Penyembuh yang Belum Datang

7
Ilustrasi seorang lelaki yang menunggu

Hujan turun tipis malam itu. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang basah. Di trotoar yang lengang, Arga berjalan pelan tanpa tujuan yang benar-benar jelas. Tangannya masuk ke saku jaket, sementara pikirannya mengembara ke mana-mana.

Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja bertemu teman lama yang tak sengaja berpapasan di sebuah kedai kopi. Mereka tertawa, mengingat masa-masa sekolah, lalu berpisah dengan janji yang mungkin tak akan pernah ditepati.

Seperti banyak pertemuan lainnya dalam hidup. Saat langkahnya menyusuri trotoar yang mulai sepi, sebuah kalimat tiba-tiba terlintas di kepalanya.

“Setiap orang yang datang ke dalam hidupmu akan memiliki dua kemungkinan: menjadi luka, atau menjadi penyembuh luka.”

Entah dari mana pertama kali ia mendengar kalimat itu. Mungkin dari sebuah buku. Mungkin dari media sosial. Mungkin juga dari seseorang yang kini sudah tak lagi ia kenal.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dulu ia menganggapnya sebagai kalimat biasa. Terlalu puitis. Terlalu sering diulang. Namun semakin bertambah usia, semakin banyak manusia yang datang dan pergi dalam hidupnya, semakin ia merasa ada benarnya juga kalimat itu.

Karena ketika menoleh ke belakang, hampir semua orang memang meninggalkan sesuatu. Ada yang datang membawa tawa. Ada yang datang membawa pelajaran. Ada yang datang membawa harapan. Dan ada yang datang membawa luka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh.

Arga tersenyum tipis. Ia teringat dirinya yang masih kecil. Saat itu ia percaya bahwa semua orang yang dekat dengannya akan tinggal selamanya. Sahabat akan tetap menjadi sahabat.

Orang yang peduli akan selalu peduli. Dan mereka yang membuatnya nyaman tidak akan pergi begitu saja. Ternyata hidup memiliki aturan yang berbeda.

Ia mulai mengenal perpisahan. Teman yang dulu hampir setiap hari bersamanya perlahan menjadi asing. Orang yang dulu sering bertanya kabar tiba-tiba hilang tanpa jejak.

Ada pula seseorang yang pernah membuatnya menaruh harapan begitu besar, lalu pergi meninggalkan banyak pertanyaan yang tak pernah terjawab. Yang paling menyakitkan, luka-luka itu tidak datang dari orang yang membencinya.

Justru datang dari orang-orang yang pernah ia percayai. Karena musuh tidak memiliki akses untuk menyentuh hati seseorang sedalam itu. Yang bisa melakukannya hanyalah mereka yang pernah diizinkan masuk.

Hujan semakin rapat. Arga berhenti di bawah sebuah pohon besar. Ia memandang jalanan yang berkilau oleh air hujan. Ada masa ketika ia sering bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa orang-orang yang datang justru meninggalkan bekas yang sulit hilang? Mengapa setiap kali mulai percaya, selalu ada alasan untuk kembali berhati-hati?

Mengapa setiap kali mulai membuka hati, selalu ada sesuatu yang membuatnya kembali menutup pintu? Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menemaninya selama bertahun-tahun.

Namun semakin dewasa, ia mulai memahami sesuatu. Mungkin ia juga pernah menjadi luka bagi orang lain. Mungkin tanpa sadar pernah mengecewakan seseorang. Mungkin ada orang yang menangis karena keputusan yang pernah ia buat.

Mungkin ada hati yang pernah retak karena kata-katanya. Bukankah manusia memang saling melukai dan saling menyembuhkan sepanjang hidupnya? Meski begitu, jika harus jujur, Arga merasa lebih banyak bertemu orang-orang yang mengajarkannya kehati-hatian daripada ketenangan.

Lebih banyak bertemu mereka yang membuatnya belajar ikhlas daripada merasa aman. Lebih banyak bertemu ujian daripada jawaban. Karena itulah sering kali ia bertanya dalam hati.

