Rintihan dari Sebuah Kota

131
Rintihan manusia di sebuh kota.

(sumber gambar: https://lakonhidup.com)

Oleh: Iryan Ramadani*

Senja terasa sangat cepat sekali beranjak pada hari itu. Di  sisi lain, sebuah keributan dan keramaian terjadi di sebuah jalan perkotaan. Dari segala arah menuju ke daerah perbukitan selatan. Beberapa dari mereka yang sudah dari tadi mengantri mulai mengeluarkan suara-suara teriakan. Tujuannya sama, mereka ingin cepat sampai di suatu tempat. Dan saat itu, nampak seseorang berjubah hitam dari atas gedung pencakar langit sedang memperhatikan keramaian tersebut.

Berbekal alat teleskop, pria tersebut sepertinya sudah lama berada di atas gedung. Hingga akhirnya beberapa rintik air hujan turun membasahi kota. Pria tersebut berdiri dan pergi meninggalkan gedung. Ia menyadari bahwa hujan akan semakin deras hingga membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu reda.

**********

Hujan telah turun saat menjelang malam. Tak menyurutkan niatku untuk menembus derasnya. Dengan sepeda motor yang kugunakan ini, hujan ini akan menjadi hal yang mudah untuk ditaklukkan. Aku sangat menyukai tempat yang sedang kulewati saat ini. Hutan. Entah mengapa rasanya aku ingin berlama-lama dengannya. Kala kecil, aku pernah bermain di tempat ini bersama teman sebayaku. Zaman sepertinya telah berubah dengan cepat sekali. Peradaban baru telah terlahir, dan aku pun berada dalam era yang baru.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ada alasan lain mengapa aku menyukai tempat ini. Karena memberikan ku ‘Ruang’, dari berbagia hal yang sedang menimbun di dalam pikiran. Aku dapat menyatu dengannya untuk beberapa waktu ke depan. Bagiku, pepohonan di sekeliling telah menemaniku selama berada di sini. Rusa, kerbau, kancil, dan tupai terkadang menghampiriku. Sekilas hanya untuk ku elus bulunya, dan sewaktu-waktu dapat menjadi sahabat untuk bercanda. Indah sekali.

Beberapa waktu kemudian, aku telah sampai pada sebuah pemukiman yang kumuh. tak sedikit dari mereka yang mendatangi tempat ini berasal dari kalangan imigrasi penduduk yang berasal dari ‘kaum rendah’. Tak layak, tak bersih, apalagi manusiawi. Puing-puing reruntuhan bangunan menghiasi sekitar pemukiman ini. Namun masih ditumbuhi beberapa pohon dan rumput semak belukar. Tak ada jalan beraspal, hanya ada jalan setapak yang sudah dipangkas dari rumput-rumput liar. Jalur inilah yang sering mereka lewati menuju pemukiman kumuh tersebut. Akhirnya aku sampai disebuah bangunan puing-puing reruntuhan lama tak berpenghuni, menepi lebih tepatnya. Pada sebuah bangunan reruntuhan berpintu besi tua berkarat, aku melepaskan jas yang kupakai dan mengetuk pintu.

Tok… tok… tok… Kuketuk daun pintu itu sebanyak tiga kali dengan keras. Dalam waktu yang singkat, daun pintu itu segera terbuka. Terlihat dari balik pintu berkarat tersebut muncul wajah seorang pria. Usianya sekitar 65 tahun lebih, mengenakan kaos dalam berwarna putih tipis dan celana pendek.

“Apakah kau dari tempat yang jauh dan tersesat nak?” pria itu langsung membuka percakapan.

“Ya, pak. Saya seorang penglana dan tersesat saat berada di hutan. Kebetulan saya membawa kendaraan, namun bensinnya habis. Bolehkah saya menginap untuk malam ini?” pintaku.

“Ya, boleh. silahkan masuk,” ucap pria tersebut sambil mengangguk dan mempersilakan aku masuk.

