KH. Salahuddin Wahid saat menjelaskan ide atau gagasan tentang usaha bersama Pesantren se-Jombang di Aula Bachir Achmad Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3 Pesantren Tebuireng sore tadi (05/06/2017). (Foto: Masnun).

Tebuireng.online—Menindaklanjuti gagasan penguatan perekonomian pesantren di Jombang dengan membentuk usaha bersama, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, mengundang beberapa pimpinan Pondok Pesantren se-Jombang di Aula Bachir Achmad Gedung KH. M. Yusuf Hasyim lantai 3 sore tadi (05/06/2017).

Undangan tersebut selain dalam momen buka bersama, juga mendiskusikan dan penyamaan persepsi antar pemimpin pesantren se-Jombang terhadap ide atau gagasan tersebut. Beberapa perwakilan pesantren se-Jombang yang hadir, ada perwakilan dari Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Bahrul Ulum Tambak Beras, at-Tahdzib Ngoro, as-Shiddiqiyah Ploso, Hamalatul Quran Jogoroto, dan beberapa pesantren lain.

Gus Sholah menyampaikan, bahwa di Jombang ini ada sekitar 248 pondok pesantren baik besar maupun kecil. Dengan ide pengembangan ekonomi itu, Gus Sholah menginginkan adanya kemandirian finansial pesantren se-Jombang. Gus Sholah menceritakan ada konglomerat yang siap membantu, sedangkan pesantren-pesantren tinggal menentukan konsep dan mewujudkannya.

“Konsep itu sebenarnya mudah, tidak lebih muda lagi adalah menjalankan konsep itu,” ungkap Gus Sholah. Beliau mencontohkan pesantren yang dapat memberdayakan potensi ekonomi adalah Pesantren al-Hikmah Surabaya pimpinan KH. Abdul Kadir Baraja yang sukses mendirikan pasar melalui dunia maya. Gus Sholah mengaku lebih condong kepada pendirian koperasi bersama.

Menyambung Gus Sholah, H. Baidhowi Yusuf menjelaskan pentingnya usaha bersama pesantren se-Jombang. “Jangan kita bersatu saat ada penistaan agama saja, tapi mari bersatu kapan saja dan dalam urusan apa saja,” jelas Gus Dhowi panggilan akrab beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Gus Dhowi menerangkan ada beberapa potensi usaha yang bisa dijalankan oleh kolaborasi pesantren se-Jombang, seperti agen LPJ, agen beras bulog, minyak goreng langsung pabrik, sarung, kain, air kemasan, wisata religi, pabrik roti, peternakan ikan tawar, penyaluran kredit bergulir margin kecil dan usaha-usaha lainnya.

Pengasuh Pesantren Walisongo Cukir, KH. Jamiluddin menjelaskan bahwa memang perlu adanya organisasi usaha yang khusus dibentuk untuk menguatkan ekonomi pesantren. Namun beliau memperingatkan agar usaha-usaha yang dilakukan dapat menarik minat pesantren-pesantren yang ada, semisal dengan tanpa riba atau 0% bunga, sehingga selain manarik juga islami.

Pada pertemuan itu, disepakati dibentuknya panitia untuk menentukan kepengurusan, di antaranya H. Baidhowi sebagai koordinator, dibantu dengan beberapa kiai seperti Kiai Amin dari RMI Jombang, Ketua PCNU Jombang KH Salmanudin Yazid Al Hafidz (Gus Salman), dan beberapa perwakilan dari Denanyar, Tambak Beras, ash-Shiddiqiyah dan tim dari Pesantren Tebuireng.


Pewarta:    M. Abror Rosyidin

Editor:       MAR

Publisher:  MAR

SebelumnyaKPID: Saatnya Dai Pesantren Belajar Tampil ‘Keren’
BerikutnyaNgabuburit ala Santri Tebuireng