Ketika Iman Diuji oleh Reruntuhan: Refleksi dari Tragedi Pondok Al-Khoziny

120
PP Al-Khoziny

Hujan sore itu turun perlahan di Sidoarjo. Tidak ada yang menduga bahwa di tengah waktu salat Asar, musala di sebuah pondok pesantren tiba-tiba runtuh. Tembok-tembok roboh, atap terlepas, dan puluhan santri yang sedang beribadah menjadi korban. Dalam hitungan jam, kabar duka itu menyebar di berbagai media. Linimasa media sosial dipenuhi doa, tangis, dan tanya.

Peristiwa ini bukan hanya tentang bangunan yang runtuh. Ia adalah cerita tentang iman yang diuji oleh kenyataan pahit, tentang manusia yang diuji di tengah usaha menegakkan kebaikan. Pondok pesantren yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan menuntut ilmu, justru menjadi saksi bisu atas kehilangan begitu banyak nyawa muda yang tengah mengejar ridha Allah.

Namun, di balik duka itu, kita belajar sesuatu yang jauh lebih dalam. Bahwa hidup manusia memang rapuh, dan di atas segala rencana manusia, ada kehendak Allah yang tidak bisa ditolak. Tetapi, di sisi lain, Islam juga mengajarkan bahwa setiap tragedi memiliki pesan: agar manusia tidak lalai terhadap tanggung jawabnya di bumi.

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Artinya:“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu)..” (QS. Asy-Syūrā: 30)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ayat ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan. Bahwa takdir dan ikhtiar selalu berjalan berdampingan. Bahwa iman bukan hanya menerima, tapi juga berusaha sebaik mungkin agar keselamatan dan kebaikan bisa terjaga.

Tragedi pondok yang ambruk di Sidoarjo menunjukkan bahwa di balik semangat membangun lembaga pendidikan Islam, seringkali masih ada hal-hal mendasar yang terabaikan: perizinan, pengawasan struktur bangunan, dan keselamatan penghuni. Kita menyebutnya “musibah”, padahal mungkin ada unsur kelalaian manusia yang menjadi sebabnya.

Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334).

Hadis ini mengajarkan ihsan kesungguhan dalam setiap amal. Termasuk dalam membangun pondok, mendirikan ruang belajar, atau merancang mushola tempat ibadah. Karena sejatinya,

tanggung jawab dalam Islam tidak berhenti di niat baik, tapi juga diwujudkan dalam tindakan yang benar.

Tragedi ini juga menampar kesadaran kita bersama. Bahwa menjaga keselamatan santri bukan semata urusan teknis, melainkan bagian dari ibadah. Bahwa iman yang benar tidak cukup hanya dengan doa, tetapi juga dengan perencanaan dan kehati-hatian. Ketika manusia mengabaikan tanggung jawabnya terhadap keselamatan orang lain, maka itu bukan semata “takdir”, melainkan bentuk kelalaian yang perlu diperbaiki.

Namun, kita juga melihat wajah lain dari peristiwa ini: wajah ketabahan dan solidaritas. Banyak pihak datang membantu, masyarakat bergotong royong, para santri lain terus melantunkan doa, dan berbagai lembaga pesantren saling menguatkan. Dalam kesedihan, Islam menunjukkan keindahannya. Bahwa ukhuwah bukan hanya kata, tapi nyata dalam tindakan saat duka datang.

Kini reruntuhan itu mungkin sudah dibersihkan, tapi pesan moralnya tidak boleh hilang. Dari musibah ini, kita belajar untuk lebih berhati-hati, lebih peduli terhadap keselamatan, dan lebih serius memastikan setiap pondok berdiri di atas pondasi yang kuat, baik secara fisik maupun moral.

Pemerintah dan masyarakat harus berjalan bersama, membantu pesantren dalam perencanaan pembangunan, bukan hanya memberi izin di atas kertas. Para santri yang kini belajar di bidang teknik, arsitektur, dan manajemen risiko bisa turut ambil bagian dalam menjaga warisan pesantren agar tetap kokoh. Di situlah keindahan Islam yang sejati: memadukan ilmu dan iman, dunia dan akhirat.

Runtuhnya bangunan pondok mungkin telah merenggut banyak nyawa, tetapi jangan sampai ia juga meruntuhkan kesadaran kita akan tanggung jawab bersama. Sebab pesantren bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan rumah harapan, rumah masa depan umat.

Semoga setiap batu yang jatuh menjadi pengingat agar kita membangun kembali, bukan hanya bangunan, tapi juga kesadaran dan amanah. Sebab sejatinya, iman yang diuji bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan.

 Baca Juga: Pesantren Tebuireng Salurkan Donasi untuk Pesantren Al Khoziny Sidoarjo


Sumber

Al-Qur’an Terjemah Kemenag

Hadis Riwayat Thabrani dan Tirmidzi

Liputan6. (2025, 7 Oktober). Tragedi Ambruknya Musala Empat Lantai di Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo: Kronologi dan Fakta Terbaru. Diakses dari

https://www.liputan6.com/news/read/6173061/tragedi-ambruknya-musala-empat-lantai-di-po npes-al-khoziny-sidoarjo-kronologi-dan-fakta-terbaru

Detik News. (2025, 6 Oktober). Fakta-fakta di Balik Ambruknya Ponpes Al Khoziny Sidoarjo. Diakses dari

https://www.detik.com/jatim/berita/d-8139062/fakta-fakta-di-balik-ambruknya-ponpes-al-kho ziny-sidoarjo

Reuters. (2025, 7 Oktober). Indonesia ends search for victims of boarding school collapse, 61 dead. Diakses dari

https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-ends-search-victims-boarding-school-c ollapse-61-dead-2025-10-07

Suara Surabaya. (2025, 6 Oktober). Kronologi Musala Ambruk Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Saat Santri Salat Asar. Diakses dari

https://www.suarasurabaya.net/kelanakota/2025/kronologi-musala-ambruk-ponpes-al-khozin y-sidoarjo-saat-santri-salat-asar

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (2025, 8 Oktober). Tragedi Pondok Pesantren Al Khoziny dari Kacamata Konstruksi. Diakses dari

https://www.ums.ac.id/berita/teropong-jagat/tragedi-pondok-pesantren-al-khoziny-dari-kaca mata-konstruksi


Penulis: Arifin Basit Adnan, Prodi Sains Data, Fakultas Ilmu Tarbiyah, UIN Raden Mas Said Surakarta.

Editor: Muh. Sutan