“Apakah penyembuh itu memang belum datang?” Angin malam berembus pelan. Arga melanjutkan langkahnya. Dulu ia membayangkan penyembuh sebagai seseorang yang datang lalu menghapus seluruh kesedihan dalam semalam.

Seseorang yang mampu memperbaiki semua kerusakan yang ditinggalkan masa lalu. Seseorang yang membuat hidup kembali sempurna. Namun hidup mengajarkannya kenyataan yang berbeda.

Tak ada manusia yang mampu menyembuhkan manusia lain secara sempurna. Bahkan orang terbaik sekalipun memiliki keterbatasan. Mereka bisa menemani. Mereka bisa memahami. Mereka bisa menguatkan.

Tetapi mereka tidak bisa menjalani proses penyembuhan untuk orang lain. Langkah Arga melambat. Tiba-tiba muncul pertanyaan yang selama ini berusaha ia hindari.

“Bagaimana jika selama ini aku salah mencari?” Ia terdiam.

“Bagaimana jika penyembuh pertama yang harus kutemukan bukan orang lain, melainkan diriku sendiri?” Pertanyaan itu terasa tidak nyaman.

Karena jauh lebih mudah menunggu seseorang datang dan memperbaiki semuanya. Daripada mengakui bahwa sebagian luka memang harus dirawat sendiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, Arga menerima kenyataan tersebut dengan lapang.

Ia mulai belajar bahwa tidak semua luka membutuhkan balasan. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Tidak semua perpisahan membutuhkan penjelasan.

Ada hal-hal yang hanya bisa diserahkan kepada waktu. Dan kepada Allah. Ketika ia mulai menerima itu, sesuatu yang selama ini dicari perlahan tumbuh dalam dirinya. Ketenangan.

Bukan kebahagiaan yang meledak-ledak. Bukan pula hilangnya seluruh kesedihan. Hanya ketenangan sederhana yang membuatnya mampu melangkah tanpa terus-menerus menoleh ke belakang. Meski demikian, Arga tetap percaya bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang datang sebagai penyembuh.

Bukan seseorang yang sempurna. Bukan seseorang yang menghapus semua luka. Tetapi seseorang yang membuat luka-luka lama tidak lagi terasa sesakit dulu. Seseorang yang melihat seluruh bekas luka itu dan tetap memilih tinggal. Seseorang yang tidak memaksanya menjadi sempurna.

Seseorang yang menerima dirinya apa adanya. Mungkin orang itu belum datang. Mungkin saat ini sedang berjuang menghadapi luka-lukanya sendiri. Mungkin sedang berjalan menuju takdir yang sama tanpa pernah menyadarinya. Dan mungkin itulah alasan Allah belum mempertemukan mereka.

Karena dua orang yang sama-sama terluka tidak selalu membutuhkan pertemuan yang cepat. Kadang mereka membutuhkan waktu untuk tumbuh lebih dulu. Belajar lebih dulu. Dan sembuh lebih dulu. Agar ketika akhirnya bertemu, mereka tidak saling menjadikan satu sama lain sebagai tempat pelarian. Melainkan sebagai tempat pulang. Hujan akhirnya reda.

Di ujung jalan, lampu-lampu kota masih menyala hangat. Arga menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa terburu-buru menunggu seseorang datang. Karena kini ia tahu bahwa perjalanan menuju sembuh juga merupakan bagian dari takdir yang harus dijalani.

Jika Allah mampu menghadirkan orang-orang yang menjadi pelajaran dalam hidupnya, maka Allah juga mampu menghadirkan seseorang yang menjadi penenang. Dan sampai hari itu tiba, tugasnya hanya satu. Tetap berjalan. Tetap memperbaiki diri. Tetap menjaga hati.

Siapa tahu, di ujung jalan yang belum terlihat itu, Allah sedang menyiapkan seseorang yang bukan untuk menambah luka, melainkan untuk membuatnya mengerti bahwa semua luka yang pernah ada tidak pernah sia-sia. Tanpa luka-luka itu, mungkin ia tidak akan pernah mampu menghargai kehadiran seorang penyembuh ketika akhirnya ia datang.