Trans7 Produksi Episode Ramadan di Tebuireng, Tunggu Jadwal Tayangnya!

1915
Salah satu potret proses syuting tim Trans7 di Pesantren Tebuireng (foto: Ifa)

Tebuireng.online— Tim Trans7 melakukan proses shooting program spesial Ramadan di Pesantren Tebuireng Kabupaten Jombang, pada 13–16 Februari 2026. Produksi ini melibatkan beberapa kalangan dari pengasuh, pengurus, santri, hingga alumni. Termasuk hal-hal paling unik dan icon dari Pesantren Tebuireng.

Salah satu perwakilan tim kreatif Trans7, Decka Armyka, menjelaskan bahwa pemilihan Pesantren Tebuireng merupakan hasil musyawarah internal jajaran produser dan kepala departemen. Tebuireng dinilai memenuhi sejumlah kriteria utama, mulai dari statusnya sebagai pesantren tua hingga kekayaan cerita sejarah dan pendidikan yang dimilikinya.

Baca Juga: Jangan Terjebak Romantisme Sejarah, Nasruddin Dorong Transformasi Total NU

“Kriteria pertama pesantren tua, kedua punya kisah yang kuat. Kisah KH. Hasyim Asy’ari ini sangat menarik. Selain itu, Tebuireng juga maju dari sisi diniyah sampai pendidikan umum. Sekarang bahkan dikenal sebagai pesantren sains. Salafnya kuat, Sainsnya juga tidak kalah,” ujar Decka.

Program berdurasi sekitar satu jam ini dirancang dalam tiga segmen utama. Pada hari pertama, tim Trans7 melakukan diskusi intensif dengan pihak pesantren untuk menentukan item liputan. Dari belasan item yang diusulkan, kemudian diseleksi agar tayangan tetap padat dan tidak monoton.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kalau isinya hanya ngaji lagi, ngaji lagi, penonton bisa bosan. Tapi di Tebuireng variatifnya luar biasa. Ada panahan, fashion show berbahasa Inggris, wisma bahasa Inggris dan Arab, nadhoman, hafalan Al-Qur’an, sampai hafalan kitab,” jelasnya.

Baca Juga: Genealogi Pesantren dan Warisan Kiai

Salah satu proses shooting yang diambil di Unit Tebuireng Kesamben (foto: Ifa)

Beberapa item yang dianggap terlalu umum akhirnya tidak dimasukkan, bukan karena kurang menarik, melainkan demi efisiensi cerita. Tim produksi memilih aktivitas yang dinilai memiliki kekhasan dan jarang ditemukan di pesantren lain.

Baca Juga: FGD Media Tebuireng Perkuat Kolaborasi Menuju Profesionalitas Media Pesantren

Untuk memperkuat isi tayangan, Trans7 juga mewajibkan adanya wawancara dengan narasumber yang kompeten. Di antaranya Pengasuh Pesantren Tebuireng Gus Kikin, hingga perwakilan santri dan ahli gizi Tebuireng.

Menurut Decka, salah satu segmen yang paling menarik adalah wisma bahasa. “Di sini ada wisma Inggris dan wisma Arab. Anak-anaknya benar-benar pakai bahasa Inggris dan bahasa Arab. Jarang ada pesantren yang dua-duanya sama-sama kuat, bahkan ditambah sains dan ekstrakurikuler seperti panahan,” katanya.

Ia juga mengutip pernyataan Kiai Musta’in saat wawancara, bahwa Tebuireng memiliki banyak pilar pendidikan, namun tetap berpijak pada pondasi salaf yang diwariskan KH. Hasyim Asy’ari.

Baca Juga: Waspada Konten Menyimpang di Media Sosial

Proses shooting berlangsung relatif cepat. Dalam waktu sekitar empat hari, satu episode berhasil dirampungkan. Decka mengapresiasi dukungan tim media Tebuireng yang dinilai sangat kooperatif, meskipun sempat terjadi beberapa miskomunikasi teknis di lapangan yang dapat segera diselesaikan melalui koordinasi.

Selain itu, para santri disebut sangat antusias dan mudah diajak bekerja sama selama proses produksi, sehingga memudahkan tim dalam pengambilan gambar.

Program ini juga melibatkan empat host yang memandu setiap segmen. Salah satunya Ahmad Rhazes AS Shuwary, siswa kelas 5 Muallimin, yang mengaku ini kali pertama dirinya merasakan pengalaman menjadi host televisi.

“Ini pertama kali saya shooting TV dan jadi host. Awalnya kaget pas audisi, tapi seru dan dapat pengalaman baru. Saya jadi ingin mencoba dunia media,” ujar Rhazes. Ia berharap tayangan ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman seusianya untuk mengenal dan mondok di Pesantren Tebuireng.

Baca Juga: Workshop Pengelolaan Media Pesantren, Cetak Penulis dan Jurnalis Santri

Untuk diketahui, isi segmen program meliputi penggalian sejarah dan profil KH. Hasyim Asy’ari yang akan divisualisasikan melalui ilustrasi adegan, kegiatan dapur umum, nadhoman dan hafalan, wisma bahasa Inggris dan Arab, serta berbagai wawancara testimoni.

Hingga saat ini, jadwal penayangan program masih menunggu keputusan dari pihak Trans7. Program tersebut direncanakan tayang pada bulan Ramadan atau setelah Idulfitri, bergantung pada penetapan akhir dari kepala departemen Trans7.



Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary