Tragedi Bendera

113
Sumber gambar: darunnajah.com

Oleh: Wilda*

Burung-burung berterbangan kesana-kemari menyambut aktifitas manusia, sedang aku dan Asna berjalan cepat menuju sekolah.
“Na, hari ini peringatan Hari Pahlawan loh,” mendengar ucapanku Asna kaget.
“Hah?! Upacara dadakan dong!” jawab Asna sambil menggembungkan pipi.

Di depan gerbang sudah ada guru piket menggiring para sisiwi agar segera masuk. Benar saja di halaman beberapa anggota OSIS sudah mempersiapkan peralatan upacara seperti stand mic dan sound system. Di ujung halaman pasukan paskibra juga sudah siap dengan baju putih dan pecinya.

Bel masuk menggema di seluruh penjuru sekolah yang tidak terlalu luas ini. Seluruh sisiwi berkumpul di halaman. Maklum sekolahku merupakan madrasah khusus putri.
Melalui microphone pak Ali mengkomando seluruh siswi agar berbaris dengan rapi.
“Aduh, Mel! Aku belum sarapan.” keluh Asna di sela merapikan barisan.
“Jangan pingsan. Kamu kan berat,” candaku.

Samar-samar masih tedengar candaan para siswi tapi tidak lama suara lantang pemimpin pasukan menyiapkan. Pertanda upacara telah dimulai.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Suasana upacara terasa khidmat. Hanya terdengar suara air mancur taman yang mendominasi. Tibalah bendera merah putih akan dikibarkan.

Dengan langkah tegap petugas pengibar bendera berjalan mendekati tiang setinggi bangunan lantai dua itu.
“KEPADA BENDERA MERAH PUTIH HORMAAAAT GRAKK!!” seluruh siswi hormat menghadap bendera. Tim paduan suara mengiringi dengan lagu Indonesia Raya.

Saat bendera masih berada di tengah tiang, tiba-tiba tali untuk mengerek bendera menyangkut di ujung tiang, dengan tenang petugas bendera berusaha menarik tali itu tapi tetap saja bendera tidak bergerak hingga lagu Indonesia Raya sudah hampir selesai. Aku melirik Asna dan dia hanya menarik nafas pelan, bapak dan Ibu guru pun saling lempar pandangan.

🤔  Kepada Kamu

Dengan cepat pak Ali berlari menuju lantai dua. Untung saja ujung dari tiang bendera tidak jauh dari bangunan. Pak Ali membenarkan tali yang melilit tadi, alhasil petugas pengibar bisa menarik tali sehingga bendera sampai di ujung tiang.

Suasana yang sempat tegang berubah menjadi riuh sorakan dan tepuk tangan bersamaan dengan lagu Indonesia selesai dinyanyikan. Pak Ali tersenyum dan kembali ke barisan dewan guru.
“News on the day. Pak Ali berhasil membuat bendera berkisar,” bisik Asna berlagak seperti reporter. Aku menahan tawa.
Setelah itu, upacara kembali berjalan dengan hikmat hingga selesai.
Saat pasukan dibubarkan suara siswi masih terdengar membanggakan pak Ali.
“Dih, pak Ali jadi trending topic hari ini,” celetuk Asna saat kami sudah duduk di bangku.
“Iya, tau gitu kamu aja tadi yang benerin benderanya,” candaku.
“Hahaha..”
Di kelasku pun sama para siswi membicarkan ‘Aksi heroik pak Ali untuk mengibarkan bendera’ begitu Asna menamainya. Sampai akhirnya mereka bubar karna guru sudah datang dan pelajaran di mulai.

*Santriwati Pondok Pesantren Walisongo Cukir.