Loquor Ergo Sum: Eksistensi, Lisan, dan Marwah Ulama di Era Digital

61
ilustrasi

Pernah ada seorang orator Arab klasik, Khalid bin Ṣafwān (w. 762 M),  yang ketika ditanya “Apa itu balāghah?” beliau menjawab: “Balāghah itu bukan ringan lidah, bukan pula banyaknya ocehan, melainkan ketepatan makna dan mengarah pada hujjah.” (Khuṭab Khalid bin Ṣafwān al-Tamīmī, taḥqīq Yūnus Aḥmad al-Sāmarā’ī, 1990, h. 65).

Baginya, kefasihan bukan diukur dari seberapa ringan lidah atau sebanyak apa omongan yang terucap, melainkan dari seberapa tepat makna itu disampaikan dan seberapa jelas tujuannya. Balāghah adalah seni memukul tepat sasaran, bukan sekadar keranjingan berbicara.

Menariknya, dalam kajian rutinan alumni IKASAMAH (Ikatan Alumni Santri Romo KH. Masykur Hafidz) beberapa waktu lalu, Romo Yai Masykur mengutip ungkapan lain dari orator yang sama:

ما الإنسان لولا اللسان إلا صورة ممثلة، أو بهيمة مهملة

Manusia, jika tanpa lisan, hanyalah sosok yang tak bernyawa, atau hewan yang terabaikan  (Khuṭab Khalid bin Ṣafwān al-Tamīmī, taḥqīq Yūnus Aḥmad al-Sāmarā’ī, 1990, h. 70).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Jika tadi balāghah berbicara tentang ketepatan makna, maka di sini Khalid menegaskan bahwa eksistensi manusia sendiri bergantung pada lisan. Tanpa daya artikulasi, manusia hanyalah tubuh tanpa makna, sekadar wujud kosong atau bahkan setara dengan hewan yang tak pernah memberi jejak kesadaran. Lisan, dengan kata lain, adalah medium martabat manusia.

Jika René Descartes, filsuf Prancis yang terkenal dengan semboyan cogito ergo sum—“aku berpikir, maka aku ada”, maka Khalid bilang loquor ergo sum— “Aku berbicara, maka aku ada.”

Dua pernyataan Khalid tadi bila dirangkai melahirkan refleksi filosofis yang sangat aktual. Pertama, manusia hanya sungguh-sungguh menjadi manusia melalui lisan—melalui kemampuannya mengartikulasikan kesadaran. Kedua, kualitas lisan itu sendiri baru berharga ketika baligh, yakni sampai pada makna dan mengarah pada hujjah. Jika manusia bernilai karena lisannya, maka nilai itu jatuh bila lisannya hanya menebar kebisingan, bukan makna.

Refleksi ini terasa makin relevan di zaman kita. Kini, “lisan” kita bukan sekadar organ di mulut, melainkan jempol di layar ponsel. Satu sentuhan bisa menebarkan kata ke seluruh dunia. Sebagaimana dibahas panjang lebar oleh F. Budi Hardiman (2021: 7), “Aku klik, maka aku ada”, premo ergo sum. Seolah dengan kepastian dalam layar itu, homo sapiens berubah menjadi homo digitalis.

Namun apakah kata-kata itu meneguhkan martabat kita sebagai manusia, atau justru menjerumuskan kita ke dalam kebisingan digital tanpa substansi? Khalid seakan mengingatkan, janganlah kita rela diturunkan derajatnya menjadi sekadar ṣūrah mumaththalah—bayangan kosong di dunia maya—atau bahīmah muhmalah—makhluk yang lalu tanpa bekas, karena gagal memaknai lisannya.

Jika pada level individu manusia ditentukan oleh lisannya, maka pada level sosial, umat ditentukan oleh siapa yang mengarahkan lisannya, yakni para ulama.

Ulama Dunia dan Ulama Akhirat

Sejarah telah memberi peringatan bahwa lisan adalah medan ujian paling tajam. Kata-kata bisa menjadi obat yang menenangkan, tetapi juga bisa menjadi racun yang menyesatkan. Di titik inilah kita menemukan tipologi yang diajarkan para ulama klasik, seperti al-Ghazālī, tentang ulama dunia dan ulama akhirat.

