
Aku tidak pernah benar-benar mengerti alasan mengapa keluarga kami begitu sering berpindah tempat. Setiap kali aku mulai menata barang-barang di kamar baru, Ayah justru sudah berbicara tentang tempat lain yang harus kami tuju. Dan setiap kali itu terjadi, Ibu hanya menjawab singkat, “biar aman.”
Tapi “aman” bagi keluarga kami bukan berarti jauh dari keramaian atau lebih dekat dengan keluarga. Aman berarti menjauh dari sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang mengikuti kami.
Sebelumnya kami tinggal di sebuah desa di luar provinsi ini. Awalnya keluarga masih mencoba bertahan meski tiap malam terdengar langkah kaki di atap, pintu terbuka sendiri, atau suara seretan yang muncul di lorong rumah. Namun ketika sosok tinggi dengan rambut sangat panjang mulai menampakkan diri di ruang tengah di tempat kami biasa berkumpul ayah menyerah. Sosok itu hanya berdiri diam, tapi cukup untuk membuat kami tidak bisa tidur.
Ayah memutuskan pindah jauh, bahkan sampai ke Kalimantan. Kami menempati sebuah rumah sederhana di Desa Mungguran, desa kecil dekat sungai dan pelataran hutan. Rumah itu milik saudara dari pihak Ibu katanya, rumah singgah keluarga turun-temurun. Setiap kali ada kerabat yang butuh tempat menetap sementara, rumah di Mungguran selalu terbuka.
Ibu bilang, di sini tenang. Jauh dari gangguan. Tidak banyak orang, hanya suara sungai dan angin yang melewati pepohonan.
Aku ingin percaya, namun sejak malam pertama, saat aku berdiri di teras memandang gelapnya hutan di seberang sungai, aku merasakan hal yang sama seperti di rumah lama, perasaan bahwa kami tidak datang sendirian.
****
Sejak kami pindah ke Desa Mungguran, keadaan bukannya membaik justru semakin memburuk. Hari pertama, Ayah masih tersenyum dan berkata bahwa udara Kalimantan lebih bersih. Ibu tampak lega karena akhirnya kami punya tempat tinggal yang menurutnya “aman”. Tapi sejak saat itu, teror yang dulu hanya sesekali muncul, berubah menjadi rutinitas yang tidak pernah absen setiap malam.
Aku, mungkin yang paling merasakannya, orang-orang bilang aku memiliki kelebihan. Sejak kecil, aku bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain. Awalnya aku pikir semua orang bisa melihat bayangan lain berdiri di pojok ruangan, atau sosok yang berjalan melewati pintu tanpa menyentuh lantai. Baru ketika aku berumur lima tahun, Ibu bilang:
“Sisi… tidak semua orang bisa melihat yang kamu lihat.”
Ibu mengatakannya pelan, seolah takut jika kata-katanya mengundang sesuatu. Sejak itu, aku belajar untuk diam setiap kali melihat sosok karena semakin aku bereaksi, semakin kuat kehadirannya.
Di rumah lama, sosok tinggi dengan rambut panjang hanya berdiri dari jauh. Tapi di Mungguran, ia mulai mendekat.
Awalnya hanya suara langkah di beranda, seperti seseorang berjalan mondar-mandir di luar rumah. Ayah mengira itu hanya binatang hutan. Namun suara itu selalu berhenti tepat di depan pintu kamar aku.
Kadang, saat Ibu memasak, piring di rak dapur bergerak sendiri dan jatuh satu per satu. Ibu akan berusaha tersenyum sambil berkata itu karena getaran dari lantai kayu tua. Tapi kami sama-sama tahu, itu bukan penyebabnya.
Yang paling jelas terjadi tiga hari setelah kami pindah, aku baru selesai menimba air di tepi sungai. Matahari sore menyisakan warna jingga yang menyentuh permukaan air. Di kejauhan, suara burung terdengar sayup-sayup. Saat aku kembali ke halaman rumah, aku berhenti mendadak.
Ada seseorang atau sesuatu berdiri di dekat pintu belakang, tinggi, rambutnya panjang dan kusut, jatuh seperti kain hitam basah hingga menyentuh tanah. Tubuhnya terlalu kurus, seperti hanya kulit dan tulang. Tapi yang membuatku benar-benar tidak bisa bernapas adalah posisi kepalanya, menunduk rendah, miring, seolah lehernya tidak punya tulang.
Sosok itu berdiri tepat di depan pintu yang hanya beberapa langkah dariku, aku mematung. Seseorang dalam tubuhku ingin berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.
Makhluk itu tidak bergerak. Tidak mengangkat kepala, hanya berdiri seakan sudah menunggu.
“Aku tahu kau bisa melihatku.”
