Goa, Ular, dan Nama yang Disebut Kiai

19
Sebuah ilustrasi cerita

Dua minggu. Waktu yang seharusnya terasa singkat, tetapi bagiku menjadi dua minggu paling melelahkan yang pernah aku rasakan.

Selama itu tubuhku seperti kehilangan kendali. Demam tinggi datang tanpa mengenal waktu, membuatku terus terbaring lemah di atas kasur. Panas tubuhku tidak kunjung turun meskipun sudah berbagai cara dilakukan. Setiap malam, terutama ketika waktu menunjukkan pukul tiga pagi, tubuhku selalu mengalami hal yang sama.

Menggigil.

Bukan sekadar merasa dingin biasa, tetapi seperti seluruh tubuhku kehilangan kehangatan. Tanganku gemetar, gigiku bergemeletuk, dan aku hanya bisa meringkuk di balik selimut sambil menahan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan.

Anehnya, ketika pagi tiba, kondisiku sedikit membaik seolah tidak terjadi apa-apa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Awalnya aku menganggap itu hanya sakit biasa, mungkin karena terlalu lelah, bisa juga karena tubuhku sedang menurun, atau mungkin hanya penyakit yang membutuhkan waktu untuk pulih.

Aku masih berpikir semuanya bisa dijelaskan dengan logika. Namun semakin hari, kondisiku semakin membuat orang-orang di rumah khawatir.

Aku mulai sering muntah. Makanan yang masuk ke tubuhku seolah tidak bisa bertahan lama. Tubuhku semakin lemas, bahkan untuk sekadar duduk dalam waktu lama saja terasa berat.

Melihat keadaanku, orang tuaku mulai tidak tenang, mereka membawaku ke dokter, berbagai pertanyaan diajukan, pemeriksaan dilakukan, obat diberikan. Aku mengikuti semuanya.

Aku berharap setelah itu kondisiku akan membaik, namun beberapa hari berlalu, tidak ada perubahan yang berarti, akhirnya aku dibawa ke rumah sakit.

Saat itu aku masih berpikir positif, aku yakin pasti ada sesuatu yang ditemukan. Mungkin ada penyebab yang belum terlihat sebelumnya.

Semua pemeriksaan dilakukan, darah dicek, kondisi tubuh diperiksa, berbagai kemungkinan dicari, namun hasilnya justru membuat semua orang semakin bingung, normal kata dokter, tidak ada sesuatu yang menjelaskan kenapa aku bisa sakit selama itu.

Aku hanya diam ketika mendengar hasil pemeriksaan tersebut, di satu sisi aku merasa lega karena tidak ada penyakit serius yang ditemukan, namun di sisi lain, aku justru semakin bertanya-tanya.

Kalau semuanya normal, lalu kenapa tubuhku terasa seperti sedang melawan sesuatu?, kenapa setiap pukul tiga pagi tubuhku selalu bereaksi seperti itu?, kenapa aku merasa ada sesuatu yang berbeda?, pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di kepalaku.

Sampai akhirnya orang tuaku memutuskan untuk mencari jalan lain, bukan karena mereka langsung percaya pada hal-hal gaib. Bukan.

Mereka hanya seorang ayah dan ibu yang takut melihat anaknya terus sakit tanpa tahu penyebabnya, mereka membawa aku menemui salah satu kiai desa yang dikenal oleh masyarakat sekitar, seorang kiai yang sering didatangi orang-orang ketika mengalami hal-hal yang sulit dijelaskan.

Awalnya aku tidak terlalu yakin bahkan dalam hati aku masih mencoba mencari alasan yang masuk akal. Sejak dulu aku termasuk orang yang sulit percaya dengan cerita tentang pelet, lintrik, atau santet.

Bagiku, cerita semacam itu sering kali terdengar seperti sesuatu yang dibesar-besarkan. Ketika mendengar seseorang berubah karena kiriman ilmu tertentu, pikiranku selalu mencari penjelasan lain.

