Selamat Datang Muharram, Tahun Baru Islam

Oleh: Humaeda dan Muhammad Zainal Karomi*

Bulan Muharram sebagai awal tahun Hijriah bagi umat muslim, ternyata dibalik perayaan tahun baru  hijriah terdapat banyak mitos di masyarakat, terutama bagi orang Jawa yang menganggap bahwa bulan Muharram atau dikenal bulan Suro dianggap keramat. Biasanya mereka mengadakan suatu perayaan rasa syukur yang diadakan pada malam satu Suro,  dengan membuat nasi tumpeng, lauk pauk dan sejenis hasil bumi, bahkan kepala kerbau yang semuanya dihanyutkan ke laut selatan.

Ritual ini sering ditemui di daerah pesisir selatan yang kental dengan kepercayaan pada ratu pantai selatan yang memberi berkah dan penolak bala. Anggapan lain pun  mengenai bulan Muharram bahwa tidak baik mengadakan hajatan seperti pernikahan, sunatan, yang dimana dapat mengakibatkan malapetaka.

Kepercayaan di lingkungan masyarakat menjadi tradisi yang dilakukan oleh mereka. Dalam Islam ada beberapa amalan dan doa-doa yang dianjurkan untuk dilakukan untuk menyambut bulan Muharram ini.

Membaca Do’a Akhir dan Awal Tahun

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Muharram adalah bulan awal tahun dalam kalender Hijriyah. Berbagai doa dan harapan dipanjatkan dalam pergantian tahun. Semua umat muslim berharap untuk menyongsong masa depan yang lebih baik dari tahun yang berlalu, menuju tahun yang akan dilalui. Berikut do’a akhir dan awal tahun Hijriyah:

Do’a Awal Tahun:

Sesudah shalat maghrib membaca ayat kursi  sebanyak 360 kali, dimulai dengan basmalah pada setiap kali memebaca. Kemudian membaca doa dibawah ini sebanyak 300 kali:

اللَّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِى إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَال بِحَوْلِكَ وُقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَالِى. وَصَلَّى اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Dan ditutup dengan dibawah ini:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنُ اللهِ نُوْرًا، وَتَكَوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرْجاً وَفَرْحاً وسُرُوْراً، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهَ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماَ كَثِيْراً , اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Akhir Tahun Hijriyah:

Doa ini dibaca pada akhir bulan Dzulhijjah sesudah shalat Ashar sebanyak 3 kali. Do’a tersebut sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِى هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِى عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَىَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِى وَدَعَوْتَنِى اِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَا ئَتِى عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّى اَسْتَغْفِرُكَ فَغْفِرْلِى وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِى عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْأَلُكَ اَللَّهُمَّ يَاكَرِيْمُ يَاذَ الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّى وَلاَ تَقْطَعَ رَجَائِى مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Doa Bulan Asyura’

سُبْحَانَ اللَّهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَاْلحَمْدُ للهِ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَاللهُ اَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيزَانِ وَمُنْتَهَى اْلعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَي مِنَ اللهِ إِلاَّ اِلَيْهِ. سُبْحَانَ اللَّهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا. وَاْلحَمْدُ للهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا. وَاللهُ اَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوِتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ كُلِّهَا. أَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَلَا حَوْلَا وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ اْلعَلِيُّ اْلعَظِيْمُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ.

Imam al-Ajhury mengatakan siapa saja yang membaca doa ini sebanyak 70 x maka Allah pelihara dirinya dari keburukan dalam tahun tersebut. Namun terdapat do’a yang dibaca di tanggal 10 Muharram tersebut, sebagai berikut:

أَللَّـهُمَّ ياَمُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ وَياَ مُخْرِجَ ذِى النُّوْنِ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَجاَمِعَ شَمْلَ يَعْقُوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَغاَفِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَكاَشِفَ ضُرِّ أَيُّوْبَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَساَمِعَ دَعْوَةَ مُوْسَى وَهاَرُوْنَ يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ , وَياَخاَلِقَ رُوْحِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عاَشُوْرَاءَ وَياَرَحْمَنُ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَطِلْ عُمْرِى فىِ طاَعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضاَكَ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَأَحْيِنِى حَياَةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِى عَلَى الإِسْلاَمِ وَالإِيْمأَنْ ياَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمْيَنَ

Puasa di Hari ‘Asyuro

Puasa di hari ‘Asyura ini sepertinya sudah menjadi kebiasaan Nabi SAW dan telah dilakukan sejak awal kenabian. Hal ini tersirat dari hadits berikut.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Aisyah ra. berkata Dahulu Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wassalam memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR. Al Bukhari No 1897)

Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, yang berbunyi:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها  قَالَتْ كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُومُ عَاشُورَاءَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُهُ فَلَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Bercerita kepadaku Zuhair ibn Harb, bercerita kepadaku. jarir dari Hisyam ibn ‘Urwah dari ayahnya dari Sayyidah ‘Aisyah ra berkata “Orang-orang Quraisy di zaman jahiliyah berpuasa ‘Asyura’. Rasulullah berpuasa pada hari itu juga. Ketika beliau hijrah ke Madinah beliau puasa ‘Asyura’ dan memerintahkan untuk puasa pada hari itu juga. Ketika puasa ramadhan diwajibkan, beliau berkata “Siapa yang bersedia, maka ia puasa, yang tidak bersedia, maka meninggalkannya,” (HR. Muslim Juz 3 no. 2695).

