Rombongan Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan Kunjungi Bank Sampah Tebuireng

78
Rombongan dari Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan foto bersama pihak Bank Sampah Tebuireng (dok. bst)

Tebuireng.online— Biro Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren Syaichona Cholil Balikpapan melakukan kunjungan edukasi pengelolaan sampah ke Bank Sampah Tebuireng (BST), Jumat (9/1/2026). Kunjungan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian lingkungan, sekaligus sebagai upaya mewujudkan pesantren bebas sampah.

Kegiatan tersebut diikuti oleh enam pimpinan Pondok Pesantren Syaichona Cholil, yang terdiri dari pimpinan pesantren serta kepala sekolah jenjang MI, SMP, dan SMA, SMK, dan Madrasah Diniyah Showlatiyyah PP. Syaichona Cholil Balikpapan. Acara berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 11.00 WIB, bertempat di ruang edukasi BST dan gudang pemilahan sampah Bank Sampah Tebuireng.

Baca Juga: Direktur BST Ajak Santri Melek Kebersihan Linkungan Pondok

Direktur Bank Sampah Tebuireng, Ahmad Faozan, menyampaikan materi utama terkait sejarah dan perkembangan BST dari masa ke masa. Ia mengisahkan bahwa pada awal berdirinya, BST belum berjalan optimal.

“Dulu BST masih belum sebagus sekarang, bahkan sempat mangkrak. Hidup enggan, mati pun segan,” ujar Ahmad Faozan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Menurutnya, perkembangan BST tidak lepas dari kegigihan berbagai pihak, termasuk dirinya dan Gus Bambang Harimurti yang saat itu menjadi pengasuh lingkungan pesantren. Dari yang semula berada di bawah naungan LSPT, BST kini telah berdiri sebagai lembaga mandiri. Pendirian BST juga dilandasi pesan almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Sholah) agar Pesantren Tebuireng mampu menyelesaikan persoalan secara mandiri dan berkelanjutan.

Kunjungan untuk melihat pengelolaan sampah di Pesantren Tebuireng

Dalam perjalanannya, BST terus berinovasi dengan menjalin berbagai kerja sama. Ahmad Faozan menggandeng AQUA untuk pengembangan wahana edukasi lingkungan, serta bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup dalam penyediaan tempat sampah terpilah. Selain itu, BST juga berkolaborasi dengan Coca-Cola melalui pemanfaatan teknologi edukasi berupa videotron yang dipasang di kawasan makam Tebuireng.

“Melalui videotron ini, para peziarah bisa mendapatkan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan,” jelasnya.

Baca Juga: MTs Salafiyah Syafi’iyah Bekali Santri Edukasi Sampah dari BST

Ahmad Faozan juga aktif terlibat dalam berbagai forum dan kegiatan bertema ekologi, mulai dari seminar edukasi sampah di pesantren, penyusunan modul buku edukasi lingkungan, hingga menggandeng Ma’had Aly Hasyim Asy’ari untuk menyelenggarakan Konferensi Internasional Ekologi yang sukses digelar pada Desember 2025.

“Masalah sampah membutuhkan gerakan nyata dan melibatkan semua kalangan. Tidak cukup hanya dengan diskusi atau kajian, tetapi harus ada aksi,” tegasnya.

Pada sesi berikutnya, Ahmad Faozan memberi kesempatan kepada Aulia, selaku edukator BST, untuk berbagi pengalaman dan perjalanan kepeduliannya terhadap isu lingkungan. Aulia mengaku kegelisahannya terhadap persoalan sampah mulai tumbuh sejak menempuh kuliah di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan tinggal di Pesantren Salafiyah Seblak, Jombang.

“Awalnya kegelisahan itu muncul karena sering melihat kerusakan alam dan bahaya sampah di media sosial,” tutur Aulia.

Dari kegelisahan tersebut, Aulia mulai melakukan langkah-langkah sederhana, seperti memilah sampah, mengelola sisa makanan, hingga membuat pupuk dari limbah organik. Konsistensinya membuat ia dijuluki “sipaling sampah” oleh teman-temannya. Hingga akhirnya, Aulia menemukan BST dan bergabung sebagai edukator setelah rutin mengikuti kegiatan di sana.

Baca Juga: BANK SAMPAH TEBUIRENG (BST)

Usai sesi materi, para tamu diajak meninjau langsung gudang pemilahan sampah BST yang berlokasi di belakang Rumah Sakit Hasyim Asy’ari. Di lokasi tersebut, peserta melihat proses pemilahan sampah tahap pertama dan kedua sebelum akhirnya dikirim ke pabrik pengolahan. Sampah residu yang tidak dapat dikelola akan dimusnahkan menggunakan mesin pembakar minim karbon yang dimiliki BST, meski saat ini masih berskala kecil. BST juga tengah menjajaki pengadaan mesin pembakar berkapasitas lebih besar melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup.

Pada kesempatan itu, Athirah An-Nufus, salah satu anggota rombongan dari PP Syaichona Cholil Balikpapan, menyampaikan bahwa kunjungan ke Bank Sampah Tebuireng menjadi pengalaman berharga dalam memahami pengelolaan sampah berbasis pesantren.

“Kami mempelajari tentang cara pengolahan sampah di Bank Sampah Tebuireng. Semoga ke depan semakin banyak pesantren yang peduli terhadap lingkungan dan mampu mengelola sampahnya secara mandiri,” ujarnya.



Pewarta: Aulia Rachmatul Ummah
Editor: Rara Zarary