“Mungkin memang sedang jatuh cinta.”

“Mungkin hanya pengaruh pikiran.”

“Mungkin sedang mengalami masalah.”

Aku selalu berpikir seperti itu. Karena aku percaya, segala sesuatu pasti memiliki alasan yang bisa dijelaskan. Tapi hari itu berbeda.

Karena untuk pertama kalinya, aku mulai mempertanyakan keyakinanku sendiri, setelah berbicara cukup lama dengan orang tuaku, kiai tersebut akhirnya menyampaikan sesuatu.

Aku masih ingat bagaimana wajah orang tuaku berubah setelah mendengar penjelasan itu. Ada rasa terkejut. Ada rasa takut. Dan ada rasa tidak percaya.

Beliau mengatakan bahwa sakit yang aku alami bukan hanya sekadar sakit biasa, ada sesuatu yang mengikuti, sesuatu yang dikirim oleh seseorang. Awalnya aku ingin menolak percaya, namun ketika disebutkan siapa orangnya, pikiranku langsung tertuju pada satu orang.

Seseorang yang sejak awal memang membuatku merasa tidak nyaman, seseorang yang sebenarnya sudah lama membuat hatiku memberi tanda untuk menjauh.

Sebelum semua kejadian ini terjadi, aku pernah mengalami sebuah mimpi, mimpi yang awalnya aku anggap hanya bunga tidur. Namun setelah aku sakit, mimpi itu terus teringat, sebuah mimpi tentang ular mimpi itu terjadi tepat di hari lahirku.

Di daerah tempat tinggalku, ada kebiasaan yang sudah turun-temurun dilakukan ketika seseorang berulang tahun atau wetonnya tiba. Orang-orang biasa menyebutnya selametan atau bancakan.

Bukan sesuatu yang besar, bukan acara mewah, hanya bentuk sederhana dari rasa syukur dan doa. Kadang dengan membagikan makanan. Kadang dengan bersedekah kepada orang sekitar.

***

Pagi itu, ibuku sudah lebih dulu melakukan kebiasaan tersebut, beliau memberikan sedekah kepada beberapa anak kecil yang kebetulan lewat di depan rumah.

Aku masih ingat ketika ibuku berkata, “Yang penting niatnya berbagi.” Aku hanya tersenyum mendengar ucapan itu.

Menurutku, berbagi memang bisa dilakukan kapan saja tidak harus menunggu hari tertentu. Aku pun melakukan hal yang sama. Sebagian uang sakuku kugunakan untuk mentraktir beberapa teman dan membeli makanan kecil untuk dibagikan.

Tidak ada yang aneh hari itu. Semuanya berjalan seperti biasa. Sampai siang datang.

Cuaca terasa sangat panas. Matahari seperti berada tepat di atas kepala. Setelah aku dan ibuku keluar rumah untuk beberapa keperluan, tubuhku langsung terasa lelah karena terik yang begitu menyengat.

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk kamar, aku menyalakan kipas angin lalu merebahkan tubuh di atas kasur, awalnya aku hanya ingin beristirahat sebentar namun tanpa sadar, mataku mulai berat akhirnya aku tertidur.

Di dalam tidur itu, aku berada di tempat yang sama sekali tidak kukenal sebuah goa besar suasananya gelap, lembap, dan sunyi, dinding-dinding batu menjulang tinggi di sekitarku. Udara terasa dingin. Di tengah goa mengalir sebuah sungai dengan air yang sangat jernih.

Aku berdiri di sana tanpa tahu bagaimana bisa sampai berada di tempat itu aku hanya memperhatikan aliran air yang bergerak perlahan.

Sampai tiba-tiba…

Sesuatu muncul dari arah yang tidak kuketahui. Seekor ular, ukurannya sangat besar, namun bukan itu yang membuatku terdiam melainkan kepalanya karna ular itu memiliki kepala manusia.

Wajahnya tidak terlihat jelas. Namun aku masih bisa mengingat rambut panjang yang jatuh hingga ke bahunya. Anehnya, aku tidak merasa takut. Tidak ada rasa ingin berlari, tidak ada kepanikan.

