Semangat Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Ketika Nyantri

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Pesantren Tebuireng dan Nahdlatul Ulama)

Oleh: Muhammad Irfan Maulana*

Muhammad Hasyim Asy’ari lahir di kampung Gedang desa Tambakrejo Kecamatan Jombang pada Dzul Qa’dah 1287H atau 14 Februari 1871M. Ayahnya adalah Kiai Asy’ari bin Abdul Wahid dan ibunya adalah Halimah binti Usman. Dari garis Ibu terhitung sebagai keturunan ke empat Jaka Tingkir (Abdur Rahman) dan tersambung ke Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin). Muhammad Hasyim Asy’ari adalah putra ketiga dari sebelas bersaudara.

Pada usia 5 tahun Hasyim kecil pindah ke pesantren keras yang didirikan oleh Ayahnya dan dididik langsung oleh Ayahnya. Di sini, Hasyim mendapat banyak pengalaman baru dari Ayahnya yang telah mandiri memimpin pesantren.

Bakat kepemimpinan dan kecerdasannya membawa Hasyim sebagai anak yang cepat menguasai ilmu yang diajarkan Ayahnya. Semua yang diajarkan Ayahnya, diperhatikan dengan sungguh-sugguh hingga dalam beberapa tahun saja Hasyim kecil telah menguasainya. Kegemarannya muthola’ah secara mendiri menjadikannya memiliki pengetahuan atas kitab yang belum diajarkan pada saat usianya baru menginjak tiga belas tahun. Selain aktif belajar ilmu pesantren, Hasyim kecil juga gemar berdagang.

Pada usia 15 tahun, semangat progresifitas Hasyim muda untuk menambah pengetahuan dan meluaskan pengalaman hidupnya membawanya keluar dari Keras dan meminta izin dari orang tuanya.  Hasyim muda berkelana menimba ilmu dari berbagai tokoh dan pesantren. Beberapa di antaranya yang tercatat, yaitu Pesantren Wonokoyo di Probolinggo, Pesantren Langitan di Tuban, Pesantren trenggilis di Semarang dan Pesantren kedemangan di bawah pengajaran Syaikhona Kholil (Bangkalan) yang membuat Hasyim muda menyebrang lautan untuk pertama kalinya. Sekitar tiga tahun di Madura, Hasyim muda kembali ke Jawa dan mengunjungi pesantren di Siwalan Panji Sidoarjo pada 1981 M.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pesantren Siwalan Panji dipimpin oleh kiai Ya’qub yang terkenal dengan sebutan kiai Ya’qub Siwalan. Kedatangan Hasyim muda sebagai santri di Pesantren Siwalan panji ini sejak mula menarik perhatian sang kiai dan menumbuhkan kesan luar biasa terhadap tingkah laku perbuatan dan kecerdasaan otaknya dalam menerima segala pelajaran.

Kesan yang luar biasa ini membuat sang kiai memiliki niat untuk menikahkan santri istimewanya itu dengan putrinya yang bernama Khadijah. Kehendak sang kiai itu tidak mungkin ditolak oleh Hasyim muda, melihat latar belakangnya sebagai santri yang taat dan dunia pesantren yang menganggap bahwa hal seperti itu merupakan suatu bentuk penghormatan dan penghargaan besar kepada santri. Disisi lain, kiai Asy’ari, ayah dari Hasyim muda juga pernah mengalami hal seperti itu. Kiai Asy’ari pernah dijodohkan oleh kiai Usman dengan putrinya yang bernama Halimah (Ibu K.H. Hasyim Asy’ari) sewaktu berguru di Pesantren Tambakrejo, Jombang.

Kiai Hasyim Asy’ari tercatat juga pernah berguru kepada Kiai Soleh Darat di Semarang. Kiai Soleh Darat adalah ulama terkemuka, ahli nahwu, ahli tafsir, ahli falak, keluarga besar RA. Kartini juga pernah berguru kepada kiai Soleh Darat. Ketika kiai Hasyim berguru kepada kiai Soleh Darat, kiai Hasyim bertemu dengan Muhammad Darwis yang kelak berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Kedua sahabat itu tidak lama di Semarang karena diperintahkan segera ke Mekah untuk melanjutkan belajarnya dan kelak dua sahabat ini akan menjadi orang yang paling berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Indonesia.

Sebelum melanjutkan belajarnya ke Mekah, kiai Hasyim dijodohkan terlebih dahulu oleh kiai Ya’qub dengan putrinya, Khodijah. Sebenarnya kiai Hasyim merasa keberatan dengan keputusan itu. Karakter progresif yang haus ilmu dan pengalaman membuat kiai Hasyim belum siap menempatkan diri seutuhnya di dalam kehidupan rumah tangga. Tetapi ketaatan kiai Hasyim terhadap guru dan orang tuanya yang berkehendak, membuat kiai Hasyim menyetujui keputusan itu. Akhrinya terlaksanalah pernikahan antara kiai Hasyim dengan putri kiai Ya’qub, Khodijah pada tahun 1982.

