Sambut 485 Santri Baru, Pesantren Sains Tebuireng Terima Murid Asal Kanada

29
Pesantren Sains Tebuireng secara resmi menyambut kedatangan ratusan santri baru untuk tahun ajaran 2026/2027 di lingkungan asrama, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Foto: irsyad

Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng secara resmi menyambut kedatangan ratusan santri baru untuk tahun ajaran 2026/2027 di lingkungan asrama, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (04/07/2026). Pada periode ini, lembaga mencatat penerimaan sekitar 485 santri putra dan putri yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri.

Representasi sebaran geografis peserta didik baru terpantau meluas, mulai dari lingkup lokal kabupaten, antarprovinsi di luar Pulau Jawa, hingga kedatangan santri yang berasal dari luar negeri, yakni Kanada. Indikator ini dinilai menjadi cerminan dari meningkatnya kepercayaan publik terhadap model integrasi kurikulum sains dan nilai keislaman yang dikembangkan Tebuireng.

Guna memastikan kelancaran alur kedatangan mobilitas massal ini, pihak panitia menyebar beberapa pos layanan taktis di lapangan. Rangkaian prosedur dimulai dari registrasi ulang berkas, verifikasi dokumen administrasi, pembagian kamar, hingga pengantaran logistik santri ke bilik asrama masing-masing yang dilanjutkan dengan sesi ta’aruf.

Dalam pertemuan bersama orang tua, pihak pembina asrama menyosialisasikan komitmen pengasuhan dua arah. “Adapun program dari pondok yaitu air doa yang disampaikan oleh pimpinan. Setiap hari wali santri dianjurkan mendoakan putra-putrinya dengan wasilah air. Kemudian ketika sambangan setelah 40 hari, air tersebut dibawa ke pondok dan diminum oleh santri,” urai Koordinator Pembina SMA Trensains, Ustadz Akris.

Selain sokongan spiritual dari keluarga, pesantren menguji ketahanan mandiri santri melalui program Masa Orientasi Santri Baru (Mosba). Instrumen ini difungsikan untuk mengenalkan regulasi internal, budaya kepesantrenan, serta menanamkan rasa kepemilikan terhadap ekosistem pondok.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Wakil Kepala Pondok Pesantren Sains Tebuireng, Ustadzah Zahrotul Anisah, S.Pd.I, mengingatkan para santri baru agar meluruskan orientasi niat sejak menginjakkan kaki di asrama. Menurut dia, esensi mondok tidak boleh terjebak pada dimensi ruang kelas semata.

“Menuntut ilmu bukan hanya belajar di kelas, tetapi juga membentuk karakter, menjaga adab kepada guru, dan menghormati sesama,” tegas Zahrotul Anisah.

Berbagai dinamika psikologis dan latar belakang emosional mewarnai prosesi serah terima santri baru di lokasi. Deandra, santri baru asal Bojonegoro, menyatakan antusiasmenya dan sengaja membawa foto keluarga ke dalam kamarnya sebagai jangkar pengingat motivasi belajar selama jauh dari rumah.

Sementara itu, Subagio, wali santri asal Palembang sekaligus alumni Tebuireng, mengaku terharu lantaran keputusan masuk pesantren murni lahir dari konsensus pribadi putrinya tanpa paksaan eksternal. “Saya percaya Tebuireng sejak dulu hingga sekarang tetap menjadi pesantren yang baik dan terus menjaga kualitas pendidikannya,” kata Subagio.

Cerita mendalam juga diutarakan oleh Sundari, wali santri dari Aqila (kelas VII). Baginya, menyekolahkan sang putri di Pesantren Sains Tebuireng merupakan bentuk penunaian janji dan pemenuhan cita-cita terakhir dari almarhum suaminya.

“Semoga istiqamah dalam kebaikan dan dapat mengangkat derajat orang tua,” pungkas Sundari di area asrama.


Pewarta: Aulia

Editor: Sutan