Padahal jika aku melihat makhluk seperti itu dalam dunia nyata, mungkin aku tidak akan mampu berdiri setenang itu.

Makhluk itu mendekat perlahan, entah kenapa, aku justru mengangkat tanganku. Aku memegang erat kepalanya, tidak ada perlawanan, tidak ada rasa takut seolah aku mengenal sosok itu lalu perlahan suasana berubah.

Tiba-tiba banyak orang muncul di dalam goa. Aku ingin menunjukkan kepada mereka apa yang sejak tadi kulihat. Aku menunjuk ke arah ular tersebut.

“Lihat, itu ular yang tadi.”

“Yang kepalanya manusia.”

Namun ketika aku menoleh kembali…

Aku terdiam.

Karena sosok itu sudah berubah kepala manusianya menghilang, yang tersisa hanya seekor ular besar jauh lebih besar dari sebelumnya tubuhnya memenuhi area goa.

Orang-orang yang melihatnya langsung panik.

“Itu ular besar!”

“Awas, jangan dekat-dekat!”

Aku hanya berdiri diam.

Bingung.

Karena aku yakin apa yang kulihat sebelumnya berbeda. Aku yakin ada kepala manusia, aku yakin aku tidak salah melihat. Tapi kenapa sekarang semuanya berubah?

Sebelum aku menemukan jawabannya, semuanya tiba-tiba menjadi gelap.Aku terbangun.Napas terasa berat. Tubuhku dingin. Bulu kudukku berdiri. Aku duduk di atas kasur sambil mencoba mengingat kembali mimpi itu.

Namun semakin aku berusaha mengingat wajah manusia pada ular tersebut semakin samar wajah itu menghilang seolah ada sesuatu yang perlahan menghapusnya dari ingatanku. Dan aku belum tahu saat itu…

Bahwa mimpi tersebut ternyata memiliki kaitan dengan seseorang yang pernah hadir dalam hidupku, seseorang yang sejak awal sudah membuatku merasa tidak nyaman, seseorang yang ternyata menyimpan alasan sendiri mengapa ia begitu ingin mendekatiku.

Dan mungkin, seseorang yang menjadi awal dari semua kejadian aneh yang kualami.

Aku masih ingin percaya bahwa semuanya bisa dijelaskan dengan cara yang lebih masuk akal, namun semakin aku mengingat kejadian-kejadian sebelumnya, semakin banyak hal yang terasa ganjil.

Termasuk sosok lelaki itu, seseorang yang dulu pernah mencoba mendekatiku dengan berbagai cara, tetapi selalu aku hindari. Bukan tanpa alasan.

Sejak awal mengenalnya, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku merasa harus menjaga jarak. Bukan hanya karena sikapnya, tetapi juga karena aku mengetahui bagaimana ketertarikannya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan ilmu semacam itu.

Hal yang bagiku terasa menakutkan. Hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Aku tidak pernah membenarkan cara seperti itu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, apalagi mendapatkan seseorang.

Bagiku, sesuatu yang dipaksakan tidak akan pernah membawa kebaikan. Aku memilih menjauh. Aku memilih menghindar. Dan mungkin keputusan itulah yang membuat seseorang merasa tidak terima.

Menurut penjelasan yang kami dapatkan, alasan ia melakukan hal tersebut karena sejak dulu ia berusaha mendapatkan diriku, tetapi selalu gagal. Dan penolakan yang terus ia terima membuatnya memilih jalan yang tidak seharusnya.

Aku tidak pernah menyangka seseorang bisa menyimpan rasa tidak suka hanya karena keinginannya tidak terpenuhi, aku tidak pernah menyangka seseorang bisa berusaha menjatuhkan orang lain hanya karena merasa kehilangan apa yang ia inginkan.

Saat itu aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Allah selalu menjaga aku, semoga Allah menjauhkan aku dari orang-orang yang memiliki niat buruk karena terkadang, kita tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hati seseorang.

