Dari Pesantren ke Istana: Sepak Terjang Kiai Yusuf Hasyim Raih Bintang Mahaputra

177
Gus Irfan Yusuf menerima penghargaan untuk Kiai Yusuf Hasyim sebagai Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Prabowo (foto: humas setneg)

Tebuireng.online— Pesantren Tebuireng menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penganugerahan Bintang Mahaputra Utama kepada salah satu dzurriyah sekaligus masyayikh Tebuireng, KH. M. Yusuf Hasyim. Anugerah tersebut diberikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Senin, 25 Agustus 2025, di Istana Negara, Jakarta.

Penganugerahan ini semakin meneguhkan kiprah KH. M. Yusuf Hasyim, atau akrab disapa Pak Ud, yang tercatat sebagai Pengasuh ke-6 Pesantren Tebuireng (1965–2006). Sosoknya dikenal luas di Indonesia atas dedikasi besar dalam perjuangan bangsa dan pengembangan pendidikan pesantren.

Baca Juga: KH. Yusuf Hasyim: Kiai Militer, Pembaharu Pendidikan, dan Patriot Sejati

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh putranya, Irfan Yusuf Hasyim (Gus Irfan), yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Penyelenggara Haji (BP Haji). Dalam narasi penghargaan, KH. Yusuf Hasyim dinilai berjasa luar biasa, baik di bidang pendidikan maupun perjuangan kemerdekaan, terutama melalui perannya dalam pembentukan Laskar Hizbullah. Selain itu, beliau juga dikenang sebagai kiai Tebuireng yang berhasil mengembangkan pesantren menjadi pusat pendidikan Islam modern.

“Pemberian tanda kehormatan ini karena sosok KH. M. Yusuf Hasyim berperan penting dalam pengembangan Pesantren Tebuireng sebagai pusat pendidikan Islam modern. Beliau mampu membentuk karakter kebangsaan, memperkuat peran santri dalam pembangunan nasional, sekaligus menjaga nilai-nilai moderasi beragama di Indonesia,” demikian salah satu kutipan resmi dalam narasi penghargaan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dzurriyah Hasyim Asy’ari, Keluarga Pejuang Bangsa

KH. M. Yusuf Hasyim merupakan putra bungsu dari tujuh bersaudara anak Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama. Ayahnya lebih dahulu dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Soekarno No. 249/1964, berkat fatwa-fatwanya yang berpengaruh besar pada masa perang kemerdekaan (1945–1947).

Baca Juga: Pandangan Tokoh tentang Perjuangan KH. Yusuf Hasyim, Sang Patriotisme dan Moderatisme

Tiga fatwa penting KH. Hasyim Asy’ari antara lain: (1) perang melawan Belanda adalah jihad wajib bagi seluruh umat Islam Indonesia, (2) umat Islam diharamkan naik haji menggunakan kapal Belanda, dan (3) umat Islam diharamkan mengenakan atribut penjajah seperti dasi.

Sementara itu, KH. Abdul Wahid Hasyim, kakak KH. Yusuf Hasyim, juga telah lebih dahulu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden No. 206/1964. Beliau dikenal atas perannya di BPUPKI dan PPKI dalam merumuskan dasar negara, menjembatani perbedaan antara kalangan Islam dan nasionalis, serta menjabat sebagai Menteri Agama RI dalam tiga kabinet berbeda (1949–1952).

Perjuangan Pak Ud dari Laskar Hizbullah hingga Politik Nasional

KH. Yusuf Hasyim memulai kiprah perjuangannya sejak usia 16 tahun dengan bergabung dalam Laskar Hizbullah Jawa Timur pada awal 1945. Setelah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, ia terpilih menjadi Komandan Kompi Laskar Hizbullah Jombang. Saat pertempuran berlangsung, beliau sempat tertembak di dada, namun peluru tidak sampai menembus tubuhnya.

Pada 1947, Laskar Hizbullah dilebur ke dalam Tentara Nasional Indonesia, dan Pak Ud tercatat sebagai salah satu perwira aktif hingga berpangkat Letnan Satu. Tahun 1948, saat pemberontakan PKI Madiun meletus, beliau dipercaya menjadi komandan tempur di garis depan. Dalam peristiwa itu, beliau berhasil menyelamatkan tokoh-tokoh penting seperti Kapten Hambali, KH. Ahmad Sahal, dan KH. Imam Zarkasyi (Pengasuh Pondok Modern Gontor).

Selepas masa revolusi, kiprah beliau terus berlanjut. Pasca G30S/PKI, beliau aktif di organisasi kemasyarakatan dan politik, antara lain sebagai Ketua Wilayah Ikatan Bekas Pejuang Islam Indonesia (Jawa Timur), Ketua I PB GP Ansor, serta Wakil Sekretaris Jenderal Legiun Veteran RI. Pada 1967, beliau juga masuk DPR-GR dan terus berkiprah hingga dekade 1980-an.

Baca Juga: Kenangan Keluarga Bersama Kiai Yusuf Hasyim

Di tubuh NU, Pak Ud menjadi salah satu Ketua PBNU dan berperan dalam keputusan penting Muktamar Situbondo 1984, yang mengembalikan NU ke Khittah 1926.

Penghormatan atas Jasa Besar

Sebagai penghormatan, pada Maret 2007 Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) menetapkan KH. M. Yusuf Hasyim sebagai Pahlawan Nasional melalui simbol pemberian tonggak bambu runcing di atas pusara beliau di Maqam Masyaikh Pesantren Tebuireng. Kini, anugerah Bintang Mahaputra Utama dari Presiden Prabowo semakin meneguhkan bahwa kiprah Pak Ud dalam perjuangan bangsa dan pengabdian di pesantren layak dikenang sepanjang sejarah Indonesia.



Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary