Menguatkan Peran Muslimah di Setiap Keadaan

67
Sahabat muslimah yang sedang belajar bersama.

Di era saat ini, era di mana pencapaian sering dijadikan ukuran nilai bagi setiap orang, ambis kadang dipandang sebagai sesuatu yang harus disembunyikan bagi seorang muslimah seolah ambis berkaitan dengan kesombongan atau melupakan tugas utama sebagai seorang hamba. Padahal, ambis yang terarah dan bercahaya iman bukanlah suatu hal yang salah, ia bahkan bisa menjadi saran untuk berbakti, berkontribusi, dan membawa maslahat bagi banyak orang yang memerlukan.

Islam tidak mengajarkan stagnasi. Nabi Muhammad mengajarkan umatnya untuk selalu berikhtiar setelah berdoa, untuk mencari ilmu, dan untuk memberi manfaat. Ambis menjadi energinya, tawadhu (tunduk) menjadi kendalinya. Sebab, seorang muslimah yang ambisius tidak berarti ia meninggalkan kewajiban ibadah atau menomorduakan keluarga, melainkan menjalankan peran ganda dengan manajemen hati: kuat berusaha, lembut berhati.

Baca Juga: Kenapa Harus Takut Menjadi Perempuan Sukses?

Pertama, ambisi perlu dipahami sebagai dorongan untuk sebuah kebaikan yang meluas. Bila seorang muslimah berambisi menjadi doctor, dosen, pengusaha yang jujur, atau aktivs sosial, dia sedang menyiapkan diri untuk memberi dampak. Ambis yang demikian itu dilandasi dengan niat lillah menjadi jalan berkontribusi pada umat. niat memperbaiki kualitas hidup dikeluarga, memberi lapangan kerja, atau menguatkan kaum adalah sebuah ambisi yang mulia.

Kedua, ambisi mesti berakar pada ilmu dan adab. Ilmu memberi arah adab memberi batas. Seorang muslimah yang cerdas pasti akan merencanakan ambisinya sesuai prinsip dan syariah yang berlaku. Tidak sekedar ingin dikenal, tetapi ingin kompeten dibidangnya. Tidak sekedar ingin cepat, tetapi ingin benar dan tepat. Pendidikan, mentor, dan lingkungan yang membangun menjadi sebuah penopang agar ambisi tidak melenceng menjadi egosentris.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ketiga, tawadhu dan pengakuan akan keterbatasan menusia penting untuk menjaga keseimbangan. Sebab, ambisi tanpa tunduk akan mudah melahirkan rasa sok tahu, stress atau meninggalkan tanggung jawab yang lainnya. Tawadhu mengajarkan bahwa hasil terakhir tetap di tangan allah. Usaha adalah kewajiban, hasil adalah rahasianya. Maka, sikap ini menenangkan jiwa saat target belum tercapai dan membuat setiap muslimah tetap bersyukur ketika pintu kemungkinan yang lain terbuka.

Baca Juga: 15 Peran Muslimah dalam Membangun Keluarga Sakinah

Keempat, kebijaksanaan dalam menata perioritas. Seorang muslimah seringkali memikul banyak peran santri, anak, saudara, pelajar bahkan semua butuh perhatian. Ambisi sehat memuntuk kemampuan memilih mana yang perlu didahulukan sekarang dan mana yang boleh ditunda nanti. Ini bukan soal meneyrah, melainkan berstrategi agar seluruh peran dapat dijalankan sesuai garis tanpa mengorbankan iman.

Terkahir, komunitas yang mendukung sangat menentukan. Di lingkungan pesantren atau komunitas muslimah, dukungan moral dan fasilitas (pelatihan, akses ilmu, jejaring) memberi ruang tumbuh bagi ambisi positif. Seorang pembimbing yang bijak akan menyemangati ambisi yang selaras nilai agama dan sosial.

Ambisi yang ditopang niat yang benar, ilmu, adab, dan tawadhu akan menghasilkan muslimah yang produktif sekaligus tawadhu. Ia berkarya bukan untuk pamer, tetapi untuk memberi manfaat, bukan untuk menyaingi, tetapi untuk melengkapi. Dengan begitu, ambisi bukan lagi sebuah beban atau stigma, melainkan amanah yang membawa berkah bagi diri sendiri dan umat.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary