
Tebuireng.online- Pesantren Sains (Trensains) Tebuireng resmi menutup rangkaian kegiatan pengajian Ramadan 1447 H di Masjid Salahuddin Al-Ayyubi, Sabtu (07/03/2026). Agenda tahunan ini dihadiri langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), jajaran Mudir, serta ratusan santri dan pembina Pesantren Sains Tebuireng.
Acara yang berlangsung khidmat sejak pukul 16.30 WIB ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan dilanjutkan dengan laporan capaian kajian kitab selama bulan suci.
Kepala Pondok Pesantren Sains Tebuireng, Ustadz H. Arif Khuzaini, melaporkan bahwa selama Ramadan para santri telah menyelesaikan pengajian bandongan untuk empat kitab kuning. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah kitab Fadhailul A’mal yang dikaji secara kontekstual.
“Ini merupakan manifestasi dari prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Kita menjaga tradisi lama yang baik sambil mengambil inovasi baru yang lebih baik. Harapannya, santri Trensains kelak menjadi ilmuwan hebat yang tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren,” ujar Ustadz Arif.
Mudir III Pesantren Tebuireng, H. Lukman Hakim, B.A., memberikan pesan khusus terkait masa libur santri. Ia menekankan bahwa kebiasaan baik yang telah dibentuk di dalam asrama harus tetap terjaga meski santri berada di rumah masing-masing.
“Salam ta’dzim untuk para orang tua. Apa yang dibiasakan di pondok hendaknya tetap diimplementasikan di rumah, terutama dalam menjaga akhlakul karimah. Kedisiplinan untuk kembali ke pesantren tepat waktu juga merupakan bentuk penghormatan santri terhadap ilmu,” tutur H. Lukman Hakim.
Dalam mauidhoh hasanah-nya, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menguraikan keagungan Ramadan sebagai bulan diturunkannya al-Quran. Beliau mengutip perumpamaan bahwa jika al-Quran diturunkan kepada gunung, niscaya gunung tersebut akan hancur karena takut kepada Allah SWT.
“Ini menunjukkan betapa agungnya al-Quran. Oleh karena itu, liburan jangan dijadikan ajang ‘aji mumpung’ untuk bermalas-malasan. Ibadah dan interaksi dengan Al-Qur’an tetap harus dijaga dengan baik,” tegas Gus Kikin.
Beliau juga mengingatkan para santri untuk memaksimalkan ibadah di hari-hari terakhir Ramadan guna mengejar keutamaan Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Gus Kikin, dilanjutkan dengan prosesi buka puasa bersama dan ramah tamah antara pengasuh, pengurus, dan seluruh santri Pesantren Sains Tebuireng.
Pewarta: Aulia Rachmatul Umma
Editor: Sutan


















