Kiai Roziqi Sebut Keilmuan dan Keuangan Harus Terhubung, Mahasantri Perlu Melek Literasi Finansial

75
Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng, Dr. KH Achmad Roziqi saat memberi sambutan dalam pembukaan MUTUN 2025 dengan seminar Literasi Keuangan yang diikuti mahasantri (foto: mediamaha)

Tebuireng.online— Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng menggelar Seminar Literasi Keuangan bekerja sama dengan Pegadaian Syariah, Sabtu (6/12/2025). Kegiatan ini dihadiri seluruh mahasantri dan dibuka secara resmi oleh Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I., yang menegaskan pentingnya integrasi antara keilmuan turats dan kecakapan finansial dalam kehidupan modern.

Dalam sambutannya, Kiai Roziqi menjelaskan alasan mengapa seluruh mahasantri wajib mengikuti seminar tersebut. Menurutnya, setiap individu memiliki potensi untuk sukses secara finansial, sebagaimana diteladankan para tokoh dalam tradisi hadis. Ia mencontohkan Sayyiduna Anas bin Malik, sahabat Nabi yang dikenal sebagai salah satu perawi hadis terbanyak dan juga dikaruniai kekayaan yang melimpah.

Baca Juga: Ma’had Aly Gandeng Pegadaian, Seminar Literasi Keuangan Jadi Pembuka MUTUN 2025

“Sayyiduna Anas bin Malik itu ibarat mahasantri Ma’had Aly hari ini. Beliau belajar langsung dari Nabi selama sepuluh tahun, meriwayatkan lebih dari dua ribu hadis, dan termasuk sahabat Anshar yang paling kaya. Kekayaannya adalah buah dari doa Rasulullah,” ujar Mudir Ma’had Aly Tebuireng dalam sambutannya.

Beliau kemudian mengutip doa Rasulullah kepada Anas bin Malik: doa untuk rezeki yang luas, keturunan yang banyak, dan keberkahan yang berkelanjutan. Doa tersebut terbukti menjadi sumber keberkahan, karena Anas memiliki lebih dari seratus keturunan dan kebunnya berbuah dua kali lipat dibanding kebun lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kiai Achmad Roziqi menegaskan bahwa kisah tersebut bukan sekadar sejarah, tetapi inspirasi bahwa keberkahan dan kesuksesan dapat diraih siapa saja jika diiringi ikhtiar yang tepat. “Karena kita semua juga punya potensi untuk menjadi sukses dan sejahtera, maka belajar mengatur keuangan adalah keharusan. Baik melalui instrumen syariah maupun non-syariah,” tegasnya.

Selain itu, ia menekankan bahwa seminar ini merupakan kesempatan penting bagi mahasantri untuk memahami penerapan fikih syariah dalam lembaga keuangan modern seperti Pegadaian Syariah.

Baca Juga: Dr. Ubaid Tegaskan Pentingnya Eko-Sunnah dengan Seruan Merespons Krisis Lingkungan

“Kita perlu tahu bagaimana mekanisme fikihnya, apa dasar hukumnya, dan bagaimana praktik pegadaian syariah menjadi solusi finansial bagi masyarakat,” tambahnya.

Kiai Roziqi juga menyampaikan bahwa Ma’had Aly memiliki tradisi riset mutun yang dikembangkan menjadi paradigma eko-sunnah, sebuah pendekatan keilmuan yang menekankan keselarasan antara turats, realitas sosial, dan kebermanfaatan. Melalui kolaborasi dengan Pegadaian Syariah, ia berharap wawasan keilmuan mahasantri semakin membumi dan memberi dampak nyata di tengah masyarakat.

“Gerakan keilmuan Ma’had Aly harus selalu relevan dengan kebutuhan zaman. Kolaborasi seperti ini adalah bagian dari ikhtiar agar ilmu yang kita pelajari mampu memberi manfaat luas,” pungkasnya.



Pewarta: Aulia Rachmatul Ummah
Editor: Rara Zarary