Sesama Muslim Bersaudara, Memaknai Kembali Hadis tentang Tolong-Menolong

464

Dalam satu hadis mengenai tolong-menolong antara umat Islam disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. أخرجه البخاري فى كتاب المظالم : -باب لايظلم المسلم المسلم ولايسلمه.

Dari Abdullah bin Umar r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Seorang muslim saudara terhadap sesama muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat, dan siapa yang menutupi aurat seorang muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Saling mengenal merupakan dasar saling berhubungan di antara sesama manusia. Islam dalam hal ini tidak hanya sekedar menghimpun sejumlah manusia banyak atau sedikit, tetapi menghimpun sejumlah kebenaran yang memantapkan hubungan-hubungan yang benar antara manusia dengan Tuhanya, di samping hubungan antara manusia itu sendiri. Islam sendiri ialah ajaran yang sangat mengutamakan persaudaraan. Entah itu dalam satu agama maupun antar agama.

Hal demikian karena Islam adalah agama yang damai dan menyukai kedamaian. Tentu kedamaian tidak akan pernah tercipta tanpa adanya persaudaraan. Persaudaraan, saat ini menemukan keurgensiannya. Karena ditengah derasnya laju globalisasi seseorang cenderung abai terhadap saudaranya. Mereka bersikap apatis terhadap saudaranya, dan yang lebih parah adalah apabila mereka berbeda pendapat mereka akan saling menghina atau bahkan saling membunuh. Tentu hal yang seperti ini tidaklah diharapkan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dan Islam sebagai agama kasih sayang sangat menolak hal demikian, Islam juga sangat menganjurkan pemeluknya untuk mendamaikan saudaranya yang bertengkar. Dengan mendamaikan saudara yang bertikai diharapkan akan mampu menjaga persatuan umat. Dan tentu dengan persatuan umat ini, kemajuan akan segera datang. Oleh karena yang demikian, maka berbuat baiklah kepada saudaramu, jika kamu bisa berbuat baik, maka lakukanlah, karena mereka tidak akan bertanya apa agamamu dan sukumu.

Hadis Rasulullah saw. juga menunjukkan bahwa sesama muslim adalah saudara, bagaimana petunjuk Nabi saw. mengenai ukhuwah Islamiyah secara langsung melalui hadis ini dengan mengajarkan prinsip yang paling mendasar dalam Islam. Yaitu prinsip kemanusiaan melalui ajaran persaudaraan.. Sesama kita adalah saudara. Sehingga, satu sama lain, di antara kita, diharamkan untuk saling merendahkan, mencibir, menghina, apalagi menzalimi.

Adalah sudah masuk tindak kejahatan, jika seseorang sudah berani merendahkan orang lain. Jika merendahkan saja dianggap buruk dan jahat, apalagi tindakan-tindakan yang menodai martabat dan harga diri, melukai jiwa dan kehormatan, serta merusak harta seseorang. Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang, tentang semangat mempererat tali persaudaraan, kepedulian, dan keikhlasan dalam berbuat baik kepada sesama.. Ajaran kasih sayang ini termaktub dengan jelas disumber utama agama Islam yaitu Al-Quran dan Hadist. Allah menegaskan bahwa tidak boleh ada hubungan apa pun di antara orang beriman selain ukhuwah. Seperti dalam firman-Nya yaitu :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ 

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-Hujuraat: 10).

Kalau pun berbisnis maka tetap dalam koridor ukhuwah, berpolitik juga dalam ukhuwah, dan lain-lain. Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir mengutip beberapa hadis, di antaranya:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ

Orang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak boleh berbuat aniaya terhadapnya dan tidak boleh pula menjerumuskannya”.

Hadis inilah yang menjadi bahasan utama dari penulis tentang perintah untuk saling tolong-menolong dan solidaritas antar manusia sebagai bentuk kepedulian kita terhadap apa yang telah menimpa saudara kita di Palestina. Dikuatkan lagi dengan hadis sahih lain, diantaranya yaitu:

وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya.

إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ: آمِينَ، وَلَكَ بِمِثْلِهِ

Apabila seorang muslim berdoa untuk kebaikan saudaranya tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka malaikat mengamininya dan mendoakan, “Semoga engkau mendapat hal yang serupa.”

