
Tebuireng.online— Menyikapi fenomena sosial yang sedang terjadi di Indonesia belakangan ini, Pesantren Tebuireng ditunjuk sebagai tempat merawat harmoni kebangsaan melalui acara “Himbauan Damai Tebuireng bersama Lintas Agama” yang digelar di halaman komplek pemakaman Pondok Pesantren Tebuireng, pada Rabu (4/9/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Halik Machfudz, Dzurriyah Tebuireng, Gus Riza Yusuf, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Dr. H. Ahmad Roziqi, Direktur Tebuireng Media Group, Dr. Mohamad Anang Firdaus. Pada kesempatan itu, hadir pula Ketua Umum DPP BAMAG LKKI Pdt Ir Agus Susanto, M.Sc., Ketua Harian Bamag LKKI Pdt. Henky, Pdt. Edwin Susanto, Romo Alex dari Ortodoks Yunani dan puluhan pendeta gereja lainnya dari berbagai daerah.
Kegiatan pada hari ini merupakan lanjutan dari pertemuan Pdt. Agus Susanto dengan Yai Kikin di Surabaya beberapa waktu lalu, yang membahas perjuangan KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Sholah dengan para sesepuh umat Kristen.

Dalam sambutannya, Pdt. Agus Susanto menegaskan bahwa acara ini bertujuan memperkuat pesan persaudaraan lintas iman di tengah keadaan Indonesia saat ini, sebagaimana dulu ketika pertempuran 10 November di Surabaya, seluruh umat bersatu untuk melawan penjajah.
“Kami ingin Tebuireng menjadi ruang terbuka bagi semua umat beragama untuk bersama-sama menyerukan kedamaian,” ujarnya.
Para pendeta yang ikut serta dalam acara ini juga mendapatkan pengalaman berharga. Mereka mengaku semakin memahami pentingnya menjadi agen perdamaian terutama ketika mendengar penjelasan Cicit Hadratussyaikh KH. Hasim Asy’ari mengenai perjuangan KH. Hasyim Asy’ari.
Pada kesempatan itu juga, Ketua PWNU Jawa Timur itu, menjelaskan bahwa ada Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad. Fatwa Jihad pertama kali dikeluarkan pada tanggal 17 September 1945, lalu pada tanggal 22 Oktober baru dikeluarkan Resolusi Jihad, dan Fatwa yang ketiga tanggal 10 November 1945.
Selain itu, Gus Kikin memberitahukan juga bahwa ada salah satu kegiatan yang masih dilakukan sampai sekarang yaitu gerak jalan dari Mojokerto ke Surabaya sebagai bentuk memperingati hari Pahlawan terutama KH. Hasyim Asy’ari beserta para santrinya yang dahulu mereka berbondong-bondong dari Jombang untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah di Surabaya.
Acara ditutup dengan pembacaan himbauan damai yang dipimpin oleh Gus Kikin, berikut isinya:
RESOLUSI DAMAI PESANTREN TEBUIRENG BERSAMA LINTAS AGAMA
1. Mari kita hadapi situasi saat ini dengan penuh kesabaran dan menahan diri agar tidak terjadi kerusakan yang lebih besar.
2. Utamakan Keselamatan dan Keutuhan untuk kemajuan NKRI.
3. Dengan kebersamaan mari kita jaga ketertiban, persaudaraan dan tidak menimbulkan perselisihan yang menyebabkan adanya permusuhan.
4. Menyampaikan aspirasi kepada Pemerintah dengan cara yang baik, tidak memprovokasi, tidak melakukan tindakan anarkis dan juga tidak melakukan perusakan.
5. Pemerintah, DPR dan Aparat agar menyikapi situasi ini dengan kepala dingin, profesional dan lebih terbuka menerima masukan dan kritikan diiringi dengan evaluasi dan muhasabah.
6. Mari kita bangun kebersamaan, persatuan yang dilandasi dengan persaudaraan.
7. Mengikuti jejak langkah seluruh pendahulu kita yang telah memperjuangkan Kemerdekaan 1945.
Resolusi Damai tersebut telah disetujui dan ditandatangani oleh seluruh yang hadir dalam acara ini. Atas terselenggaranya kegiatan ini, Tebuireng berupaya terus meneguhkan diri sebagai pesantren yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga menjadi motor penggerak perdamaian lintas agama di Indonesia.
Pewarta: Bakhit Jauharullaudza
Editor: Rara Zarary


















