Di Jalan-jalan Madiun

57

Di Jalan-jalan Madiun

(terinspirasi dari lagu “Weng Ing Madiun” ciptaan Dhalang Poer)

Masih ada langkah kecil menunggu di tikungan waktu,
di mana seragam sekolah menggantung di jemuran kenangan,
dan rambutmu—lembut, seperti aroma hujan di utara kota.

Dua belas tahun, ternyata hanyalah jeda,
bukan jarak antara kita dan masa lalu.
Waktu berjalan seperti becak tua
yang rodanya berputar membawa rindu
menuju pasar yang sama.

Madiun kini berubah wajah,
tetapi bayangmu tetap duduk di bangku taman itu,
menyimpan senyum
yang belum sempat kutukar dengan kata perpisahan.

Tiap malam, aku menyusuri jalanan itu
menyapa lampu kota yang menyimpan rindu.
Dan dalam diam, aku mendengar bisikmu:
Tak semua yang berlalu harus hilang,
beberapa masih tetap tinggal
dalam bentuk kenangan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pendekar Mata Batin

(terinspirasi dari lagu “Gusdur”)

Engkau berjalan dalam terangnya gelap,
dunia gemetar oleh pandanganmu.
Keadilan, katamu, bukan tentang siapa yang berkuasa,
tapi siapa yang berani mendengar yang tertindas.

Mereka menjegal langkahmu dengan rapat-rapat palsu
namun tak ada yang bisa membungkam nurani,
yang palsu tetap akan terlihat palsu. 

Engkau menjadi korban,
korban yang menelanjangi kepalsuan.

Kau ajarkan tentang
agama yang meneduhkan semesta,
bukan menyalakan bara di dada manusia.

Hingga kini, setiap kali bangsa ini lupa pada kemanusiaan,
suaramu datang seperti mata air pagi,
membawa aroma kopi dan canda tawa.

Kami menulis namamu di altar langit,
agar anak cucu kita nanti tahu
bahwa ada seorang buta yang mengajarkan kami
bagaimana cara untuk melihat kebenaran.


Kudu Misuh

(terinspirasi dari lagu “Kudu Misuh”)

Hidup ini adalah ladang
yang tak lagi menumbuhkan padi,
melainkan menumbuhkan tagihan dan cicilan.
Petani menanam doa, tapi yang tumbuh hutang.
Supir menyetir harapan, tapi mogok di tengah nasib.

Setiap hari, orang-orang baik harus mengumpat,
agar tetap waras di negeri yang pura-pura tertawa.
Misuh bukanlah dosa, itulah doa yang paling jujur
doa dari orang-orang kalah
yang masih terus mencoba.

Sawah dijual, truk dikredit,
bensin naik, moral turun.
Hukum sibuk tidur di kursi empuk,
sementara rakyat terus diburu tagihan.

Di tengah semua itu,
seorang lelaki menggenggam rokok,
ia menatap langit dan berkata:
“Dancuk… tapi aku isih urip.”
dan itulah satu-satunya kemenangan yang tersisa.


Orek-Orek

(terinspirasi dari lagu “Orek Orek”)

Ada tulisan yang tak terbaca oleh pengadilan
“Kejujuran telah mati di tangan saudara sendiri.”

Orek-orek, catatan kecil dari warung pinggiran,
tempat hukum disajikan bersama amplop dan basa-basi.
Mereka menari di atas pasal-pasal,
sementara rakyat digantung
oleh tanda tangan yang tak selesai.

Korupsi bukan lagi aib,
ia kini jadi upacara kenegaraan
dengan senyum manis berwarna oranye
di depan kamera televisi.

Demo dianggap anarki,
tapi maling dianggap manusiawi.
Ironi—tradisi bangsa yang konon katanya
bangsa yang santun ini.

Mungkin nanti akan lahir generasi baru
yang menulis ulang sejarahnya
dengan tinta kejujuran.

Sampai saat itu tiba,
biarlah aku mencatat semua ini
dengan orek-orek kecil,
di sudut kertas yang belum disensor komisi penyiaran kerugian negara.

Madiun, 6 November 2025



Editor: Rara Zarary
Penulis: Fileski Walidha Tanjung, penulis dan penyair kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, esai, cerpen di berbagai media nasional. Buku terbarunya berjudul “Diksi Emas”