Ulama dunia adalah mereka yang menggunakan lisannya untuk menggapai popularitas, meraih kuasa, atau meneguhkan nafsu. Retorikanya mungkin indah, tetapi kehilangan ruh. Sementara itu, ulama akhirat menundukkan lisannya pada amanah Ilahiah. Kata-katanya lahir dari keikhlasan, meski kadang singkat dan sederhana, tetapi menyala di hati pendengar.

Di pesantren, perbedaan ini terasa nyata. Dawuh seorang kiai yang singkat bisa menjadi pedoman hidup santri sepanjang masa, karena lisannya menyimpan keberkahan ilmu dan kejujuran batin. Sebaliknya, ceramah panjang ulama yang lebih sibuk menjaga citra diri sering hanya menjadi gema yang cepat hilang. Marwah ulama pada akhirnya tidak ditentukan oleh banyaknya kitab yang dibaca atau podium yang diduduki, melainkan pada bagaimana mereka menjaga amanah lisan.

Terlebih lagi di era digital, lisan ulama hadir bukan hanya di langgar atau masjid, melainkan juga di YouTube, TikTok, dan potongan-potongan viral di media sosial. Apakah ulama memilih menjaga lisannya sebagai cahaya akhirat, ataukah tergelincir menjadikan lisan sebagai komoditas duniawi, kini terlihat lebih jelas. Ungkapan Khalid bin Ṣafwān itu bisa kita perpanjang, manusia tanpa lisan hanyalah sosok kosong, dan ulama tanpa lisan yang benar hanyalah topeng kehormatan.

Dengan begitu, lisan bukan hanya menentukan eksistensi kita secara personal, tetapi juga menentukan arah peradaban. Lisan ulama yang duniawi bisa menjerumuskan umat ke kebisingan, tetapi lisan ulama akhirat—yang kadang hadir lewat dawuh singkat atau teladan sederhana—menjadi sumber keberkahan. Dan di situlah kita menemukan marwah sejati ulama.

Pak Tumerap dan Contoh Ulama Akhirat

Pak Tumerap—seorang santri lama Romo Yai Masykur Hafidz yang kini menjadi penggerak sebuah lembaga pendidikan kecil di desanya, ditanya, “Berapa biaya ngaji di sini?” “Gratis, Yai,” jawab Pak Tumerap. “Lha, terus kamu makannya pakai apa? Iya kalau Nabi Isa, bisa minta dari langit langsung turun,” seloroh Romo Yai, disambut tawa para alumni.

Beliau lalu mengutip firman Allah dalam QS. Al-Mā’idah [5]:114 sebagai doanya Nabi Isa, yang kemudian dikabulkan oleh Allah di ayat selanjutnya, 115.

Romo Yai pun memberikan contoh ulama akhirat itu, ya seperti Tumerap; seperti memberikan biaya pendidikan gratis dan memuliakan tamu dengan memberikan hidangan. Soal lisan dan bagaimana cara berdakwah dengan baik, semuanya perlu belajar. Tapi dasarnya, dari niat ikhlas dulu, itu harus dipertahankan sampai tutup usia. insyaAllah nanti yang keluar dari lisan itu ‘mbarokahi’, tegas beliau.

Mengingat lokasi yang ditempati IKASAMAH di rumah Pak Tumerap, Romo Yai kemudian mengutip sebuah hadis ‘hiburan’ yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/144):

عن عبد الله بن عمرو بن العاص أن رسول الله ﷺ قال :«من أطعم أخاه خبزا حتى أشبعه، وسقاه ماء حتى يرويه، بعده الله عن النار ‌سبع ‌خنادق، بُعْدُ ما بين خندقين مسيرة خمس مئة سنة

Barangsiapa memberi makan saudaranya (sesama Muslim) roti hingga ia kenyang, dan memberinya minum air hingga ia puas, maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh tujuh parit, jarak antara dua parit sejauh perjalanan lima ratus tahun.”

Pengajian pun ditutup disertai tawa tipis oleh para alumni IKASAMAH, dan mereka pun makan bersama-sama.

Baca Juga: Peran Ulama di Antara Tradisi dan Modernitas


Penulis: Achmad Fauzan

Editor: Muh. Sutan