
Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng kembali mengukuhkan komitmennya dalam menjaga tradisi intelektual Islam melalui kegiatan Khataman Kitab dan Ijazah Sanad Shahih Bukhari, Selasa (10/03/2026). Bertempat di serambi Masjid Utama Tebuireng, agenda tahunan ini diikuti oleh ratusan santri dan peserta dari berbagai penjuru daerah.
Kegiatan ini merupakan upaya pelestarian warisan keilmuan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Tradisi pengajian “kilatan” kitab hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim secara bergantian setiap tahunnya menjadi amaliah ilmiah yang tak terputus sejak masa pendiri Tebuireng tersebut.
Ketua Panitia, Ustadz Ali Muksi, S.Ag., M.H.U., menegaskan bahwa ijazah sanad bukan sekadar formalitas, melainkan penjaga autentisitas ilmu agama. Tanpa sanad, seseorang berisiko menyampaikan ilmu tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Melalui kegiatan ini, kita menjaga hubungan keilmuan dengan Hadratussyaikh serta menjadi wasilah untuk tabarruk (mencari berkah) kepada guru-guru beliau. Sebagaimana ungkapan: Lawla al-isnad la qala man sya’a ma sya’a (Jika bukan karena sanad, maka siapa saja akan bicara apa saja yang dia inginkan),” ujar Ustadz Ali Muksi.
Tahun ini, tercatat sebanyak 777 peserta mendapatkan ijazah sanad. Selain santri internal Tebuireng, peserta juga datang dari kalangan umum yang ingin menyambungkan silsilah keilmuan hadis mereka hingga ke Rasulullah SAW melalui jalur para masyayikh Tebuireng.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan kitab Risalah fi Fadhilah Ahli al-Hadits wa Syarafihim yang dipimpin oleh Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Dr. KH Ahmad Roziqi. Puncak acara ditandai dengan prosesi pengijazahan sanad secara langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin).
Dalam mauidhoh hasanah-nya, Gus Kikin mengingatkan kemuliaan bulan Ramadan sebagai momentum turunnya Al-Qur’an dan hadirnya Lailatul Qadar. Beliau mengajak seluruh santri untuk totalitas dalam beribadah tanpa merasa berat atau pamrih.
“Di bulan suci Ramadan ini, Allah memberikan anugerah yang sangat besar bagi umat Nabi Muhammad SAW berupa malam Lailatul Qadar. Maka, jangan hitung-hitungan dengan Allah dalam beribadah kepada-Nya,” tegas Gus Kikin.
Di akhir kegiatan, panitia berharap prosesi ini menjadi pemantik semangat (himmah) bagi para santri untuk terus mendalami ilmu agama. Tradisi mengaji hadis diharapkan tidak hanya semarak pada momentum Ramadan saja, tetapi mendarah daging dalam keseharian santri.
Baca Juga: Penutupan Pengajian Ramadan, Gus Kikin Sampaikan Pesan-pesan Penting Ini
Pewarta: Fatih Maulana
Editor: Sutan


