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوادِّهم وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَوَاصُلِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بالحُمَّى والسَّهَر

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persahabatan kasih sayang dan persaudaraannya sama dengan satu tubuh. Apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat).

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Orang mukmin (terhadap mukmin lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lainnya saling menguatkan. Lalu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam merangkumkan jari jemarinya.

Ukhuwah adalah ikatan persaudaraan paling kuat dan paling abadi. Ukhuwah islamiah melampaui sekat geografis, melampaui kesukuan, provinsi bahkan batas negara. Ukhuwah islamiah tidak mengenal kasta, tak memandang rupa, bukan warna kulit yang menjadikan mulia. Ukhuwah islamiah semata memandang manusia hanya karena kesamaan iman, disatukan kalimat Allah yang Maha Tinggi, disucikan dari ambisi duniawi; semua bersatu sebagaimana Allah perintahkan dari dunia sampai akhirat. Ia lebih kuat dari persaudaraan sedarah. Karena sekalipun sedarah jika sudah beda illah maka putus sudah persaudaraan. Ia lebih kuat dari persaudaraan karena apa pun, ia lebih mulia dari ikatan apa pun karena ia diikat dengan perintah Tuhan.

Namun demikian, ada segelitir pemeluk agama Islam yang berhaluan fundamentalis yang mereka tidak mau bersaudara dengan sesama manusia dan hanya mau bersaudara dengan kelompoknya saja. Tentu hal demikian membuat orang diluar Islam akan mengalami phobia terhadap Islam. Dan hal yang seperti ini tidaklah diharapkan. Islam sebagai agama penuh kasih sayang sangat menolak hal demikian. Tidak ada agama yang seperti Islam, Islam menaruh perhatian yang besar terhadap masalah membantu orang lain dan pemenuhan kebutuhan (hajat) mereka, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap perbuatan membantu orang lain sebagai bagian dari iman.

Sebagaimana dinyatakan Nabi sallallahu alaihi wasallam dalam hadis yang menjadi pembahasan utama ini; jiwa, kehormatan, dan harta seseorang adalah suci dan terhormat. Ia haram untuk diganggu, dilecehkan, dan dirampas. Hal ini menunjukkan betapa Islam hadir untuk kebaikan dan kerahmatan bagi manusia. Ia menegaskan hak-hak dasar manusia; hak hidup (darah), hak ekonomi (harta), dan hak sosial (kehormatan).

Pada akhirnya kita mengetahui sejauh mana perhatian Nabi terhadap masalah membantu orang lain dan mencintai kebaikan untuk mereka, sampai-sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menganggap bahwa perbuatan apapun yang dilakukan, baik berupa melepaskan salah satu kesulitan dari kesulitan-kesulitan duniawi seorang muslim, atau menutupi aibnya atau memenuhi kebutuhannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kepada mereka dengan balasan yang berlipat ganda dari apa yang telah mereka lakukan di dunia. Dan Islam tidak hanya memerintahkan untuk membantu orang lain serta tidak boleh menelantarkan muslim lainnya, akan tetapi juga memerintahkan untuk menahan diri dari mengganggu mereka dan tidak menyakiti mereka, saling mendukung, memuliakan, dan menghargai satu sama lain.

Jika demikian, maka segala tindakan perendahan perempuan, pelecehan, peminggiran, penzaliman, dan segala bentuk kekerasan terhadap mereka adalah sesuatu yang sama sekali tidak direstui Nabi sallallahu alaihi wasallam, sekalipun didukung tafsir-tafsir tertentu. Hal-hal yang dapat merusak ukhuwah termaktub dalam ayat maupun hadis. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيث،ِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا (رواه مسلم) 

Dari Abu Hurairah berkata, bahwa Rasulullah sallalahu alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu; janganlah mencari-cari kesalahan; janganlah saling bersaing; janganlah saling mendengki; janganlah saling memarahi; dan janganlah saling membelakangi (memusuhi). Akan tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara“. (HR. Muslim, Hadits No. 4646).

Baca Juga: Menolong Orang Lain Hakikatnya Menolong Diri Sendiri


Penulis: Dimas Setyawan Saputro

Editor: Sutan