Tebuireng.online – KH. Fahmi Amrullah Hadziq datang ke Pesantren Tebuireng 2 untuk memberikan materi kepada siswa Diklat Kader Pesantren Tebuireng  angkatan ke-13 putri. Bertempat di Gedung lantai 2 SMA Trensains, beliau menyampaikan materi tentang “Mengenal Pesantren Tebuireng,” pada Rabu (30/03/2022).

Berdirinya sebuah pesantren tidak bisa dipisahkan dengan tokoh yang mendirikannya. Berdirinya sebuah pesantren pasti mempunyai sejarah berdirinya masing-masing. “Pesantren Tebuireng berdiri pada tahun 1899 M. Setelah Mbah Hasyim pulang dari Makkah beliau ingin mendirikan pesantren sendiri yang awalnya beliau tinggal bersama orang tuanya di daerah keras. Daerah yang dipilih beliau untik mendirikan pesantren adalah dusun Tebuireng- Desa Cukir. Tebuireng pada waktu itu bukanlah daerah yang nyaman, bukan daerah yang damai karena pada masa itu di cukir depatnya hadap-hadapan dengan Tebuireng ada pabrik gula. Pabrik gula tersebut merupakan pabrik milik Belanda dan di sekitar pabrik terdapat warung remang-remang,” ungkap beliau.

Lanjutnya, sebelum Pesantren Tebuireng berdiri, tantangan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim) sudah luar biasa tapi Mbah Hasyim bukan tipe orang yang gampang menyerah. Beliau siap menghadapi para jawara, para dukun-dukun hitam, dan para preman-preman. Untuk menghadapi mereka semua Mbah Hasyim meminta tolong teman-temannya yang ahli kanuragan seperti Kiai Abbas, Kiai Abdul Halim, dan beberapa kiai lainnya.

Nama Tebuireng sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Tebu. Konon asal usul nama Tebuireng ceritanya pada waktu itu ada beberapa kerbau yang berwarna hitam agak keabu-abuan berkubang di lumpur yang hitam pekat. Ketika kerbau tersebut keluar dari kubangan warnanya  berubah menjadi hitam, orang-orang pun berteriak “woi… Keboireng……Keboireng…” akan tetapi yang didengar adalah Tebuireng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pada awalnya santri Pesantren Tebuireng hanya berjumlah 2 orang. Santri tersebut tinggal satu rumah dengan Mbah Hasyim, rumah Mbah Hasyim di bagi menjadi dua, bagian depan untuk santri dan bagian belakang untuk Mbah Hasyim dan istrinya. Seiring berjalannya waktu santrinya berkembang menjadi banyak.

Pada masa kepengasuhan Mbah Hasyim di pesantren Tebuireng belum ada pendidikan formal, yang ada hanyalah pengajian dan yang ngaji langsung dari Mbah Hasyim. Pada masa itu santri-santri hanya ngaji tidak ada sekolah, karena mereka menuntut ilmu bukan menuntut ijazah. Rata-rata mereka menjadi kiai-kiai besar.

Madrasah di Pesantren Tebuireng ada setelah Kiai Wahid Hasyim berkiprah di Tebuireng, dengan nama Madrasah Nidzomiyah. Madrasah Nidhomiyah merupakan cikal bakal berdirinya Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) di Pesantren Tebuireng.

Pada tahun sekitar tahun 60-70 alumni-alumni Tebuireng disegani, jadi yang mau masuk ke Tebuireng itu tidak bisa langsung masuk akan tetapi harus mengikuti Sekolah Persiapan (SP). Tahun 1975 Pesantren Tebuireng mendirikan SMP dan SMA A. Wahid Hasyim.

Pada masa kepengasuhan KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) Pesantren Tebuireng mengalami perubahan yang luar biasa dari segi apapun. Dulu, pesantren Tebuireng sama dengan pesantren pada umumnya, tidur di karpet, dan lain-lain. Setelah diasuh Gus Sholah mulailah pembangunan-pembangun asrama yang tempat tidurnya menggunakan dipan sebagaimana Pondok Putri.

Berdirinya Pondok Putri Pesantren Tebuireng dilatarbelakangi oleh permintaan alumni-alumni Tebuireng kepada KH. Yusuf Hasyim untuk mendirikan pondok putri. Sebenarnya beliau tidak kerso (ingin) karena di sekitar Tebuireng sudah banyak berdiri pondok putri. Akan tetapi alumni tetap ngotot, akhirnya Kiai Yusuf Hasyim luluh.

Tahun 2006 Tebuireng mendirikan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.  Setelah mendirikan Ma’had Aly, tahun 2007 Gus Sholah mempunyai niatan mendirikan unit pendidikan yang seperti zamannya Mbah Hasyim, akhirnya beliau mendirikan Madrasah Mu’alimin Hasyim Asy’ari yang memang dibentuk untuk mempersiapkan santri-santri menjadi ulama.

“Tahun 2014 Gus Sholah punya keinginan ada lembaga yang mempersiapkan para ilmuwan-ilmuwan santri, akhirnya berdirilah Pesantren Sains (Tebuireng 2). Waktu itu pesantren Trensains peminatnya belum banyak seperti sekarang ini. Pesantren Trensains menjadi sekolah berbasis pesantren terbaik. Secara Nasional Trensains peringkat ke-185 dari 14 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Tahun 2018 Pesantren Tebuireng 2 mulai mendirikan SMP Trensains. Tahun 2020 Gus Sholah berpulang. MTs Sains yang berada di kesamben merupakan mimpi terakhir Gus Sholah. Tugas kita semuanya adalah untuk tetap menjaga kebesaran nama Tebuireng,” tutup beliau.

Pewarta: Almara Sukma

SebelumnyaTanamkan Kebiasaan Hidup Lewat PBB
BerikutnyaTips Mencapai Derajat Puasa Istimewa Menurut Imam Ghazali