Berbagi Dengan Anak Yatim

Setelah aspek ritual dan peribadatan hablun minallah, Islam mengjarkan kita juga berbuat baik terhadap sesama. Setiap setelah perintah beribadah pada Allah, diikuti dengan ibadah sosial yang melangkapi. Do’a diatas adalah sebagai manifestasi harapan kita secara individu kepada Allah untuk kebaikan kita. Namun untuk melengkapi itu, perlu kita berbagi terhadap sesama.

Tidak ada dalil yang secara eksplisit menerangkan tentang lebaran yatim sebagai seremonial dalam tanggal dan hari tertentu. Kalau pemuliaan dan pengurusann terhadap anak yatim memang sangat dianjurkan agama, baik dalam hadits maupun al-Qur’an. Seperti yang tertera dalam ayat:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (١) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (٢) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (٣) الماعون: ١-٣

“Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak  yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin” (QS.al-Ma’un : 1-3)

Allah juga telah berfirman dalam kitab-Nya,

وَ إِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَّ ذِي الْقُرْبَى وَ الْيَتَامَى وَ الْمَسَاكِيْنَ وَ قُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْناً وَّ أَقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَ آتُوْا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنكُمْ وَ أَنْتُمْ مِّعْرِضُوْنَ.  البقرة : ٨٣

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. al-Baqarah: 83).

Dalam kitab Kanzu al-‘Ummal fi Sunani al-Aqwali wa al-Af’al, Imam Suyuthi mengutip hadits riwayat Ibn al-Mubarak:

“من وضع يده على رأس يتيم ترحما كانت له بكل شعرة تمر يده عليها حسنة . “ابن المبارك عن ثابت بن عجلان بلاغا

“Barang siapa menaruh tangannya di atas kepala anak yatim untuk menghormatinya, maka baginya setiap helai rambut yang ia pegang baginya kebaikan,” (HR. Ibn Mubarak  dari Tsabit ibn ‘Ajlan).

  (أنا وكافل اليتيم فى الجنة هكذا وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئا (رواه البخاري ، كتاب الطلاق ، باب اللعان

“Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini, Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit  merenggangkan kedua jarinya.” (HR. al-Bukhori, kitab talak bab li’an).

Dalam hadits lain:

 (عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” من قبض يتيما من بين المسلمين إلى طعامه وشرابه أدخله الله الجنة إلا أن يعمل ذنبا لا يغفر له  ( سنن الترمذي

“Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : Barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.” (HR. al-Tirmidzi dalam Sunan-nya)

Dari beberapa surat al-Qur’an dan Hadits diatas, menuunjukkan bahwa agama Islam menempatkan anak yatim dalam posisi yang tinggi, mengajarkan muslim untuk menghormati dan menyayangi mereka. Namun untuk memberikan batasan pada hari-hari tertentu, termasuk di hari ‘Asyura memang tidak ada dalil yang secara jelas menerangkan. Mengusapkan tangan di atas kepala mereka adalah bentuk Qiyas Jali, pengkiasan yang bersifat mengarah lebih berat, artinya mengusap saja dianjurkan, apalagi memberikan makanan, bantuan materi, dan menyenangkan mereka, tentu kebaikan itu akan lebih banyak lagi.

Hemat penulis, walaupun tak ada syariat tentang lebaran yatim, atau hari tertentu lain, memberi dan menyenangkan mereka adalah sebuah kebaikan. Mungkin mereka yang memilih Asyura selain karena kemuliaan bulan tersebut, juga memberikan kepuasan tersendiri, membuat hati semakin mantab. Kenapa harus disalahkan. Sebaiknya, mengambil sisi baik dari perbuatan itu, yaitu memberikan bantuan dan menghormati anak yatim sebagai perintah dan anjuran Rasulullah SAW. Yang tidak setuju, hendaknya menghargainya. Namun yang setuju, hendaknya tidak menganggap bahwa ini adalah syariat dan dianjurkan oleh Baginda Rasul memang pada hari itu, melainkan karena pilihan mereka mengingat segala keutamaan dari Asyura’ dan memberi anak yatim. Wallahu a’lam bisshawab.


*Mahasiswa UNHASY  dan Aktif di Komunitas Penulis Muda Tebuireng, Sanggar Kepoedang

*Alumni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng 

🤔  Luis Ibrahim Fernandez, Mantan Model Penjaga Marwah Islam di Tanah Andalusia