
Tebuireng.online– Ma’had Aly Hasyim Asy’ari (MAHA) Tebuireng menggelar kegiatan Masa Ta’aruf Mahasantri Baru (Ma’asim) untuk Marhalah Tsaniyah (M2), pada Sabtu dan Ahad (19–20/7/2025). Acara ini diikuti oleh 26 mahasantri baru M2, terdiri dari 18 mahasantri laki-laki (banin) dan 8 mahasantri perempuan (banat). Kegiatan ini diselenggarakan sehari setelah berakhirnya Ma’asim Marhalah Ula (M1), di Perpustakaan MAHA Tebuireng.
Kegiatan dibuka pada Rabu pagi pukul 07.30 WIB, diawali dengan sambutan dari Ketua Marhalah Tsaniyah, Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, MA., H.Um., kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan peresmian kegiatan oleh Mudir MAHA Tebuireng, Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.Hi.
Baca Juga: Masa Ta’aruf Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng Angkat Tema Digitalisasi Hadis
Turut hadir dalam acara pembukaan Ma’asim jajaran pimpinan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, antara lain, Mudir MAHA, Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.Hi., Wakil Mudir bidang Kemahasantrian MAHA, Dr. M. Hamsa Fauriz, M.H., Wakil Mudir bidang Akademik Dr. Muhamad Anang Firdaus, M.Pd.I., serta Ketua Marhalah Tsaniah (M2) MAHA, Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah, MA., Hum.
Dalam sambutannya, Dr. Ubaydi Hasbillah menekankan pentingnya penguatan epistemologi hadis melalui pengembangan teori dan pembaruan wacana keilmuan yang bersumber dari pemikiran para ulama, baik klasik maupun kontemporer.
“Kajian hadis tidak semestinya berhenti pada tataran teoritis semata, tetapi harus mampu bertransformasi menjadi disiplin ilmu yang responsif serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat global. Mahasantri dituntut untuk membangun pola pikir kritis terhadap teori-teori ilmu hadis, sembari menghidupkan kembali warisan intelektual ulama melalui pendekatan kontekstual,” ujarnya.
Beliau juga menyampaikan pesan dalam bahasa Arab:
“لزم في البحث أن نقوم بتطير النظريات في الحديث وعلومه وتطوير أقول العلماء فيه، لأن يكن هذا العلم علماً صالحاً في حياتنا وفي هذا العالم”
Sementara itu, Mudir MAHA, Dr. KH. Achmad Roziqi, menegaskan bahwa pendekatan wasatiyyah (moderat) harus menjadi fondasi dalam studi hadis. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap kecenderungan sebagian pihak yang mengaitkan kajian hadis dengan paham keagamaan ekstrem.
Baca Juga: Marhalah Tsaniyah (M2) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Resmi Dimulai
“Pendekatan wasatiyyah harus menjadi arus utama dalam studi hadis. Di Indonesia, metode moderat telah menjadi pilar dalam memahami agama. Kita menolak tuduhan bahwa sunah bersifat radikal. Sebaliknya, sunah adalah sumber nilai kasih sayang dan rahmat,” beliau juga menyampaikan dalam penjelasan berbahasa Arab:
“كما عرفنا في إندونيسيا منهجه المنهج التوسط، وننفي الدعوى بأن السنة راديكالية… ينبغي أن تكون دراستنا في المعهد العالي مصدراً لنشر الرحمة في هذا العالم”
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi tentang sejarah Marhalah Tsaniyah oleh Dr. KH. Achmad Roziqi. Ia menjelaskan latar belakang pendirian M2 MAHA sebagai kelanjutan dari M1, keunikan M2 MAHA dibandingkan program S2 lainnya, serta profil ideal lulusan Marhalah Tsaniyah.
Selanjutnya, Dr. Ahmad Ubaydi Hasbillah menyampaikan materi mengenai kurikulum dan regulasi akademik, yang menekankan pentingnya keselarasan visi, misi, dan semangat keilmuan di lingkungan MAHA.
Pada hari kedua, para mahasantri menerima materi mengenai model perkuliahan di M2 MAHA. Dr. Muhamad Anang Firdaus menyampaikan topik-topik penting seperti penguasaan literatur klasik (turats), metodologi ulama, hingga penulisan artikel jurnal sebagai tugas akademik.
Baca Juga: Workshop Penulisan, LPPD Jatim Dorong Mahasantri M2 Terbitkan Buku
Ustadz Syahrul Rizki Ramadhan, S.H., M.Ag., memberikan pengenalan tentang jurnal-jurnal hadis. Dalam sesi ini, mahasantri diminta memilih satu topik riset bertema hadis, mengumpulkan 10 jurnal terkait, serta menyusun pernyataan sebagai peneliti.
Kegiatan ditutup dengan penyampaian materi mengenai desain model pengabdian mahasantri oleh Dr. M. Hamsa Fauriz. Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa bentuk pengabdian tidak selalu harus berupa kajian hadis formal.
“Pengabdian kepada masyarakat bisa hadir dalam berbagai bentuk, selama tetap relevan dengan nilai-nilai keagamaan. Bahkan menjadi influencer pun dapat menjadi bentuk pengabdian, selama memberikan dampak positif yang nyata bagi lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Pewarta: Muhammad Fatkhun Ni’am


















