Tidak Kunjung Dikaruniai Anak? Begini Kiat-Kiatnya

633
Sumber gambar: http://kaltara.prokal.co

Oleh: Ustasdz Hanif Fathoni*

Assalamuallaikum Wr Wb

Begini Pak Ustadz, saya sudah menikah selama hampir 9 tahun, tapi kami belum kunjung dikaruniai keturunan dan selama ini kami sudah berikhtiar ke sana kemari. Kiranya kami mohon sarannya dari Ustadz agar kami segera memperoleh keturunan. Terima kasih.

Wanto, Kuningan

Wa’alaikumsalam Wr Wb

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Terima kasih kepada penanya, Bapak Wanto di Kuningan Jawa Barat. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan segala aktifitas sehari-hari. Amiin yaa rabbal ‘alamiin. Adapun ulasan jawabannya sebagai berikut:

Pada umumnya pasangan suami istri yang baru menikah ingin segera mendapatkan momongan, karena memang itu di antara tujuan umum dari menikah yaitu meneruskan keturunan. Bahkan berbagai macam cara ditempuh untuk bisa mendapatkan keturunan.

Sebagai orang Islam, alangkah baiknya kita pahami terlebih dahulu konsep anak maupun keturunan dalam Islam. Dalam Al Quran sendiri disebutkan pada surat al-Anfal ayat 28 disebutkan sebagai berikut:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar” (Surat Al Anfal: 28).

Menurut Imam Thobary dalam kitab tafsirnya Tafsir at Thobari bahwa yang ditakwil dari ayat tersebut sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Abu Jakfar adalah sebagai pengingat untuk seluruh orang mukmin (orang yang beriman) bahwa seluruh harta yang diberikan, anak keturunan yang dianugerahkan merupakan ujian dan cobaan (ikhtibar wa bala) untuk menguji dan mencoba orang-orang beriman bagaimana orang-orang mukmin itu memenuhi hak-hak Allah, melaksanakan perintahnya maupun meninggalkan larangan-Nya.

Hal itu diperkuat pula oleh Imam Qurthuby dalam tafsirnya dan beberapa tafsir lainnya bahwa harta dan anak merupakan ujian dan cobaan manusia beriman, bagi siapa yang bisa bersabar dan melewati ujian ini maka Allah telah menyiapkan baginya pahala yang agung.

Isyarat bahwa anak merupakan ujian dan cobaan diperkuat lagi dalam ajaran Islam dengan adanya aqiqah seperti dalam hadis hasan shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah berikut ini :

كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ، تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ، وَيُسَمَّى

Masing-masing anak manusia tergadaikan oleh aqiqah nya, yaitu disembelih untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya dan diberikan nama”.

Dengan kata lain anak merupakan amanah ujian dan cobaan bagi orang-orang mukmin. Sehingga untuk bisa mengemban amanat ini hendaknya seorang mukmin mempersiapkan diri dengan sabar dan doa.

Disamping hadis di atas keterangan lain yang memperkuat hal tersebut di atas adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَاجَدْعَاءَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Setiap anak yang lahir dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka orang tuanya lah yang (bertanggung jawab atas) membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi sebagaimana hewan buas melahirkan pula hewan buas. Bukankah kamu melihat mereka memiliki persamaan?”. (HR. Bukhori)

Dari beberapa keterangan diatas dapat dipahami pula bahwa seorang hamba hendaknya menyiapkan diri (lahir dan batin) pula untuk bisa mengemban amanat ini. Yang harus diperhatikan adalah bersikap positif dan selalu berhusnudzon dengan ketetapan maupun ketentuan-Nya. Barangkali apa yang didapat sekarang ini lebih baik menurut Allah daripada apa yang kita inginkan, sehingga kita menyadari bahwa semuanya Allah lah Dzat Yang Maha Mengatur dan Maha Mengetahui.

Ada beberapa kisah nyata yang penulis pernah dapatkan dari narasumbernya langsung dari daerah Yogyakarta. Dahulu ada sepasang suami istri yg sudah sembilan tahun lebih berumah tangga namun tidak pula diberi keturunan oleh Allah SWT. Berbagai macam upaya lahir sudah dilakukan (ke dokter dan ke berbagai macam cara alternatif). Namun, tidak kunjung pula mendapatkan keturunan. Hingga pada akhirnya ada seorang kiai yang memberikan dia saran untuk memperbanyak istighfar dan bersedekah, dan Alhamdulillah selang beberapa waktu pun mereka memiliki keturunan.

🤔  Anak Bertanya Soal Tuhan

Di daerah lain pun penulis dapatkan kasus yang hampir sama, ada sepasang suami istri yang sudah tiga tahun membina rumah tangga, namun belum juga diberikan keturunan, mereka berusaha dengan berbagai macam upaya lahir maupun batin namun tidak kunjung pula mendapatkan keturunan. Hingga akhirnya mereka pasrahkan diri dan bersabar. Dan Alhamdulillah sekarang sudah memiliki keturunan.

Kisah nyata lain yang bahkan sempat tercatat dalam Al-Qur’an adalah kisah Nabi Zakaria yang lama tidak memiliki keturunan karena istrinya mandul sebagaimana diceritakan dalam surat Ali Imran ayat 38-40 sebagai berikut:

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ
فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ
قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang shalih.”Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” [Surat Ali-Imran: 38-40]

Kisah lain tentang dijawabnya doa tersebut oleh Allah dalam keterangan ayat berikut:

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ [الأنبياء : 89]
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ [الأنبياء : 90]

Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.” Maka Kami kabulkan (doa)nya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami. (Al-Anbiya: 89-90)

Dijelaskan dalam Imam Jalaluddin dalam Tafsir Jalalain bahwa makna ayat di atas adalah, “(Dan) ingatlah kisah (Zakaria) (tatkala ia menyeru Rabbnya) melalui doanya yang mengatakan, (“Ya Rabbku! Janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri) tanpa anak yang kelak akan mewarisiku (dan Engkaulah Maha Pewaris Yang Paling Baik”) yang tetap abadi sesudah semua makhluk-Mu musnah.” (Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya (sebagai anaknya) serta Kami jadikan istrinya dapat mengandung sehingga dapat melahirkan anak, padahal sebelumnya ia mandul. Sesungguhnya mereka (para Nabi yang telah disebutkan tadi) adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan-kebaikan serta mengerjakan amal-amal ketaatan. Mereka berdoa kepada Kami dengan mengharapkan rahmat Kami dan takut kepada azab Kami. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami (yakni merendahkan diri dan patuh di dalam beribadah).

Singkat kata, berdasarkan keterangan diatas barangkali ada beberapa hal yang bisa dijadikan resep:

  • menata niat hati dan kepasrahan diri
  • memperbanyak istighfar dan sedekah
  • memperbanyak shalawat atas Nabi Muhammad
  • memperbanyak doa yang sering dilantunkan oleh Nabi Zakariya setiap selesai shalat wajib maupun Sunnah (tahajud dll) seperti berikut ini:

رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

  • bersabar dengan semua ketentuan

Barangkali beberapa keterangan di atas bisa menjadi jawaban dari apa yang bapak ibu tanyakan.  Semoga Allah mempermudah urusan kita semua serta diberikan yang terbaik menurut Allah SWT. Amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam bisshawab.


*Waka Humasy SMA Trensains Tebuireng