Suara itu terdengar di kepalaku, bukan melalui telinga, langkahku mundur perlahan. Tanpa sadar aku menjatuhkan ember. Suara dentang ember itu memecah suasana dan tiba-tiba sosok itu menghilang secepat bayangan yang tersapu angin.
Ketika aku masuk ke dalam rumah, Ayah melihatku pucat.
“Ada apa, Sisi?” (aku menggeleng. Sulit mengeluarkan kata-kata.)
Ayah menatap dengan mata yang lelah. Ia tahu. Ibu juga tahu.
Sejak pindah ke Mungguran, kami mulai menyadari satu hal yang tak terbantahkan:
Kami bukan lari dari sosok itu, tapi sosok itu ikut bersama kami.
Dan entah kenapa di tempat yang jauh dari rumah lama, jauh dari segala hal yang pernah kami kenal roh itu justru semakin kuat.
Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “kenapa sosok itu tidak pernah menyentuh kami?”
Kenapa ia hanya memantau dari kejauhan menatap lama, tersenyum, dan pergi seolah menikmati ketakutan kami?
Aku tidak tahu pasti jawabannya, tapi aku tahu satu hal, sosok itu tidak berhenti mengikuti kami karena ia bukan mengganggu rumah… ia mengganggu aku, seolah-olah aku adalah tujuan.
Dan semuanya terbukti pada suatu malam malam yang menjadi awal dari interaksi pertamaku dengan dunia yang selama ini hanya kuanggap sekadar “kelebihan”.
Malam itu, hujan turun tipis-tipis. Suara deras sungai Mungguran mengalun seperti bisikan panjang. Aku baru selesai mandi. Wangi sabun masih melekat di kulit. Aku berjalan ke kamar dengan rambut basah terurai, dan langsung menuju cermin di dekat jendela untuk menyisir rambutku.
Lampu kamar sedikit redup. Cermin itu tua, kayunya sudah rapuh dimakan usia. Tapi ada satu benda yang membuat kamar itu terasa lebih hangat, boneka kecil berbaju wol kuning hadiah dari Ibu saat ulang tahunku.
Aku meletakkannya tepat di sebelah cermin, saat aku menyisir rambut, aku melihat pantulan boneka itu. Tapi pantulan yang terlihat bukan sekadar boneka yang duduk diam.
Ada tangan kecil yang memegangnya, aku terhenti.
Pelan-pelan aku menoleh ke belakang tidak ada siapa pun. Kamar kosong. Jendela tertutup rapat.
Aku kembali menatap cermin, dan di sana, pantulan itu semakin jelas.
Sebuah tangan kecil, kecil sekali berwarna pucat keabuan, dengan jari-jari kurus, sedang menarik bonekaku. Bukan tangan anak manusia. Kulitnya seperti plastik yang menempel di tulang.
Kemudian sebuah wajah muncul di samping bonekah itu, tidak berambut. Mata bulat tanpa kelopak. Senyumnya lebih mirip irisan tipis di kulit. Dan suaranya lirih seperti anak kecil yang mencoba menahan tawa.
“Pinjem…”
Aku terpaku. Napasku seperti berhenti. Keringat dingin mengalir di punggung meski aku baru saja mandi. Sosok kecil itu, seperti tuyul yang mengangkat boneka itu sedikit, lalu berbalik ke arah jendela. Ia seperti hendak melompat keluar sambil membawa bonekaku.
Tanpa sadar aku bersuara.
“JANGAN!”
Tuyul itu berhenti, ia menoleh ke arahku. Percaya atau tidak, dia tersenyum. Senyum yang terlalu lebar untuk wajah sekecil itu. Seolah ia senang karena aku bisa melihatnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berinteraksi dengan makhluk gaib. Tuyul itu mendekat ke arah cermin bukan ke arah tubuhku, tapi ke arah pantulanku. Ia menempelkan tangannya ke permukaan kaca.
“Kamu… bisa lihat…”
Kata-katanya tidak berbunyi di telingaku, tapi menggema di dalam kepala. Seketika, pintu kamar terbuka. Ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.
“Sisi! Kamu kenapa”
Namun sebelum Ibu selesai bicara, sosok itu menghilang. Boneka jatuh ke lantai, tepat di depan kakiku.
Aku hanya berbisik pelan, nyaris tak terdengar.
“Bu… dia ada di sini.”
Ibu memandangku lama. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan karena kaget.
“Ibu sudah tahu ini akan terjadi.”
Dan dari malam itu, aku mengerti sesuatu, sosok tinggi berambut panjang yang selalu memantau kami bukan satu-satunya yang tertarik padaku.
Bersambung…
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary


















