Menarik! Gus Hasyim Analogikan Peristiwa Isra Mikraj dengan Logika Sains

71
Gus Hasyim saat menyampaikan pesan di peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang bertempat di Masjid Salahuddin al-Ayyubi pada Kamis (05/02/2026). Foto: Aulia

Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng menggelar peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW di Masjid Salahuddin al-Ayyubi pada Kamis (05/02/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat sejak pukul 20.00 hingga 20.45 WIB ini dihadiri oleh seluruh santri, pembina, kepala sekolah, kepala pondok, beserta jajaran pengurus. Kehadiran Gus Muhammad Hasyim, M.A. sebagai narasumber utama yang didampingi lantunan sholawat banjari membuat suasana peringatan menjadi sangat semarak.

Dalam tausiyahnya, Gus Hasyim menyampaikan pesan dengan penuh semangat guna memantik motivasi belajar para santri melalui analogi peristiwa Isra Mikraj dari sudut pandang sains dan spiritual.

Gus Hasyim menggarisbawahi fenomena di luar pesantren, di mana banyak orang mempelajari sains namun kurang dibekali ilmu agama. Sebaliknya, di lingkungan pesantren, santri tidak hanya mempelajari ilmu pengetahuan tetapi juga senantiasa diajarkan untuk mengingat Allah (yadzkurunallah). Beliau merujuk pada Al-Qur’an yang menyebutkan tiga keadaan berdzikir, yakni dalam posisi berdiri (qiyaman), duduk (qu’udan), dan berbaring (junubihim).

Secara spesifik, Gus Hasyim membedah pemilihan kata qu’udan. Dalam khazanah bahasa Arab, meskipun jalasa dan qa’ada sama-sama berarti duduk, keduanya memiliki nuansa berbeda. Qa’ada menggambarkan perpindahan dari posisi yang lebih tinggi ke yang lebih rendah. Majelis dzikir tidak disebut maq’ad karena majelis ilmu dan dzikir justru berfungsi mengangkat derajat seseorang di sisi Allah SWT. Bahkan, Rasulullah SAW menyebut majelis seperti ini sebagai taman-taman surga.

Beliau menekankan bahwa makna dzikir tidak boleh dipahami secara sempit. Dzikir harus tecermin dalam integritas dan kejujuran pada kehidupan sosial. Seseorang yang selalu mengingat Allah tidak akan berbuat curang, melanggar aturan, atau berkhianat, apa pun profesi yang ia jalani di tengah masyarakat nanti.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Potensi berpikir santri pesantren dianggap sangat besar. Ilmu pengetahuan, termasuk sains, perlu terus dikembangkan dengan landasan dzikir kepada Allah dalam setiap keadaan. Dari proses integrasi inilah akan lahir kesadaran spiritual sebagaimana doa “Rabbana ma khalaqta hadza bathila“, sebuah pengakuan bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia.

Peringatan Isra Mikraj yang dilakukan saat ini dinilai tetap relevan karena esensinya adalah pengambilan hikmah. Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka yang mendapatkannya berarti telah memperoleh kebaikan yang melimpah. Namun, hikmah hanya dapat dipahami secara mendalam oleh ulul albab.

Gus Hasyim juga mengaitkan keberkahan hidup dengan tiga pilar utama yang diajarkan para asatidz: menjaga shalat (peristiwa Rajab), memperbanyak sholawat (anjuran bulan Sya’ban), dan membaca Al-Qur’an (kemuliaan Ramadan). Beliau berpesan agar ketiga hal ini benar-benar diamalkan secara istiqamah oleh para santri.

Mengenai peristiwa Isra Mikraj itu sendiri, Gus Hasyim menggambarkannya sebagai dua kejadian agung yang berlangsung sangat cepat dan luar biasa. Perjalanan Rasulullah SAW terjadi begitu singkat hingga tempat tidur beliau diriwayatkan masih terasa hangat. Peristiwa ini bersifat suprarasional melampaui kebiasaan dan hukum alam sehingga disebut mukjizat.

Secara teknis, perjalanan Isra sejauh kurang lebih 1.500 km ditempuh melalui Buraq. Gus Hasyim menjelaskan bahwa nama Buraq berasal dari kata barq yang berarti cahaya. Mengacu pada logika tersebut, tidak mengherankan jika peristiwa itu terjadi dalam waktu singkat. Meski kaum musyrikin Makkah meragukannya, peristiwa ini justru menjadi ujian keimanan yang nyata.

Selain itu, Isra Mikraj dipandang sebagai bentuk penghiburan bagi Rasulullah SAW setelah melewati masa-masa sulit (Amul Huzni), seperti wafatnya Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah bertemu para nabi dan menerima perintah shalat lima waktu sebagai penyempurnaan ibadah.

“Peristiwa ini mengajarkan bahwa di balik setiap ujian terdapat hikmah besar. Bahkan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina selalu menunaikan shalat ketika menghadapi kebuntuan dalam penelitiannya, hingga Allah membukakan jalan ilmu baginya,” pungkas Gus Hasyim menutup tausiyahnya.

Acara kemudian diakhiri dengan doa bersama yang berlangsung khusyuk dan ditutup kembali oleh penampilan sholawat banjari.

Baca Juga: Lautan Santri Tebuireng Sains Padati Masjid dalam Malam Puncak Peringatan Isra Mikraj


Pewarta: Aulia Rachmatul Umma

Editor: Sutan