
Tebuireng.online- Lulusan SMA Trensains Tebuireng angkatan 2026, Soccha Mar’atasyafin, berhasil lolos di program Bachelor of Medicine, Bachelor of Surgery (MBBS) di Hubei Polytechnic University, China. Hal ini baginya, menjadi bukti bahwa konsistensi dan kerja keras mampu mengantarkan seseorang meraih impian.
Baca Juga: Lolos Kampus Internasional, Razfa Santri SMA Trensains Tebuireng Pilih Teknik Sipil di Uzbekistan
Di balik pencapaiannya, terdapat proses panjang yang dimulai sejak kelas XI dengan berbagai persiapan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Dari sejumlah universitas yang ia lamar, hanya dua kampus yang menyatakan dirinya lolos seleksi. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek, Soccha memilih Hubei Polytechnic University sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
“Saya memilih Hubei Polytechnic University karena biaya kuliahnya relatif terjangkau, tetapi kurikulum kedokterannya sudah berstandar internasional. Programnya juga memiliki pemantapan di bidang surgery sehingga membuka peluang bagi saya untuk berkarier di berbagai negara,” ujarnya saat diwawancarai, (14/7).
Selain kualitas akademik, kesempatan belajar di lingkungan internasional sekaligus menguasai bahasa Inggris dan Mandarin menjadi alasan lain yang menguatkan pilihannya. Baginya, pengalaman tersebut akan menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif.
Baca Juga: Dari Trensains Tebuireng ke China, Perjalanan Alicia Mengejar Mimpi Menjadi Dokter
Seleksi masuk dilakukan melalui penilaian transkrip nilai rapor selama SMA serta kemampuan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan sertifikat IELTS maupun TOEFL. Menurut Soccha, prestasi di bidang sains memang dapat menjadi nilai tambah, tetapi bukan penentu utama. Selama calon mahasiswa memenuhi persyaratan akademik dan kemampuan bahasa yang ditetapkan universitas, peluang untuk diterima tetap terbuka.
Persiapan menuju perguruan tinggi luar negeri telah dimulainya sejak kelas XI. Ia aktif mencari informasi mengenai kampus tujuan, memahami persyaratan pendaftaran, sekaligus menjaga prestasi akademik di tengah padatnya aktivitas sebagai santri SMA Trensains Tebuireng.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah keterbatasan waktu. Kesempatan mengikuti kursus TOEFL, IELTS Preparation, maupun tes kemampuan bahasa hanya tersedia saat liburan pondok. Sementara ketika kembali ke pesantren, ia tetap harus fokus mengikuti pembelajaran dan memenuhi target akademik.
“Tantangan terbesar bagi saya adalah membagi waktu. Selama di pondok saya harus fokus mengejar nilai akademik, sedangkan persiapan TOEFL dan IELTS hanya bisa dilakukan saat liburan. Karena itu, ketika di pesantren saya lebih banyak belajar mandiri, mengerjakan mock test, dan berkonsultasi dengan guru bahasa Inggris,” tuturnya.
Selain mempersiapkan kemampuan bahasa, Soccha juga mempelajari karakter setiap universitas yang dilamar. Menurutnya, setiap negara memiliki penilaian berbeda terhadap motivation letter. Karena itu, calon mahasiswa perlu melakukan riset mengenai kampus tujuan dan menjelaskan proses di balik setiap pencapaian, bukan sekadar mencantumkan daftar prestasi.
Keinginannya menempuh pendidikan di luar negeri lahir dari hasrat untuk keluar dari zona nyaman. Ia ingin menguji kemampuan diri dalam lingkungan baru, memahami cara masyarakat di negara lain menyelesaikan berbagai persoalan, serta memperluas wawasan melalui pengalaman lintas budaya.
Baca Juga: Prestasi Gemilang! Santri SMA Trensains Tebuireng Juara 1 Olimpiade Sains USU
Selama proses pendaftaran, dukungan keluarga menjadi kekuatan yang sangat berarti. Sang ibu berperan aktif membantu melengkapi dokumen administrasi hingga proses pengajuan ke berbagai universitas. Ia juga memperoleh pendampingan dari lembaga pendaftaran kampus sehingga setiap tahapan administrasi dapat dijalani dengan lebih terarah.
Bagi Soccha, kehidupan di pesantren bukanlah hambatan untuk meraih kesempatan studi internasional. Justru lingkungan SMA Trensains Tebuireng membentuk karakter disiplin, kerja keras, dan semangat saling mendukung antarsantri. Meski akses terhadap berbagai persiapan terkadang terbatas, ia merasa tidak pernah berjuang sendirian karena selalu mendapat dukungan dari keluarga, guru, dan teman-temannya.
Dalam hal ini, santri asal Madiun itu menargetkan dapat menyelesaikan pendidikan dokter dengan hasil terbaik, memperoleh pekerjaan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, serta melanjutkan spesialisasi di bidang Internal Medicine. Setelah memiliki bekal ilmu yang memadai, ia ingin memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan layanan kesehatan.
Kepada adik-adik kelas yang memiliki impian menempuh pendidikan di luar negeri, Soccha mengajak untuk tidak ragu memulai persiapan sejak dini. Menurutnya, kesempatan belajar di luar negeri terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk terus berusaha.
Baca Juga: Siswi Trensains Tebuireng Raih Medali Perak Geografi di Ajang NSC Nasional
“Study abroad tidak memandang siapa kita atau dari mana kita berasal. Jangan pernah berhenti berusaha, jangan malu bertanya, karena akan selalu ada keluarga, guru, teman, maupun lembaga yang siap membantu. Yang terpenting adalah tetap bekerja keras, mampu beradaptasi, dan terus memberikan manfaat bagi orang lain,” pungkasnya.


















