
Penulis: Misbahun Nasor*
Panggilan
Suara itu, tidak datang seperti musik yang megah,
Tapi layaknya bisikan di tengah pasar yang gaduh.
Ia menyelinap di sela keluh dan lelah,
Berbisik “ada rumah yang pintunya tak pernah terkunci.”
Aku mencari bukan diatas awan,
Tapi di dalam nafas yang mulai pendek dan payah.
Saat dahi menekan sajadah,
Semua beban rasanya ingin ku tumpahkan begitu saja.
Panggilan itu tidak butuh jarak,
Ia ada diantara detak jantung dan rasa cemas yang tak pernah usai.
Bukan nyanyian dari jauh,
Tapi pelukan yang terasa hangat saat aku mulai jujur pada diri sendiri.
Di tengah dzikir yang terbata-bata,
Aku tidak berharap emas atau permata.
Aku hanya ingin merasakan tenang yang pelan,
Seperti air dingin yang memadamkan api di kepala.
Panggilan itu sederhana
Ia mengajakku pulang sejenak,
Melepas sepatu,
Beristirahat dihadapan-Nya tanpa perlu pura.
Bangkalan, 12 Januari 2024
Pulang ke Pelukan-Mu
Dulu, jemariku sibuk menulis noda di lembar-lembar kelam,
Tak sadar tinta hitamnya sudah menggenangi seluruh ruangan.
Aku sempat tersesat dalam gaduhnya dunia,
Sampai lupa caranya bicara dengan sunyi.
Lalu di satu malam yang lelah,
Aku pulang dengan lutut gemetar.
Bukan membawa piala, hanya membawa sekeping hati yang pecah.,
Mencari pintu-Mu diantara rimbun masa lalu.
Taubat ini tak semanis embun pagi yang kubayangkan,
Ia terasa seperti kerongkongan yang tercekat do’a,
Seperti air mata yang jatuh tanpa sempat diseka,
Sebuah pengakuan bahwa aku ini lemah tanpa-Mu.
Tak ada lagi jejak Langkah yang angkuh,
Hanya sisa sujud yang lama dan berat.
Aku sedang merajut kembali benang-benang yang sempat kusobek,
Berharap ridha-Mu menjahitnya menjadi selimut yang hangat.
Tuhan, aku sedang tidak mencari surga yang megah dulu,
Aku hanya ingin merasa layak menyebut nama-Mu.
Bangkalan, 09 Maret 2024
Sisa Cahaya di Jemari Malam
Jingga di ujung langit akhirnya menyerah,
Di sapu pelan oleh sisa-sisa lelah yang mulai luruh.
Di sela lemari, ada butiran kayu yang beradu pelan –
Bukan sekedar hitungan, tapi detak jantung yang ingin pulang.
Malam tidak dating dengan gegap gempita,
Ia menyelinap seperti tamu lama yang membawa rindu.
Di sini, saat riuh dunia mulai kehilangan suaranya,
Mulutku tak lagi bicara, tapi hatiku mulai berisik –
Mengeja syukur diantara kantuk yang menggantung.
Ada rahasia yang hanya dimengerti oleh gelap,
Tentang bagaimana sepi terasa begitu penuh.
Bintang diatas sana bukan lagi sekedar hiasan,
Tapi saksi dari bisikan-bisikan pendek yang gemetar,
Mencari jalan menuju langit yang tak bertepi.
Biarlah malam mendekap sisa hari yang patah.
Dalam setiap putaran butir di sela telunjuk dan jempol,
Aku hanya ingin melarutkan sombong,
Sebelum benar-benar lelap dalam pelukan-Mu yang abadi.
Bangkalan, 25 April 2024
Di Sela Riuh, Aku mengeja Nama-Mu
Dunia hari ini terlalu bising, bukan?
Suara-suara menuntut ini-itu,
Seperti ombak yang takt ahu car berhenti.
Maka di sudut kamar yang remang ini,
Aku mencoba mencuri waktu untuk sekedar bernafas,
Meletakkan kepalaku yang berat dihadapan-Mu.
Dzikirku tidak selalu mengalir tenang seperti sungai.
Kadang ia tersendat oleh sisa amarah dan lelah yang belum usai.
Namun di setiap tarikan nafas, aku mencoba mengeja kembali,
Mencari satu titik yang sunyi di tengah kepala yang gaduh.
Ini bukan soal sekedar menggerakkan lidah,
Tapi tentang menenangkan gemetar di dada yang seringkali cemas.
Seperti membasuh luka dengan air dingin,
Setiap lafadz yang kuucapkan perlahan meredam panasnya hari,
Menjahit kembali potongan do’a yang sempat koyak oleh dunia.
Aku tak butuh banyak kata,
Cukup satu dua nama-Mu yang kupeluk erat.
Biarlah diluar sana badai tetap berderu,
Asal di dalam sini, aku punya dermaga kecil untuk pulang.
Bangkalan, 19 Agustus 2024
Tentang Oksigen yang Sering Kulupa
Sering kali, aku hanya bernafas tanpa berfikir.
Udara masuk dan keluar begitu saja,
Seperti tamu yang tak pernah ku sapa di depan pintu.
Baru saat dadaku terasa sesak oleh cemas,
Atau saat langkahku terhenti karena lelah teramat sangat,
Aku sadar: hidup ini Cuma sehelai nafas yang dipinjamkan.
Pagi tadi, saat mataku terasa berat,
Ada udara dingin yang menyelinap masuk ke paru-paru.
Itu bukan sekedar oksigen, kan?
Itu adalah izin dari-Mu untuk aku mencoba sekali lagi,
Memperbaiki kemarin yang mungkin berantakan.
Aku ingin bersyukur bukan dengan kalimat yang muluk-muluk.
Bukan dengan puisi yang rima-rimanya sengaja dibuat manis.
Tapi dengan kesadaran sederhana:
Bahwa setiap kali dadaku naik dan turun,
Engkau sedang menjagaku tetap utuh.
Bahkan saat malam menjadi terlalu sunyi dan gelap,
Dan aku hanya bisa mendengar detak jantungku sendiri,
Aku tahu aku tidak sendirian.
Nafas ini adalah bukti,
Bahwa aku masih diinginkan oleh waktu.
Terima kasih, untuk embusan lagi.
Bangkalan, 12 Desember 2024


