Setelah itu, aku dinetralkan. Aku diberikan air yang sudah didoakan. Sebenarnya, setiap hari ibuku juga sudah melakukan hal yang sama. Beliau selalu mendoakan air untukku, lalu memberikannya kepadaku dengan satu tujuan sederhana, yakni melindungi anaknya.

Seorang ibu mungkin tidak selalu bisa menjelaskan apa yang terjadi, tetapi hatinya sering kali lebih dulu merasa ketika ada sesuatu yang tidak baik. Aku masih ingat bagaimana wajah ibuku saat itu ada rasa khawatir yang begitu besar.

Bukan hanya karena melihat anaknya sakit, tetapi karena beliau tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih buruk, sementara itu, ayahku diberikan sebungkus garam.

Garam tersebut kemudian dicampurkan ke dalam air di sebuah kendil setelah itu, ayahku diminta untuk menuangkan air tersebut ke seluruh bagian rumah dari halaman depan, sudut-sudut rumah, hingga bagian belakang.

Semuanya dilakukan sebagai bentuk ikhtiar agar rumah kami kembali terasa lebih tenang.

Namun ada satu hal yang membuatku semakin merinding, aku diminta untuk tidak tidur di kamarku selama satu minggu. Karena menurut penjelasan yang kami terima, gangguan tersebut belum sepenuhnya hilang dan masih berada di sekitar rumah.

Awalnya aku merasa takut.

Kamar yang biasanya menjadi tempat paling nyaman untuk beristirahat, tiba-tiba terasa berbeda ada perasaan asing ketika aku melihat pintu kamarku seolah tempat itu menyimpan sesuatu yang tidak bisa aku pahami.

Selama satu minggu itu, aku melewati masa pemulihan, perlahan tubuhku mulai membaik.

Demam yang selama ini datang mulai menghilang, rasa lemas yang membuatku tidak berdaya perlahan berkurang.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa merasakan tubuhku kembali seperti sebelumnya saat itulah aku mulai merenungkan semuanya.

Aku yang dulu selalu menganggap cerita tentang hal-hal seperti itu hanya sebagai sesuatu yang sulit dipercaya, akhirnya mengalami sendiri sebuah kejadian yang membuat pikiranku berubah.

Aku sadar, ada banyak hal di dunia ini yang mungkin tidak selalu bisa dijelaskan hanya dengan apa yang terlihat.

Namun dari semua yang terjadi, satu hal yang paling aku yakini adalah bahwa perlindungan terbaik tetap berasal dari Allah.

Bukan dari manusia. Bukan dari kemampuan seseorang.

Aku hanya bisa terus berdoa agar Allah selalu menjaga langkahku menjauhkan aku dari orang-orang yang memiliki niat buruk dan menjauhkan aku dari kejadian seperti ini, karena aku tidak pernah ingin perempuan lain mengalami hal yang sama.

Kejadian ini mengajarkanku untuk lebih berhati-hati. Dalam berkata. Dalam bersikap.Bahkan dalam berpikir.

Karena terkadang sesuatu yang menurut kita biasa saja, bisa saja menjadi alasan munculnya rasa iri dari orang lain, bukan berarti kita harus takut menjalani hidup.

Tetapi kita harus sadar bahwa tidak semua orang yang tersenyum di depan kita benar-benar menyimpan niat yang sama.

Ada orang yang menerima keberhasilan orang lain dengan tulus, namun ada juga yang merasa tidak nyaman melihat seseorang mendapatkan sesuatu yang baik.

Ketika seseorang sudah dikuasai rasa tidak suka, terkadang ia bisa melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan orang lain. Sejak saat itu aku belajar satu hal.

Tidak semua yang terlihat oleh mata adalah seluruh kenyataan, dan tidak semua yang tidak terlihat berarti tidak ada. Manusia hanya bisa berusaha menjaga diri selebihnya, kita serahkan kepada Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu.