Oleh: Indra*

Menengok Snouck Horgronje saat di Hindia Belanda

Sebelum ke Hindia Belanda ia merupakan seorang doktor muda yang lulus sekitar umur tiga puluhan. Kemudian pada tahun 1884-1885 ia mula mencoba masuk ke tanah Haramain–Makkah dan Madinah. Tentunya dengan masuk agama Islam, karena tanpa membawa nama besar Islam tidak bisa masuk ke sana. Di sana beliau juga dikabarkan disunat, dengan persaksian banyak ulama saat itu. Beliau juga banyak menulis tentang ulama Hinda Belanda yang berada di sana saat itu. Setelah 4-5 tahun kemudian, sekitar tahun 1989 ia tertarik untuk beranjak ke Hindia Belanda.

Yang menonjol dari Snock adalah komitmen dirinya–sebagai seorang sarjana–terhadap ilmu pengetahuan. Pandai berbahasa Arab–dibuktikan dengan percakannya dengan Hasan Mustopa. Memang sedikit banyak didukung oleh latar belakang lingkungannya yang kebanyakan para profesor (di Belanda) yang mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan. Khusunya pengetahuan tentang Islam dan Arab. Di Hindia Belanda ia bertemu dengan banyak orang, salah satunya Hasan Mustopa. Juga mendapat banyak akses ke tempat-tempat yang berhubungan enggan umat Islam saat itu. Ke Madiun, Yogjakarta, dan pesatren-pesantren saat itu. Sampai ia pun menikah beberapa kali di sini. Satu, dengan Siti Sadiah, puteri Raden Haji Muhammad Soe’eb, Bandung. Dikaruniai anak bernama Raden Joesuf. Kedua, dengan Sengkana, anak bupati Ciamis.

Snouck juga sering berkirim surat dengan Hasan Mustopa. Hasan Mustopa ialah salah satu informan kuat tentang kondisi Islam saat itu. Ia menceritakan tentang perang kaum Mujahidin di Aceh yang melawan Belanda–saat itu Mustopa menjadi penghulu, Snouck berada di Batavia. Selain itu ada Sayid Usman di Batavia. Dan juga Teuku Muhammad Nurdin.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tuduhan Dalang Spionase Belanda

Memang saat di Aceh Snouck menjadi penasihat Belanda. Ia melakukan penggalian informasi sebanyak mungkin. “Saya baca dalam konteks saat itu ya. Bukan pada konteks kolonialisme saat ini. Saya kira pengetahuan Snouck tentang memisah antara kekuatan ulama yang aktif di bidang Islam politik dan kaum adat (Uleebalang). Uleebalang merupakan tuah besar atau kepala daerah setempat (Aceh). Kemudian ia menginformasikan kepada pemerintah Hindia Belanda. Untuk kemudian oleh pemerintah digunakan sebagai alat pemecah belah masyarakat saat itu. Saya kita itu di luar kekuasaan Snouck–sebagai seorang sarjana,” kata Jajang A. Rohmana dalam talk show Historia.ID.

Pada masa awal pendudukan Belanda memang para uleebalang dan para ulama bersekutu melawan kekuatan Belanda. Karena uleebalang adalah pejabat kesultanan yang mendapat upah dari peradilan. Mereka bertugas menegakkan hukum Islam di tanah Aceh. Lama-kelamaan para pejabat ini melakukan penyelewengan-penyelewengan, seperti melakukan perdaganan gelap, berjudi, sabung ayam. Bobroknya sistem administrasi peradilan juga menjadi alasan kesultanan melakukan perbaikan. Perbaikan-perbaikan hal-hal tersebut dipimpin oleh para ulama. Akhirnya, terjadi kesalahpahaman di kubu uleebalang, yang menganggap bahwa para ulama akan menduduki posisi mereka.

Kemudian para uleebalang yang kalah perang diangkat kembali oleh Belanda. Namun, atas nama kekuasaan pemerintah Belanda. Para uleebalang yang khawatir kekuasaannya hilang setuju membuat perjanjian Korte Verklaring (Nur Agustiningsih, 2007). Lalu ada dua kubu yang terbentuk lantaran tindakan politik Belanda. Yakni, kubu yang sepenuhnya mendukung ulama dan sultan. Dan kubu yang mendukung uleebalang dan pro Belanda. Melalui politik tersebut Belanda berhasil melakukan aliansi kepada uleebalang, sekitar tahun 1903. Akhirnya, pada tahun 1904 rakyat Aceh berhasil dipatahkan seluruhnya.

Snock Masuk Islam

Totalitas kesarjanaan Snouck memengaruhi sikapnya. Ia rela masuk Islam–satu-satunya cara–demi menyelami sumber keislaman di Makkah dan Madinah. Dengan mengubah namanya menjadi Abdul Ghaffar. Terbukti dari surat-surat Hasan Mustopa yang meyapanya dengan “Wahai saudaraku yang muslim, Assalamualaikum” dan sebagainya. Bahkan ada yang mengatakan Snouck ikut bertarekat. Yang jelas keislaman Sncouk tidak bisa diragukan. Karena ia sudah melakukan hubungan dengan masyarakat muslim selama 20 tahun. Dengan 16 tahun dilakukan dengan masyarakat Hindia Belanda–Indonesia.

Untuk kemudian kita bisa menilai Snouck beragama apa, itu di luar pembahasan kali ini. Tapi yang terlihat saat itu adalah ia melakukan syariat Islam dengan tekun. Diungkapkan oleh anaknya–Joesuf–ia salat lima waktu, berpuasa saat Ramadan. Bukankah dalam literatur klasik kita biasa kenal dengan kaidah al-hukmu bi al-dzawahir (hukum itu yang tampak).


Disadur dari berbagai sumber

Talk show Historia.ID dengan Jajang A. Rohmana, https://youtu.be/I_i7GbZ9kyI.

Nur Agustiningsih, Konflik ulama-uleebalang 1903-1946 dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Sosial di Aceh, 2007.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaBukan Makhluk Pelengkap, Perempuan adalah Manusia Seutuhnya
BerikutnyaKedudukan Perempuan dari Masa ke Masa