Tebuireng Institute Bedah Urgensi Al-Qānūn Al-Asāsī untuk Masa Depan NU

52
Pesantren Tebuireng melalui Tebuireng Institute (TI) menggelar Roundtable Discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qanun Al-Asasi”, Sabtu (14/02/2026). Foto: iva

Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng melalui Tebuireng Institute (TI) menggelar Roundtable Discussion bertajuk “Membedah Genealogi dan Transformasi Al-Qanun Al-Asasi”, Sabtu (14/02/2026). Acara yang diinisiasi oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), ini menghadirkan deretan akademisi dan pakar ternama, di antaranya Prof. Dr. H. Abd. A’la, H. M. Nasrudin Anshoriy, Prof. Masdar Hilmy, Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, Prof. Dr. Ahmad Muhibbin Zuhri, H. Nur Hidayat (Gus Dayat), Dr. H. Rijal Mumazziq, dan KH. Dr. Musta’in Syafi’i.

Dalam arahannya, Gus Kikin menekankan bahwa Al-Qanun Al-Asasi tidak boleh hanya dipandang sebagai dokumen historis masa lalu. Menurutnya, kitab ini adalah nilai dasar dan arah gerak organisasi yang tetap relevan melintasi zaman.

“Membaca Al-Qanun Al-Asasi adalah upaya memahami nilai dan arah gerak organisasi agar tetap berada pada koridor yang diletakkan oleh para pendiri,” tutur Gus Kikin saat menceritakan perjuangan kaum pesantren.

Salah satu poin menarik muncul dalam sesi tanya jawab. Menanggapi pertanyaan mengenai relevansi Qanun Asasi dengan kesetaraan gender, Dr. H. Rijal Mumazziq menegaskan bahwa dalam tradisi pesantren, pendidikan perempuan adalah kunci peradaban.

“Mendidik satu laki-laki hakikatnya mendidik satu manusia, tetapi mendidik satu wanita hakikatnya mendidik satu generasi,” ujar Gus Rijal. Ia mencontohkan sosok Nyai Khoiriyyah Hasyim sebagai bukti nyata keberhasilan Hadratussyaikh dalam mencetak generasi perempuan hebat. Ia mengusulkan agar pengajaran kepada santriwati diperkuat dengan syarah (tafsir) yang berbasis perspektif gender.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terkait fenomena menurunnya kapasitas keilmuan dan ketidaktahuan generasi muda terhadap tokoh ulama, Prof. Dr. Ahmad Muhibbin Zuhri menyoroti pentingnya kaderisasi khusus ulama melalui lembaga seperti Ma’had Aly.

Senada dengan hal tersebut, H. M. Nasrudin Anshoriy dan Prof. H. Abd. A’la sepakat bahwa komunikasi mengenai Al-Qanun Al-Asasi harus diadaptasi. “Dibutuhkan pola komunikasi yang tepat dan penggunaan bahasa yang sederhana agar pemikiran Hadratussyaikh dapat dinikmati oleh Gen Z,” jelas Prof. A’la.

Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban menambahkan tantangan riil saat ini adalah pergeseran rujukan dari sanad keilmuan ke algoritma media sosial. “Visibilitas gagasan NU di dunia internasional sangat diperlukan. Kita harus berkolaborasi sesuai bidang masing-masing atau Ta’awun, sebagaimana amanat dalam Al-Qanun Al-Asasi,” tegasnya.

Dr. Ginanjar juga memaparkan data sejarah yang mematahkan keraguan mengenai relasi ulama Nusantara dengan pusat keilmuan dunia Islam. Sejak abad ke-17, tokoh seperti Syekh Yusuf al-Makassari hingga Syekh Mahfudz at-Tarmasi telah membangun estafet keilmuan di Hijaz.

KH Hasyim Asy’ari, meski tidak mukim lama di Makkah, memiliki pengaruh yang sangat kuat dan diakui sebagai Syaikhul Islam di Indonesia. Di Mesir, beliau bahkan menjabat sebagai Mustasyar (penasihat) Jam’iyyah Syubbanul Muslimin. “Di organisasi inilah galangan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia dimulai,” ungkap Ginanjar.

Diskusi juga menyentuh aspek etika pengurus organisasi. Prof. Abd. A’la membenarkan pernyataan peserta bahwa idealnya pengurus NU adalah mereka yang sudah “selesai dengan urusan dunianya” agar tidak menjadikan organisasi sebagai alat mencari penghidupan. Beliau mencontohkan integritas KH Sahal Mahfudz sebagai teladan dalam prinsip tersebut.

Acara yang dimoderatori oleh Dr. KH. Ahmad Roziqi ini menyimpulkan bahwa transformasi Al-Qanun Al-Asasi menuntut keseimbangan antara ketaatan substantif (nilai-nilai spiritual) dan ketaatan administratif (regulasi organisasi), sekaligus menuntut adaptasi strategi dakwah di era digital.

Baca Juga: Tebuireng Hadirkan Pakar NU, Bedah Genealogi dan Transformasi Al-Qānūn Al-Asāsī


Pewarta: Nurdiansyah

Editor: Sutan