Gema Takbir dan Festival Bedug Tebuireng Disambut Antusias Ribuan Warga

39
Jajaran Mudir dan pengurus Pesantren Tebuireng bersama perangkat desa saat meresmikan pembukaan Takbir keliling dan festival bedug di Pesantren Tebuireng (foto: irsyad)

Tebuireng.online— Suasana malam takbir Idul Adha 1447 H di Kawasan Makam Gus Dur (KMGD) dan Museum Islam Indonesia Tebuireng pada Selasa (26/5/2026) berlangsung meriah. Gema takbir dan Festival Bedug yang digelar Pesantren Tebuireng berhasil menarik antusias santri, warga, hingga pendatang dari luar daerah.

Baca Juga: Festival Bedug Pesantren Tebuireng 2026, Ini Daftar Juaranya

Berbagai kelompok peserta tampil dengan kreativitas masing-masing, mulai dari miniatur bertema filosofi, kostum unik, hingga iringan bedug yang kompak. Penonton pun memadati area sepanjang jalur festival untuk menyaksikan penampilan para peserta.

Imroatus, warga Cukir Timur Sungai Burung Merak, mengaku senang karena kegiatan takbir keliling kembali digelar setelah sempat vakum beberapa tahun.

“Alhamdulillah senang banget setelah off tiga tahun. Dari pondok juga diingatkan kalau mulai jangan terlalu malam,” ujarnya. Ia menyebut rombongannya berjumlah sekitar 70 orang.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Antusiasme juga datang dari mahasiswa asal Tangerang, Fufu, yang sengaja menunda kepulangannya demi menyaksikan acara tersebut. Mahasiswa KPI Universitas Hasyim Asy’ari itu mengaku suasana seperti ini jarang ditemui di daerah asalnya.

Baca Juga: Doa Bersama dari Tanah Suci, Pesantren Tebuireng Gelar Zoom Bersama Pengasuh Saat Wukuf di Arafah

“Di Tangerang nggak ada yang kayak gini. Saya naik kereta buat sidang Unhasy, tapi memang sengaja nggak balik dulu buat nonton ini,” katanya.

Suasana ramainya takbir keliling dan festival bedug di Kawasan Makam Gus Dur (KMGD) Tebuireng Jombang

Sebagai pengurus pondok putra, Dimas Setyawan menjelaskan bahwa peserta festival tahun ini memang tidak sebanyak biasanya karena santri kelas akhir SLTP dan SLTA telah lulus beberapa hari sebelumnya.

“Peserta hanya diikuti sebagian santri. Untuk diniyah masih ada dari Ponput, Ponputra, dan Al Faros,” jelasnya.

Baca Juga: Ibadah Kurban dan Teladan Kesabaran Nabi Ismail

Ia juga menambahkan bahwa pembukaan acara tidak dilakukan langsung oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz. Sementara itu, wilayah Tebuireng Jombok dan Kerdamben mengadakan kegiatan masing-masing.

Kemeriahan festival turut menarik perhatian pengunjung dari luar pulau. Fitra dan Khusnul asal Sulawesi mengaku penasaran dengan tradisi tersebut dan terkesan dengan kekompakan peserta.

“Penasaran aja, keren sih. Kompak, prepare mereka juga oke banget,” ujar Fitra.

Dari sisi peserta, berbagai kelompok juga membagikan proses persiapan mereka. Agung dari Pondok Pusat Unit SMP AWH menyebut timnya melakukan persiapan selama dua hingga tiga minggu dengan jumlah peserta sekitar 250 orang.

“Harapannya untuk memeriahkan acara,” katanya. Ia menambahkan bahwa tahun ini merupakan kali kedua mereka mengikuti festival.

Sementara itu, Chondro dari Madrasah Aliyah Tebuireng mengatakan kelompoknya mengangkat tema filosofi kematian dengan persiapan selama dua minggu.

“Pesertanya sekitar 450 orang,” ujarnya.

Baca Juga: Berbagi Kurban Wujud Peduli Kemanusiaan di Tengah Ketimpangan

Peserta lain, Ibu Nabila dari RW 10 Tebuireng, mengusung tema kuda terbang dengan persiapan sekitar dua hingga tiga minggu. Kelompoknya terdiri dari sekitar 120 peserta dan telah mengikuti takbir keliling sejak sebelum pandemi Covid-19.

Sedangkan Ahmad dari Gang 2 RW 5 memilih tema super hero. Ia mengatakan kelompoknya mempersiapkan acara selama satu bulan dengan jumlah peserta sekitar 40 orang, “Sudah tiga tahun ikut takbir keliling,” katanya.