah ia (sang pecinta) akan musnah.”

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
Lebih jauh kita tela’ah perkataan syeikh Abu Ali ad-Dauqqaq, manusia yang arif menyandarkan perbuatannya kepada Allah SWT adalah bukan perkara yang wajib (baginya), namun berbeda dengan (manusia) sang pecinta, dimana segala sesuatu yang berhubungan dengan perbuatan selama ia bernafas, atas dasar karena Allah SWT. Dalam masa yang sekarang dimana ruang nafas cenderung lebih sulit/sukar dikarenakan manusia tak lagi mengacu pada hati (kalbu) dalam setiap tindak-tanduknya. Allah SWT menciptakan hati (kalbu) sebagai tambang ma’rifat kepada-Nya serta menyimpan banyak rahasia bagi manusia yang bisa digali kebaikannya.

 

Hati (kalbu) juga dijadikan Allah SWT sebagai ladang tempat tumbuh subur bagi ke-tauhid-an mereka, agar kita sebagai manusia tak lalai dalam setiap perbuatan. Akankah kita bernafas secara baik? Semoga.

 


*Aboe adalah santri kalong Tebuireng

*Kamalia adalah staff uppt yang juga aktif di Sanggar kepoedang