
Seminggu sebelum perjalanan ke sebuah pantai di ujung selatan Jawa, yang sejak dulu terkenal dengan mitos-mitos menyeramkan, aku sempat berpikir berkali-kali: Benarkah aku akan pergi ke sana? Aman tidak, ya?
Hampir setiap hari aku memikirkannya, sampai akhirnya aku mengabari orang tuaku H-1 sebelum keberangkatan.
Pantai itu terkenal dengan kisah ular besar dan hal-hal gaib lainnya. Entah kenapa, justru mitos itu yang membuat aku dan teman-temanku tertarik untuk pergi. Padahal sekarang adalah musim hujan, jalanan rawan longsor dan badai, namun semangat kami tidak luntur. Kami berangkat siang hari, dan perjalanan yang panjang memaksa kami untuk bermalam di sebuah desa.
Siang itu, awan gelap sudah menebal dan menggantung sepanjang jalan. Dari berangkat hingga seperempat perjalanan, hujan badai akhirnya turun. Jalan berkelok, tanjakan curam, dan turunan tajam membuat kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan di malam hari. Tetapi badai sudah terlanjur menyergap, dan kami harus memutuskan.
“Gimana, Sar? Ujan badai gini…” tanya Wulan, suaranya bergetar menahan dingin.
“Lanjut nggak sih?” sahut Rona pelan.
“Tapi gelap banget, sumpah,” timpal Rina dengan wajah pucat.
“Ayo lanjut. Daripada kita lama di sini.” Sari menghela napas, namun suaranya tegas. “Kita lewati badainya bareng-bareng.”
Jalanan gelap dan berkabut menyambut kami. Motor dipacu pelan-pelan, hanya mengandalkan lampu yang temaram dibelah hujan. Ada rasa takut, tetapi waktu justru yang mengejar kami.
Setengah malam, kami sampai di lokasi istirahat sementara. Empat jam perjalanan ditemani hujan, badai, dan angin tanpa petir membuat tubuh kami menggigil hebat. Kami segera mencari tempat makan untuk mengisi perut yang sudah tak bisa diajak kompromi.
Kami menemukan sebuah mal besar. Niat awal hanya untuk makan dan berteduh.
“Yok, makan dulu. Capek hujan-hujanan terus,” ajak Sari.
“Terus habis makan gimana?” tanya Rina.
“Lihat nanti… di atas ada apa,” jawab Rina sambil menengok ke lantai atas.
Wulan masih repot melepas dan merapikan jas hujan di parkiran. Kami masuk ke mal dalam keadaan lusuh, rambut acak-acakan, dan pakaian lembap. Naiklah kami ke lantai empat, berputar-putar sambil membicarakan hal-hal ringan.
“Masih jauh nggak sih penginapannya?” Wulan menahan perutnya yang mulai memberontak.
“Coba tak lihat maps dulu…” jawab Sari.
Di sampingnya, Rina tampak bingung. Sandalnya hilang saat di tengah perjalanan tadi, entah terbawa arus hujan atau terlepas tanpa ia sadari. Ia terpaksa masuk ke mal tanpa alas kaki, membuatnya menarik perhatian beberapa pengunjung.
“Rin, ayok tak temani beli sandal,” kata Rona.
“Ayok. Lantai berapa tokonya?” balas Rina, sedikit malu.
Sari melirik papan jadwal di depan bioskop. “Nonton yuk habis ini… biar sekalian istirahat.”
Kami saling pandang, lalu tertawa kecil. Di tengah badai, dingin menusuk, dan misteri pantai yang menunggu, sejenak kami lupa betapa menyeramkannya perjalanan ini.
Perjalanan yang katanya angker itu bahkan belum dimulai. Namun tanda-tandanya sudah terasa…
“Boleh, boleh… sambil nunggu hujan reda,” jawab Wulan sambil menggosok kedua lengannya yang dingin.
