
Tatapan Langit yang Tak Pasti
Di langit yang tak pasti, tatapanku tersangkut,
Berjalan di tepi waktu, di tengah perjuangan yang membara,
Di antara debu impian dan harapan yang lebur,
Terlukis siluet takdir yang samar-samar.
Angin menderu, membisikkan pesan tak tertangkap,
Seperti sisa-sisa embun pagi yang melayang,
Kekhawatiran menyusup dalam setiap helaan nafas,
Mengukir bayangan masa depan yang suram.
Kau katakan kepada dirimu, “Teruslah melangkah,”
Namun di dalam dada, pertanyaan meronta:
Apakah langkah ini hanya putaran tanpa akhir?
Apakah perjuangan ini sekadar permainan ilusi?
Di antara bintang yang tak menentu posisinya,
Aku bertanya pada malam yang kelam:
Apakah takdir adalah garis takdir yang tak tertulis?
Ataukah kita adalah penulis yang tak punya tinta?
Di bawah jari langit yang penuh dengan keraguan,
Aku mencari secercah keyakinan,
Namun hanya mendapati kilau pudar,
Seolah langit pun tak tahu arah yang benar.
Kembalilah kepada hati, di saat gelisah menggeletar,
Saat semua tampak kabur dan tak ada jawaban jelas,
Sebab di balik keraguan dan ketidakpastian,
Kita tetap melangkah, meski hanya dalam kegelapan.
Tatapan langit yang tak pasti,
Mencemaskan takdir dalam perjuangan,
Tapi dalam setiap gemericik langkah dan doa,
Kita terus mencari cahaya di ujung malam yang panjang.
Doa yang Mengambang di Langit Sejarah
Di dalam hening malam yang meliputi bumi,
sebuah doa membayang di langit sejarah,
bersembunyi di antara bintang yang berkilau,
menyatu dalam hembusan angin penuh rahasia.
Seorang hamba, dengan tangan terangkat,
mencetak harapan di cakrawala tak bertepi.
Langit seolah merekam desah lembutnya,
di mana setiap helai awan adalah saksi.
Dalam keremangan, bergetar doanya,
sebuah benih yang tersimpan dalam rahim waktu.
Setiap kata adalah benang emas yang ditenun,
di antara jarak, dalam gelombang cemas yang tak terucap.
Berharap pada Tuhan, Sang Pemilik Langit,
dia melukis keinginan di kanvas yang tak pernah pudar,
melalui retakan langit yang dipenuhi misteri,
menyusuri jejak yang belum pernah ditapaki.
Dalam getar cemas, doanya menggantung,
seolah menunggu jawaban dari lembah keabadian.
Setiap butir bintang adalah harapan yang berkilau,
mengabadi dalam gelombang waktu yang tak terjamah.
Dan saat malam mengubah wajah menjadi fajar,
doa itu tetap bersandar di langit yang sama,
dalam sepi, dalam keraguan, dalam keyakinan,
menggantung abadi di langit sejarah yang tak pernah pudar.
Bintang tak Menyapa Takdir
Di malam yang tertutup selimut kelam,
bintang-bintang enggan mengucap salam.
Di langit yang hampa, tak ada cahaya,
seakan takdir menutup diri dari doa yang terucap.
Di bawah kubah yang beku dan tak bernama,
seorang hamba berdiri, membisu dalam cemas.
Dalam keheningan yang menjerat jiwa,
harapan menggantung di tiang-tiang malam.
Bintang-bintang, pengawal malam,
tak menyapa, tak bersinar lembut.
Mereka seperti melarikan diri dari harap,
seakan takut menyentuh jejak takdir yang berdebu.
Dalam keraguan, hamba mencari tanda,
mencoba meretas kegelapan dengan mata penuh bertanya.
Namun hanya bintang-bintang yang diam seribu bahasa,
mengabaikan perasaan yang menjerit dalam sukma.
Setiap detik seolah menjadi masa depan yang menakutkan,
di mana takdir seperti teka-teki tak terpecahkan.
Hamba memandang, mendongak pada langit yang membisu,
merasa terasing di luar batas keyakinan yang rapuh.
Di bawah langit yang bimbang,
doa menyentuh bintang-bintang yang jauh.
Mereka tetap tak bersuara, tetap tak bersinar,
menyisakan hamba dalam kepedihan yang kering.
Dan malam pun berlalu, tanpa penjelasan.
Bintang-bintang tetap tersembunyi dalam kesunyian.
Hamba melangkah dalam gelap, meraba takdir,
dalam keyakinan yang tertanam, meski tanpa pencerahan.
Penulis: Novi De
Editor: Rara Zarary


