Anggapan kiai Hasyim terkait pernikahannya dapat menghalangi cita-citanya dalam menuntut ilmu akhirnya sirna. Kiai Hasyim bersama mertua dan istrinya berkesempatan berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh kiai Hasyin, selain menunaikan ibadah haji kiai Hasyim juga menuntut ilmu di sana.

🤔  Percakapan Februari

Pada saat itu, seorang guru agama bagaimana pun alimnya dalam ilmu dan hukum islam, jika belum pernah belajar di tanah suci akan dianggap sebagai guru yang tidak memiliki ijazah meskipun memiliki pesantren besar dengan ratusan santri. Pandangan masyarakat juga akan berbeda, antara guru yang pernah belajar di mekah dengan guru yang belum belajar di Mekah.

Cabang ilmu yang paling diminati oleh kiai Hasyim pada saat itu adalah ilmu hadits, terutama kitab hadits Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim. Ketika kiai Hasyim memiliki pesantren pun, dua kitab hadits shohih ini yang menjadi minat terbesarnya dalam mengajar.

Semua yang terjadi di Mekah dilalui dengan sabar oleh kiai Hasyim. Segala rintangan yang ada tidak menyurutkan semangat beliau dalam menuntut ilmu. Tujuh tahun menetap di Mekah istri kiai Hasyim melahirkan sosok laki-laki kecil yang kelak diberi nama Abdullah. Beberapa hari setelah melahirkan istri kiai Hasyim dipanggil sang kuasa, disusul dengan putranya yang belum genap 40 hari. Kesedihan yang terjadi membuat kiai Hasyim dan mertuanya untuk kembali ke tanah air.

Hanya tiga bulan di Indonesia, kiai Hasyim kembali lagi ke Mekah dengan ditemani adiknya, anis dan saudara iparnya, kiai Alwi. Tidak lama di sana Anis meninggal dunia dan kiai Hasyim ditemani kiai Alwi saja selama tiga tahun. Kedatangan kiai Hasyim untuk kedua kalinya ini membawa beliau untuk mengenang sosok istrinya dan menjadi dorongan luar biasa untuk terus menuntut ilmu.

Kiai Hasyim selama di Hijaz mempunyai guru antara lain Syaikh Ahmad Amin al-Attar, Sayyid Sultan bin Hashim, Sayyid Ahmad Zawawi, Syaikh Ibrahim ‘Arab, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Attar, Syaikh Sa’id Yamani, Sayyid Husain al-Habshi Sayyid Bakr Shatta’, Syaikh Rahmatullah, Sayyid ‘Alawi bin Ahmad al-Saqqaf, Sayyid ‘Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Syaikh Salih Bafadal (Shahab, 1971 : 24).

Ketika bermukim di Mekah, kiai Hasyim belajar kepada Syaikh Mahfudh al-Turmusi yang berasal dari Tremas, Pacitan Jawa Timur. Dari Syaikh Mahfudh, kiai Hasyim mendapat ijazah mengajar Sahih al-Bukhari. Dibawah asuhan Syaikh Mahfudh dan Syaikh Nawawi al-Bantani, kiai Hasyim belajar tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah. Walaupun demikian kiai Hasyim melarang santrinya untuk belajar tarekat karena takut mengganggu belajar ngajinya. Kiai Hasyim juga melarang tarekat yang menyimpang dari ajaran islam.

Kiai Hasyim juga memperdalam ilmu fiqih mazhab Syafi’i kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, yang juga ahli dalam bidang astronomi (ilmu falak), matematika (ilmu hisab), dan aljabar. Syaikh Syaikh Ahmad Khatib juga ulama liberal yang mendukung kemajuan dan pembaharuan. Syaikh Khatib memperbolehkan muridnya untuk belajat keoada Muhammad Abduh di Mesir. Dari sini, kiai Hasyim memutuskan untuk belajar Tafsir al-Manah kepada Muhammad Abduh. Kiai Hasyim sangat suka dengan rasionalitas penafsiran Abduh, akan tetapi tidak menganjurkan kitab ini dibaca oleh muridnya, karena Abduh pernah mencelah ulama tradisional yang mendukung praktek-praktek islam yang dianggap tidak dapat diterima.

Relasi antara Syaikh Ahmad Khatib dan Muhammad Abduh inilah yang membawa kiai Hasyim menghargai ilmu pengetahuan sekuler dan pembaharuan yang dijalankan pembantunya di Tebuireng dengan menambahkan pelajaran ilmu umum di lingkungan Pesantren Tebuireng.

Perjalanan menuntut ilmu selama tujuh tahun di tanah air dan tujuh tahun di tanah suci menjadikan kiai Hasyim mendapatkan julukan Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari ketika pulang ke kampung halamannya. Segala rintangan dan hambatan pernah dilalui oleh kiai Hasyim dan hal itu tidak menyurutkan semangat kiai Hasyim dalam menuntut ilmu. Ketika pulang kiai Hasyim tidak membawa barang yang bersifat duniawi ke kampung halamannya, yang kiai Hasyim bawa hanyalah ilmu yang melekat di dalam dadaya, karena yang beliau butuhkan hanyalah luasnya ilmu pengetahuan untuk memajukan manusia-manusia hebat dengan spirit Islam yang luar biasa.

*Siswa Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah Seblak Jombang kelas XII IPS.