4 Santri Muallimin Tebuireng Lengkapi 30 Santri yang Diterima di Universitas Al-Azhar Mesir

61
Santri Muallimin yang lolos ke Universitas Al-Azhar Mesir. Foto: MMHA

Kabar membanggakan kembali datang dari Pondok Pesantren Tebuireng. Setelah sebelumnya sebanyak 26 santri dinyatakan lolos dan diterima di Universitas Al-Azhar Mesir, kini empat santri dari Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng turut menyusul dan melengkapi jumlah santri Tebuireng yang diterima di kampus bergengsi tersebut menjadi 30 orang.

Keempat santri tersebut adalah M. Muhandis Arrosyadi, A. Azizil Hamid Sya’bani, Hanin M. Jibril Elhada, dan Nabil Elhaq Dahri. Keberhasilan mereka menambah daftar panjang santri Tebuireng yang akan melanjutkan pendidikan ke salah satu pusat studi Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Kepala Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng, Muhammad Yunus, S.H.I., mengaku bangga dan bersyukur atas capaian para siswanya yang mampu bersaing hingga diterima di Al-Azhar Mesir.

“Kami bersyukur dan bangga. Teman-teman lulusan Muallimin bisa bersaing dan melanjutkan studi di luar negeri. Secara linier sebenarnya bisa melanjutkan ke Ma’had Aly, tetapi kami tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan ke tempat lain karena kapasitas Ma’had Aly juga terbatas,” ujarnya saat ditemui tim Tebuireng Online di kantor Madrasah Muallimin.

Menurutnya, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi merupakan langkah penting bagi para santri dalam mengembangkan kapasitas keilmuan mereka.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kami berharap mereka bisa meningkatkan kemampuannya di manapun berada dan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Kalau hanya sekadar lulusan Muallimin saja tentu masih kurang, minimal harus melanjutkan hingga jenjang sarjana,” tuturnya.

Muhammad Yunus juga menegaskan bahwa pihak madrasah siap memberikan pendampingan dan fasilitas bagi santri yang memiliki cita-cita melanjutkan studi ke Al-Azhar maupun perguruan tinggi lainnya.

“Kalau mereka tertarik mendaftar ke Al-Azhar, kami siap mempersiapkan dan memfasilitasi mereka,” tambahnya.

Salah satu santri yang berhasil lolos ke Al-Azhar, M. Muhandis Arrosyadi, mengungkapkan bahwa penguasaan bahasa Arab menjadi persiapan utama yang ia lakukan sebelum mengikuti proses seleksi.

Ia menjelaskan bahwa kemampuan bahasa Arab yang dipersiapkan mencakup maharah qira’ah, istima’, kitabah, dan muhawarah. Selain itu, penguasaan ilmu nahwu dan sharaf juga menjadi bekal penting untuk memahami kitab-kitab berbahasa Arab yang menjadi rujukan utama dalam pembelajaran di Al-Azhar.

Muhandis mengaku bersyukur karena selama menempuh pendidikan di Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng ia telah mendapatkan fondasi yang kuat melalui pembelajaran kitab Jurumiyah, Imrithi, hingga Alfiyah serta berbagai disiplin ilmu bahasa Arab lainnya.

Ia memilih Al-Azhar karena memandang kampus tersebut sebagai salah satu kiblat keilmuan Islam dunia yang melahirkan banyak ulama dan cendekiawan muslim.

“Al-Azhar telah lama menjadi kiblat ilmu agama. Di sana banyak syekh yang alim dalam bidangnya masing-masing. Saya ingin mematangkan ilmu yang telah saya dapatkan selama belajar di Tebuireng,” ungkapnya.

Muhandis juga menceritakan bahwa kedua orang tuanya menyambut kabar kelulusannya dengan perasaan bahagia sekaligus haru. Mereka mendukung penuh keputusannya untuk merantau ke Mesir demi menuntut ilmu.

Adapun tantangan terbesar yang ia hadapi selama proses persiapan adalah menyesuaikan diri dengan jadwal belajar yang panjang untuk menghadapi ujian muadalah atau penyetaraan ijazah menuju Mesir.

Ketika ditanya mengenai harapannya selama belajar di Al-Azhar, Muhandis berharap dapat terus istiqamah dalam belajar, menjaga lingkungan pergaulan yang baik, serta mendapatkan teman-teman yang mampu membawanya pada kebaikan dan pengembangan ilmu.

Sementara itu, Hanin M. Jibril Elhada menuturkan bahwa selain memperkuat kemampuan bahasa Arab, ia juga mempersiapkan berbagai dokumen administrasi seperti paspor, SKCK, surat keterangan bebas hepatitis, serta surat keterangan bebas TBC.

Menurutnya, kesiapan mental dan finansial juga menjadi aspek penting karena para mahasiswa akan menghadapi lingkungan baru dengan budaya, bahasa, makanan, dan karakter masyarakat yang berbeda dari Indonesia.

“Selain itu, saya juga mulai mencicil hafalan Al-Qur’an karena di Al-Azhar terdapat target hafalan Al-Qur’an setiap semester,” ujarnya.

Hanin mengakui bahwa salah satu tantangan yang dihadapi adalah perbedaan bahasa Arab yang digunakan dalam kitab dengan bahasa Arab percakapan sehari-hari. Selain itu, proses pengurusan administrasi untuk studi ke luar negeri juga memerlukan kesabaran dan ketelitian karena melibatkan berbagai tahapan yang tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Di Al-Azhar, Hanin berencana mengambil jurusan Dirasat Islamiyah untuk memperdalam kajian keislaman secara akademik


Pewarta: Albi

Editor: Sutan