Sesaat sudah berada di dalam, aku di tuntun oleh pria tersebut ke dalam ruangan yang cukup lebar. Dengan pencahayaan yang seadanya dan kondisi sangat memperihatinkan. Beberapa orang ternyata menghuni bangunan puing-puing reruntuhan ini. Duduk bersandar disebuah tembok. Usianya bisa terbilang beragam, mulai dari ibu-ibu membawa bayi, anak-anak, dan lansia. Satu hingga tiga dari mereka melihat dengan aneh pakaian yang kugunakan, seperti tidak terbiasa. Memang kalau sebelumnya aku berpikir bahwa seharusnya menggunakan pakaian lain. Pakaian yang kugunakan bercorak garis simbol aneh, berwarna hitam panjang menutupi seluruh bagian badan kecuali kepala. Tak lama kemudian pria paruh baya tersebut menghampiriku lagi.

“Oh iya, kakek belum memperkenalkan nama. Panggil saja kakek Han. Kakek merupakan tetuah di sini, yang mengatur perpindahan penduduk asli dari kota hingga kemarin. Maaf saja, kami juga belum bisa membuat jamuan untukmu anak muda. Karena persediaan makanan kami sudah habis,” ungkapnya.

“Saya Ken, seorang pengelana kek. Mata-mata ahli yang ditugaskan untuk melihat kinerja para dewan kota. Tak usah repot-repot Kek, saya tidak membutuhkan itu. Bagaimana keadaan orang-orang dipemukiman ini kek?” tanyaku.

“Sangat memprihatinkan sekali anak muda. Kami tidak tahu lagi bagaimana mengatasi semua penyakit cacar dan campak ini. Sudah beberapa hari ini kami belum menemukan obatnya,”

🤔  Guru yang (tak) Dirindukan

Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Apa daya bagi mereka yang terus terinjak dan tertindas oleh dewan kota beserta bawahannya. Menggunakan sistem sebuah lompatan besar dalam perkembangan dan perubahan menyeluruh disetiap pelosok kota dan negri ini. Tak melihat sisi belakang, bagaimana efek samping yang ditimbulkan dari mereka perbuat. Sudah 13 tahun berlalu setelah tahun 2031, mereka mengeluarkan banyak perubahan. Aku mulai banyak menyadari bagimana nasib kota ini. Mereka, penduduk asli atau disebut kaum rendah tersingkirkan dan tertimbun jauh. Hanya yang pintar, banyak berbicara, mempunyai banyak kekuasaan yang mampu menguasai kota ini.

Tak hanya kota ini saja yang sudah mengalamai nasib seperti sekarang. Seluruh belahan kota dan negara dibelahan bumi telah berubah secara drastis. Mungkin ini terdengar kurang baik, aku menyebutnya ‘Pembersihan Pribumi’. Pemerintah menyingkirkan secara paksa kaum rendah, dari tempat pemukiman aslinya. Lalu menggunakan lahan dari tempat yang mereka tinggali untuk kepentingan pribadi. Mereka bagaikan duplikat tuhan, namun tanpa belas kasih dan adil. Namun sebenarnya merekalah yang diawasi oleh tuhan.

“Bagiamana Kakek dan beberapa orang-orang pemukiman ini mencari sesuatu untuk dimakan?” tanyaku.

“Kami mencari ikan dan menanam perkebunan sayur yang sangat banyak. Hingga kami merasa semua persediaan itu tercukupi untuk beberapa pekan. Namun naas malah sebaliknya. Pemukiman yang kami tempati tercemar oleh limbah kota pusat, lewat sungai. Tidak hanya itu saja anak muda, jika hujan tiba, hujan tersebut adalah hujan asam yang telah tercampur oleh limbah asap pabrik.

”Sudah 5 hari, kami risau karena tidak bisa menemumakn sumber makanan,” ucap kakek tersebut dengan nada rintih.