Akhirnya kami memutuskan menonton film di bioskop. Dua jam rasanya cukup untuk menyegarkan kepala setelah empat jam diterjang hujan badai. Seusai menonton, kami membeli makanan yang bisa dibungkus untuk makan di penginapan.
Lima menit berkendara dari mal, kami tiba di gang kecil tempat penginapan itu berada. Rumahnya sedikit menyeramkan, kripi-kripi, kata orang Jawa, tapi cukup layak untuk semalam.
Ekspektasi kami yang ingin mengobrol panjang sampai malam langsung buyar. Begitu melihat kasur, tubuhku seakan ditarik gravitasi seribu kali lipat. Aku langsung rebah dan terlelap. Temanku yang masih lapar pun keluar lagi, hanya demi mencari tahu telur goreng.
***
Malam berganti pagi. Suara azan subuh membangunkan kami. Satu per satu mengantre kamar mandi, lalu salat subuh, dan mulai bersiap. Namanya juga perempuan, habis subuh bersiap jam tujuh baru benar-benar siap berangkat. Kami keluar penginapan sambil menenteng barang-barang. Perut sudah mulai bernyanyi.
“Mau makan dulu apa nggak?” tanya Sari.
“Makanlah. Lapar, aku…” jawabku sambil meringis.
“Ayok makan,” timpal Rona.
“Aku ikut, terserah mau makan apa,” sahut Rina santai.
Setelah memilih-milih, akhirnya kami menemukan warung makan yang ramai dan punya banyak menu. Kami melahap sarapan dengan tenang, lalu bergegas menuju pantai. Perjalanan kira-kira tiga jam.
Jalanan yang kami lalui hanya mengandalkan maps yang entah benar entah tidak. Dan benar saja, kami diarahkan melalui jalur alternatif yang sangat menyiksa. Selama satu setengah jam kami menyusuri jalan berlubang, berlumpur, penuh genangan, bebatuan liar, dan tanjakan sempit yang bikin dada deg-degan.
Hingga akhirnya kami tiba di ujung gapura masuk Pantai, tinggi, gagah, dan misterius. Kami masuk dengan perasaan campur aduk: senang, takut, dan waswas. Hutan lebat di kiri kanan membuat kami merasa seperti berada di Amazon. Ditambah lagi hujan yang masih setia mengekor sejak dua jam lalu, langit gelap memberi sensasi seperti sedang syuting film horor.
Sekitar lima menit kemudian, kami tiba di gerbang pembayaran.
Wulan langsung turun tangan.
“Pak, ada jalan lain nggak sih kalau lewat sini?” tanyanya dengan nada tegas.
“Ada, Mbak. Tapi jauh muternya…” jawab si bapak sambil tersenyum simpul.
“Lewat mana itu, Pak?”
“Keluar gapura tadi, belok kiri.”
“Tapi jalannya nggak gronjal-gronjal kan, Pak?”
“Ya… gitu lah, Mbak. Namanya juga jalan ke pantai. Medannya memang begitu.”
Rona, Rina, dan Sari hanya diam melihatku dan Wulan yang terus menginterogasi bapak penjaga gerbang itu.
Setelah memastikan tidak ada pilihan lain yang lebih manusiawi, kami melanjutkan perjalanan. Belum sampai pintu masuk pantai, kami harus melewati jalan rusak lagi—setengah jalan belum diaspal, setengah lainnya masih dalam proses dibangun. Motor harus berjalan zig-zag mencari celah yang aman.
Wuuuusshhhh…
Angin menyambut kami.
Hujan rintik-rintik menemani.
Awan gelap menggantung seperti tirai pembuka sebuah kisah yang entah akan berakhir lucu, melelahkan, atau… angker seperti kata orang.
Perasaan kami bercampur: takut, takjub, tapi juga penasaran. Dan perjalanan menuju pantai itu akhirnya… benar-benar dimulai.
Bersambung…
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















