
Sutra Merah Muharram
Muharram datang membawa sutra merah yang kelam
benang darah Husein ditenun langit di padang Karbala
setiap helai jadi doa yang sobek
menetes di Efrat yang dikunci musuh kejam
angin jadi saksi bisu
menangis tanpa suara
sementara pasir jadi pena
menulis syahadah abadi
matahari marah
membakar tubuh-tubuh yang lapar
tapi iman mereka gunung
tak runtuh diterpa badai
tanggal sepuluh adalah cermin retak waktu
memantulkan luka Nabi Musa, Nuh, dan para sufi
puasa hari ini benang emas
menjahit hati yang koyak
mengubah duka jadi rahmat yang turun deras
sutra merah itu warisan
Ia berdarah tapi meneduhkan
mengajarkan Kita
tunduk hanya pada sang Esa
Pintu Sepuluh Terbuka
Tanggal sepuluh Muharram adalah pintu yang terbuka lebar
pintu rahmat Allah yang dulu menyelamatkan Nuh dari banjir
kuncinya puasa
anak kuncinya air mata taubat
membuka hati yang lama terkunci oleh dosa
angin Asyura mengetuk lembut jendela jiwa
membisik “pulanglah, ampunan menunggumu”
laut Efrat jadi tinta
menulis kisah Musa yang selamat
sementara Firaun tenggelam dalam angkuhnya sendiri
setiap sujud hari ini benang sutra
menenun luka lama jadi harapan baru
bubur manis di meja tetangga adalah senyum
pemanis luka yang dulu terasa pahit
masuklah
pintunya tidak dikunci untuk selamanya
Bubur Manis Asyura
Di dapur Muharram
bubur manis mendidih pelan
setiap butir beras jadi doa yang mengembang
kacang, kurma, dan gula melebur jadi satu
seperti hati manusia yang belajar bersatu dalam rahmat
sendok kayu adalah pena
mengaduk kisah Nuh yang selamat dari banjir
kisah Musa yang menyeberang laut tanpa jembatan
asapnya naik ke langit
jadi surat cinta untuk langit
tanggal sepuluh adalah sendok besar semesta
menyajikan syukur untuk yang lapar dan luka
manisnya bukan sekadar gula
tapi air mata yang sudah diampuni Tuhan
bagi setetang ke kanan
bagi setetang ke kiri
karena Asyura mengajarkan
bahagia paling nikmat
adalah saat dibagi
bukan saat disimpan sendiri


















