
Kitab Tanwīr al-Ḥawālik merupakan ringkasan dari syarah al-Muwaṭṭa’ yang berjudul Kasyf al-Mughaṭṭā fī Syarḥ al-Muwaṭṭa’. Dalam kajian ilmu hadis, kitab ini termasuk dalam kategori syarah tingkat menengah (wasīṭ), yaitu syarah yang memuat sejumlah unsur penting seperti penjelasan kaidah bahasa, makna leksikal, istilah, status hadis, penjelasan kata per kata atau per kalimat, pembahasan kata-kata gharib, serta pemaparan pendapat mazhab dan unsur lainnya.[1]
Baca Juga: Jejak Sanad Kitab Sahihain di Pesantren Tebuireng
Kitab ini ditulis sebagai bentuk apresiasi terhadap khazanah kitab-kitab hadis melalui metode ta‘līq (komentar). Hal ini terlihat dari upaya al-Suyuthi memberikan catatan atas al-Muwaṭṭa’, sebagaimana yang juga ia lakukan terhadap Ṣaḥīḥ al-Bukhari dan Ṣaḥīḥ Muslim. Namun demikian, cakupan syarah dalam Tanwīr al-Ḥawālik lebih luas dibandingkan sekadar ta‘līq.[2]
Kitab al-Muwaṭṭa’ karya Imam Malik (93 H/712 M–179 H/789 M) sendiri merupakan salah satu karya tertua dari abad ke-2 Hijriah yang masih dapat dijumpai hingga saat ini. Penamaannya didasarkan pada dua alasan, yaitu karena disusun untuk memudahkan pemahaman umat serta karena telah mendapatkan persetujuan dari 70 ulama Madinah sebelum disebarluaskan.[3] Bahkan, menurut Abu Bakar bin al-‘Arabi, al-Muwaṭṭa’ merupakan sumber pertama hadis sahih sebelum Ṣaḥīḥ al-Bukhari.
Adapun pengarang Tanwīr al-Ḥawālik adalah Jalal al-Din al-Suyuthi, yang memiliki nama lengkap Abu al-Faḍl Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman bin Kamal Abi Bakr Muhammad bin Sabiq al-Suyuthi al-Syafi‘i. Ia lahir pada malam Ahad bulan Rajab tahun 849 H dan wafat pada tahun 911 H. Sejak usia dini, ia dikenal sebagai sosok yang cerdas dan telah menghafal al-Qur’an secara sempurna pada usia sekitar delapan tahun. Ia juga menghafal berbagai kitab penting seperti al-‘Umdah dan Minhaj al-Fiqh. Dalam menuntut ilmu, ia melakukan perjalanan ke berbagai wilayah, di antaranya Syam, Hijaz, Yaman, dan Hindustan.
Baca Juga: Mengenal Kitab Tafsir Kasyf Wa Al-Bayān Karya Al-Tha‘labī
Dalam pensyarahannya, al-Suyuthi mengikuti sistematika al-Muwaṭṭa’ secara literal dengan membagi pembahasan ke dalam kategori kitab dan bab. Setiap kitab memuat hadis-hadis yang berkaitan dengan tema tertentu, sedangkan setiap bab berisi pembahasan yang lebih spesifik. Meskipun terdapat beberapa inkonsistensi dalam penyebutan kitab, pembahasan tetap berjalan dengan penyebutan tema (bab) dan uraian hadis.
Dalam menjelaskan matan hadis, al-Suyuthi menempuh beberapa langkah, yaitu merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an, melakukan takwil dengan mengutip pendapat para ulama, mengontekstualisasikan hadis dengan kondisi sosio-kultural saat disabdakan, mempertimbangkan pandangan ulama dalam persoalan fiqh, serta mengungkapkan faedah atau hikmah dari hadis. Namun, langkah-langkah tersebut tidak selalu diterapkan secara menyeluruh, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan penjelasan.
Kitab ini memiliki beberapa karakteristik penting, di antaranya penggunaan metode takhrij untuk menelusuri sanad hadis sehingga dapat dipastikan kesinambungan riwayatnya dan dijadikan hujjah, khususnya dalam bidang fiqh. Selain itu, kitab ini juga menggunakan pendekatan tematik (maudhu‘i), meskipun tetap berada dalam kerangka syarah analitis (tahlili) yang bersifat global (ijmali). Dalam menghadapi perbedaan pendapat fiqh, al-Suyuthi cederung bersikap moderat (tawassuṭ), walaupun secara pribadi ia bermazhab Syafi‘i.
Metode yang digunakan dalam penyusunan kitab ini adalah metode ijmali bi al-ma’tsur (berbasis riwayat), dengan sesekali menggunakan metode muqaran melalui perbandingan pendapat para ulama. Selain itu, pendekatan historis juga digunakan untuk memperkaya pemahaman terhadap hadis. Sistematika penyusunannya mengikuti kitab induknya, yaitu al-Muwaṭṭa’, yang terdiri dari 61 kitab (bab besar) dan 1824 hadis, dimulai dari pembahasan waktu-waktu salat hingga pembahasan tentang nama-nama Nabi Saw.
Baca Juga: Menggali Warisan Kiai Hasyim Melalui Lomba Baca Kitab Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim
Dalam praktik pensyarahan, al-Suyuthi lebih mengutamakan riwayat dibandingkan pendapat pribadinya. Hal ini terlihat dari banyaknya rujukan kepada para ulama seperti Ibnu Hajar, al-Nasa’i, dan al-Zuhri, yang menunjukkan bahwa corak pensyarahan pada masa itu memang berbasis riwayat.
Secara umum, Tanwīr al-Ḥawālik belum dapat dikategorikan sebagai karya terbesar (masterpiece) al-Suyuthi dalam bidang hadis. Namun demikian, kitab ini memiliki nilai metodologis yang penting dalam membantu pembaca memahami hadis-hadis Nabi, khususnya yang terdapat dalam al-Muwaṭṭa’. Penyajiannya yang ringkas dan sistematis menjadikannya mudah dipahami serta cukup populer di kalangan pelajar dan pemerhati hadis.
Penulis: Muhammad Fatkhun Ni’am (Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang)
[1] A. Hasan, Jurnal Teologia, Vol. 19 No. 2, Juli 2008, hlm. 352–353
[2] Jaya Rukmana, Metodologi Syarah Hadis Nabi Saw
(Telaah Kitab Tanwīr al-Ḥawālik ‘alā Muwaṭṭa’ Mālik), AL-ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies)
[3] Muhammad Abu Zahwu, al-Ḥadīth wa al-Muḥaddithūn, Mesir: Matba’ah a;-Ma’rifah, hlm. 246


















