Pesantrenku Bisa Bicara #2

44

Pulang
Katanya ini rumah
Tapi menuntutku untuk berbenah
Bukankah itu peran sekolah
Sesekali bolehlah aku berkata lelah

Dunia sibuk sekali mencari cerita
Katanya untuk berita
Tapi aku tak pernah tahu dunia menunjukkan kasih sayang
Yang kutahu, dunia suka merakit perang

Semua tidak diletakkan pada tempatnya
Hingga Maha Guru saja harus menyapu dosa
Tidurlah di tempat tidur
Biar aku bisa  berkuasa di ruang tamu


Jalang
Duh Sayang, apa yang kau lakukan
Mandi kok tanpa atap yang bersayap
Kau pikir dunia ini gelap
Cebokin matamu yang pengap itu!

Janganlah mencari akar yang telah dikubur
Biarkan dia menjadi pondasi rakyat makmur
Biarkan batang menopang untuk subur
Jadi, janganlah kau menggelapkan sesuatu yang terang, Sayang!

Hati-hati CCTV di pohon jambu
Lalu lintas tidak mengenal batas

Jika kau terus merangsang tragis
Ya, mohon maaf kalau tanah depan rumah tak lagi basah


Dalang
Aturan mana yang membuatmu bangun kesiangan, Tuan
Syawir atau PR masa depan?
Oh, rupanya dia yang suka melambaikan
Oh, rupanya dia yang suka memikat kenangan

“Jangan salah paham dulu!” pintanya.

Aku tertawa keras. “Hahaha, saya tidak pernah salah paham. Tapi dalang dari sebuah skandal, bebas mau berkata apa. SAYA MEMANG PAHAM!”

Padahal syawir ada bukan untuk dicela
Padahal masa depan ada bukan untuk dilecehkan
Tapi ya begitu
Urat yang suka berkelana mencari darah suci, tidak mau tanggung jawab untuk masa kini


Malang
Kau kira aku hanya diam
Kau kira aku tak pernah mendengar
Kau kira aku mati rasa
Kau kira aku tak tahu bejat yang berdusta

Minimal kau buka lembaran lusuh itu
Bekasmu menangis saat papan tulis mengadu
Ada bekas jemariku, di situ
Ada bekas tenangmu, di situ

Amnesia benar-benar menyiksa
Satu huruf sampai dermaga
Satu api membakar pesona
Lantas salahkan jika aku ingin membodohkan?



Penulis: Azizah Bounty
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online