Aku hanya bisa terdiam, menatap api unggun yang kian lama telah membakar kayu bakar hingga separuhnya telah menjadi abu berwarna hitam. Membayangkan betapa kejamnya kebijakan dewan kota pada mereka. Dan harus menyalahkan siapa? Jika diperhatikan lagi, sejak  awal aku masuk bangunan ini hanya tiga anak kecil saja yang memperhatikanku dari tadi. Matanya melihatku tanpa kedip. Rasanya aneh sekali. Atau hanya perasaanku saja, dan sisanya seperti tergeletak duduk. Mungkin mereka tertidur. Tapi jika dipikir lagi, bukannya kakek tersebut mengatakan bahwa mereka kesulitan mencari sumber makanan? Tiba-tiba kakek tetuah bangunan reruntuhan ini terjatuh tanpa aku sadari. Dengan respon cepat, aku menahan badan kakek.

“Kakek sedang sakit? Biar saya yang mengobatinya. Ada obat dan beberapa makanan di dalam ransel belakang,”

“Tidak usah repot-repot nak. Biarkan pria tua ini beristirahat dengan tenang. Daripada harus merasakan banyak penderitaan dan menyaksikan banyak kesedihan,”

Tak lama setelah itu, matanya terpejam dengan perlahan. Tak kuasa aku menahan air mata yang tiba-tiba mengalir, sungguh dengan cepatnya benih kehidupan ini terenggut. Sampai berapa lama lagi, hal ini akan terus terjadi? Aku segera mengecek beberapa orang-orang yang berada di bangunan ini. Tanganku menyentuh urat nadi pada tangan dan jantung mereka. Bisa kalian bayangkan, tak ada satu pun dari mereka yang masih hidup. Dan percayalah. Tiga anak kecil yang sendari tadi memperhatikanku telah lama, mereka sudah membusuk.

15 menit berlalu setelah berada di bangunan tersebut, aku memutuskan untuk membukus mayat tersebut dengan plastik nano. Plastik tersebut dapat menggantikan bongkahan batu untuk mengubur mayat, mungkin dapat bertahan melapisi mayat hingga 2000 tahun lamanya. Hingga plastik nano bisa terurai. Hingga aku pun akhirnya meninggalkan bangunan itu.

**********

Sudah 2 bulan terakhir aku menelusuri semua sektor perkotaan hingga titik pemukiman kumuh yang ada di negeri ini. Membayangkan orang lain menjadi diriku saat ini, menyaksikan berbagai moment kehidupan dengan mudahnya terenggut oleh kekejaman dunia ini. Bagaimana mereka dapat menyebut negeri ini begitu menakjubkan? Jikalau negeri ini tidak hadir untuk rakyat mereka sendiri. Benih itu laksana sebuah kertas yang terbakar oleh bara api, maka kertas itu akan menjadi abu. Ya, perumpamaan yang tepat jika dibayangkan. Seharusnya kertas tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya dia diciptakan untuk apa.

Sesekali aku menatap langit di malam hari itu, walaupun hujan sepertinya semakin deras. Aku ingin mengadu, namun pada siapa? Tak boleh, ini tak boleh terulang kembali. Aku harus melakukan sesuatu agar siklus kehidupan terus berputar semestinya. Terus berdampingan dan tidak terpisahkan oleh keadilan.

Beberapa hal sekecil benih jagung untuk dipelajari, seharusnya tidak dibiarkan tergeletak begitu saja. Aku mulai menyadari betapa pentingnya benih kehidupan ini sangat berarti sekali. Entah untuk suatu hari mungkin saja untuk bagiku atau orang lain. Aku berharap kalian juga memikirkan bila berada dalam posisiku saat ini.

Di zaman yang sudah banyak mengalami perubahan secara signifikan dan luar biasa berubah. Pasti bukan hanya aku dan orang tua lainnya untuk memberitahu kepada anak mereka, bagaimana menghindari agar tak menjadi orang yang tidak dihargai. Lalu bagaimana cara menyelesaikannya? Aku pun belum menemukan jawaban yang pasti. Tapi, jika kalian boleh tahu masalah yang terjadi masih banyak lagi. Aku harap kalian akan menemukan untuk jawabannya bila kalian sama sepertiku sekarang, bila waktunya telah tiba.

*Penulis merupakan seorang siswa kelas x IPS 1 di SMA A. Wahid Hasyim Tebuireng.