
Tebuireng.online- SMK Plus Khoiriyah Hasyim Tebuireng menggelar pertemuan ta’aruf (perkenalan) kepala sekolah dan wali kelas bersama para wali santri baru di area pendopo sekolah, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Forum tatap muka ini dioptimalkan untuk membangun komitmen kolektif serta menyamakan persepsi dalam mengawal tumbuh kembang peserta didik.
Kepala SMK Plus Khoiriyah Hasyim, David Sugiarto, S.Pd., M.Si., menegaskan bahwa keberhasilan proses penempaan siswa di sekolah kejuruan membutuhkan keterlibatan aktif dari ekosistem keluarga. Pihak sekolah tidak dapat berjalan sendiri tanpa adanya sinergi dari orang tua sebagai salah satu figur otoritas anak.
“Sebagai figur otoritas, baik orang tua maupun guru, kita harus bersinergi. Sekolah tidak mampu membimbing putra-putri panjenengan sendirian. Program-program sekolah hanya akan terwujud jika ada kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat,” ujarnya.
David memaparkan, orientasi SMK Plus Khoiriyah Hasyim kini tidak lagi terbatas pada penajaman kemampuan akademik dan penguasaan keterampilan vokasi (kejuruan). Mulai tahun ajaran 2026/2027, sekolah meluncurkan langkah progresif lewat penguatan program Sekolah Ramah Anak yang berfokus pada mitigasi kesehatan mental santri serta pendampingan psikologis bagi orang tua.
Langkah ini diambil guna menciptakan ruang belajar asrama yang aman, sehat secara emosional, dan adaptif terhadap tekanan zaman. Pihak sekolah membidik target agar para lulusan tidak hanya menguasai keahlian teknis industri, tetapi juga memiliki ketahanan mental dan fondasi akhlak yang kokoh.
“Mulai tahun ini, kami juga memberikan perhatian pada kebutuhan mental anak dan kebutuhan psikologis orang tua melalui penguatan program sekolah ramah anak. Kami ingin para santri tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan nonakademik yang baik, tetapi juga tumbuh dengan karakter yang kuat, berakhlakul karimah, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” urai David.
Di sisi lain, komposisi motivasi wali santri baru yang memilih SMK Plus Khoiriyah Hasyim menunjukkan adanya kebutuhan konkret terhadap integrasi kemandirian kerja dan kedalaman agama. Lingkungan pesantren dinilai menjadi benteng proteksi terbaik untuk menjaga pergaulan anak di era modern.
Sri Wujianti, wali santri asal Bekasi, menceritakan bahwa keputusan memilih jalur vokasi murni datang dari inisiatif putranya, Kaka Naufal Susilo Wardhana, yang ingin mengasah keahlian spesifik sesuai minatnya. Sebagai ibu, ia memberikan dukungan penuh pada aspek keterampilan praktis ini seraya berharap sang anak mendapatkan keberkahan ilmu di pesantren.
Sementara itu, Suwandi, wali santri asal Gresik, menaruh harapan agar putranya bisa mendalami literasi Islam klasik di samping mengenyam pendidikan formal kejuruan.
“Anak saya sejak awal memang sudah mondok dan ingin melanjutkan ke Tebuireng karena ingin mendalami kitab kuning. Dari sisi orang tua, saya juga ingin memisahkan anak dari pergaulan yang kurang baik agar lebih terjaga. Harapan saya sederhana, semoga anak memiliki akhlaqul karimah dan mahir dalam mempelajari kitab kuning,” kata Suwandi.
Di akhir agenda tatap muka, manajemen sekolah mengingatkan seluruh peserta didik baru agar memanfaatkan waktu studi di Tebuireng secara optimal. Pihak sekolah menggarisbawahi bahwa kecerdasan keahlian kejuruan harus berjalan beriringan dengan keluhuran etika agar ilmu yang diproduksi membawa maslahat bagi masyarakat luas.
Baca Juga: Ta’aruf Santri Baru, SMP A. Wahid Hasyim Tebuireng Terapkan Kurikulum Berbasis Riset
Pewarta: Helfi
Editor: Sutan


















