Gelar Sahur Kebangsaan, Bu Shinta Nuriyah Ungkap Seruan Kuat Merawat Demokrasi

58
Ibu Nyai Shinta Nuriyah saat menyampaikan orasi kebangsaan di panggung sahur keliling yang diinisiasi oleh GUSDURian Jombang (foto: bass)

Tebuireng.online— Kehadiran Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menjadi magnet sekaligus pesan utama dalam Sahur Kebangsaan bertajuk “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi” yang digelar oleh Gusdurian Jombang, di PP Khoiriyah Hasyim Seblak, Sabtu dini hari (1/3/2026). Di tengah situasi bangsa yang menghadapi beragam bencana serta dinamika demokrasi yang kerap memanas, Bu Shinta kembali menegaskan komitmennya untuk hadir bersama kaum marginal, lintas iman, dan masyarakat akar rumput.

Kehadiran istri mendiang Presiden ke-4 RI itu disambut hangat para santri, pengasuh pondok, tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah daerah, komunitas lintas budaya dan lintas iman, hingga masyarakat sekitar. Sosoknya bukan sekadar tamu kehormatan, melainkan figur yang selama lebih dari dua dekade konsisten menjadikan sahur bersama sebagai ruang merawat kemanusiaan dan persaudaraan kebangsaan.

Baca Juga: Sahur Bareng Bu Shinta Abdurrahman Wahid, Gusdurian Jombang Angkat Tema Kebangsaan

Dalam tausiyahnya, Bu Shinta membuka dengan ungkapan syukur karena masih diberi kesempatan menjalankan tradisi sahur bersama yang telah ia lakukan sejak masa di Istana Negara. “Dengan inayah Allah, pagi ini saya masih bisa melakukan kegiatan yang sejak dahulu saya jalani, yakni sahur bersama kaum marginal dan dhuafa,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa kebersamaan bukanlah sesuatu yang sederhana. Menghadirkan sahur bersama, menurutnya, membutuhkan kesungguhan, tenaga, dan dukungan banyak pihak. “Apa makna dari bersama? Untuk melakukan sahur bersama ini tidak mudah. Perlu kebersamaan yang nyata, bukan sekadar simbol,” ujarnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam refleksinya, Bu Shinta juga menyinggung kemajemukan Indonesia. Ia mengingatkan bahwa bangsa ini terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama, termasuk komunitas penganut Baha’i yang telah hadir sejak masa penjajahan dan ikut berkontribusi dalam sejarah kebangsaan. “Mereka hidup berdampingan bersama kita. Perbedaan adalah kenyataan yang tidak dapat diingkari,” katanya.

Menurutnya, perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk memecah belah bangsa. Ia menegaskan bahwa kompetisi politik merupakan hal wajar dalam demokrasi, tetapi tidak boleh mengorbankan persatuan. “Ada satu hal yang boleh diperebutkan, yaitu kursi dewan. Namun jangan sampai digunakan untuk memecah belah bangsa dan negara,” tegasnya.

Sebagai simbol persatuan, Bu Shinta mengajak seluruh hadirin berdiri dan menyanyikan lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” serta “Padamu Negeri”. Momen tersebut menghadirkan suasana haru ketika santri, tokoh masyarakat, dan pejabat daerah menyatu dalam satu suara, melampaui sekat sosial dan identitas.

Baca Juga: GUSDURian Jombang Ajak Warga Sahur Bersama Ibu Shinta Nuriyah Wahid

Suasana ramainya antusias masyarakat menghadiri Sahur Keliling bersama Ibu Nyai Shinta Nuriyah di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang (foto: Bass)

Dalam konteks Ramadan, ia mengingatkan agar puasa tidak berhenti pada formalitas menahan lapar dan dahaga. “Puasa memang menggugurkan kewajiban tahunan. Namun jika hanya sekadar menahan lapar tanpa memperbaiki diri, kita belum mendapatkan makna sesungguhnya,” pesannya. Ia mengajak Ramadan dijadikan momentum memperkuat empati sosial, terutama saat bangsa menghadapi bencana dan tantangan demokrasi.

Menutup tausiyahnya, Bu Shinta mengenang sosok Abdurrahman Wahid yang kerap membacakan syi’ir Abu Nawas sebagai pengingat nilai kerendahan hati dan cinta kepada Tuhan. Kenangan tersebut menjadi penegas bahwa perjuangan kemanusiaan dan kebangsaan harus terus dirawat lintas generasi.

Acara ini juga menghadirkan sambutan hangat dari tuan rumah, Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim, Ning Rika Mujiono, dalam sambutannya beliau mengucapkan Syukur dan bangga atas terpilihnya PP Khoiriyah Hasyim sebagai tuan rumah Sahur Keliling ini. Dalam momentum itu, ia tak lupa mengingatkan kembali jejak sejarah Gus Dur yang pernah mengajar Bahasa Arab di Seblak. Ia menekankan bahwa pesan utama yang diwariskan adalah ukhuwah atau persaudaraan.

Baca Juga: Gusdurian Jombang Dampingi PSMT Mojokerto Ziarahi Makam Gus Dur

“Ukhuwah akan memperkuat bangsa Indonesia. Semoga kita semua dapat meneladani Bu Shinta, perjuangan dan semangat beliau untuk terus hadir dalam sahur bersama kaum marginal,” katanya.

Sejak sebelum acara inti dimulai, suasana religius telah terasa melalui lantunan selawat Tim Hadrah Banjari Qolbu Qur’an Khoiriyah Hasyim. Irama rebana berpadu dengan suara para santri, menghidupkan malam Ramadan dengan nuansa khidmat. Atmosfer kebersamaan semakin semarak ketika Sanggar Tari Banon Wilwaktika asal Diwek menampilkan Tari Simpor Digune, disusul pertunjukan barongsai dari kelompok Anakonda yang memikat perhatian hadirin.

Ketua Barongsai Anakonda, Pak Pri, menjelaskan bahwa nama kelompok tersebut merupakan kenangan dari Abdurrahman Wahid pada 2002. “Anakonda berarti Anak Komando Nahdlatul Ulama. Empat barongsai dengan warna berbeda ini membentuk formasi Jombang Kota Santri sebagai simbol perjalanan Islam, iman, dan ihsan,” ujarnya.

Mila, salah satu santri Pondok Khoiriyah Seblak, mengaku bangga dapat terlibat langsung. “Senang sekali dilibatkan dalam sahur bareng. Ini pengalaman pertama kami. Semoga bisa terus diadakan,” ujarnya.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary